14.000 — tepat hari ini (31/10) pukul 18.00, Bitcoin berhasil menembus level 14.000, mencatatkan rekor tertinggi baru dalam dua tahun terakhir. Aroma bull market semakin kental.
Namun, menghadapi kenaikan harga Bitcoin yang terus-menerus mencetak rekor baru, ada yang bersukacita dan ada pula yang berduka. Mereka yang bersukacita adalah para “HODLer” yang selama ini memiliki keyakinan teguh terhadap Bitcoin; sementara mereka yang berduka adalah para trader yang gagal masuk pasar (FOMO), serta para pengguna yang asetnya terkunci di OKEx.
Pada siang hari tanggal 16 Oktober, OKEx tiba-tiba mengumumkan penangguhan penarikan dana (withdrawal), tanpa memberikan waktu persiapan yang memadai.
Beberapa pengguna OKEx, karena panik, menjual USDT dengan diskon besar-besaran; sementara pengguna lain yang memiliki toleransi risiko tinggi justru memanfaatkan momen tersebut untuk membeli dengan harga rendah. Suasana pun menjadi sangat tegang. Apa sebenarnya yang terjadi pada OKEx? Apakah aset di dalam OKEx masih aman? Di mana batas atas harga cryptocurrency jika regulasi semakin ketat dan lembaga institusional mulai masuk pasar? Jika CEX melemah, apakah DEX akan bangkit? Di tengah kegilaan DeFi, peluang apa yang tersedia bagi DEX?
Kemarin, studio siaran langsung ChainNode mengundang Shi Yeda (CMO CoinC, “Si Yeda”), Cun Tou Er Jiu (pendiri Crypto Erguotou), dan Xiao Wei (Head of Growth & Operations Tokenlon), untuk melakukan wawancara mendalam mengenai “Insiden Penangguhan Penarikan Dana oleh OKEx”.
Tinjauan Ulang Insiden Penangguhan Penarikan Dana
Shi Yeda merupakan salah satu pelaku langsung dari “Insiden Penangguhan Penarikan Dana oleh OKEx”. Saat ini, saat mengenang kembali peristiwa tersebut, ia merasa berbagai emosi bercampur aduk.
Shi Yeda mengenang bahwa mainnet Filecoin diluncurkan pada tanggal 15 Oktober, dan perdagangan sangat ramai. Keesokan harinya, OKEx mengubah sebagian aturan kontrak berjangka FILUSDT, termasuk menghilangkan premium kontrak FIL. Shi Yeda memanfaatkan kesempatan ini dengan membuka posisi long FIL. Pada pagi hari tanggal 16 Oktober, tiba-tiba muncul kabar di komunitas bahwa OKEx akan menangguhkan penarikan dana pukul 13.00. Shi Yeda melihat jamnya dan berpikir masih sempat menutup posisinya, lalu menarik dananya. Namun tak lama kemudian, pengumuman resmi mengubah waktu penangguhan menjadi pukul 12.00, dan kemudian diubah lagi menjadi pukul 11.00. Pada titik ini, sudah tidak mungkin lagi menarik dana — aset secara paksa terkunci di dalam platform.
Setelah kejadian ini, Shi Yeda — yang sebelumnya telah melewati turbulensi “9.4” — tidak mengalami kepanikan berlebihan. Pengumuman menyatakan penarikan dana ke luar platform tidak dimungkinkan, tetapi apakah transfer aset antar-akun di dalam platform masih bisa dilakukan? Shi Yeda dan beberapa temannya menguji fungsi tersebut dan menemukan bahwa tidak ada masalah. Saat itu, harga OKU turun signifikan dibandingkan platform lain. Menurut Shi Yeda, harganya cukup murah, sehingga tak lama setelah pengumuman, ia mulai membeli OKU di pasar over-the-counter (OTC). Dari sudut pandang komunitas, kemungkinan besar ia adalah orang pertama yang melakukan hal ini.
Untuk membeli sebanyak mungkin OKU, Shi Yeda memposting di WeChat Moments menyatakan bersedia membeli dengan harga premium. Tak disangka, saat proses pembelian berlangsung, ia justru menemukan dirinya berada di puncak (harga OKU yang dibeli hari pertama adalah 6,3 USDT, kini turun menjadi 5,02 USDT).
Alasan utama Shi Yeda berani membeli OKU sejak awal bukan hanya karena telah terbiasa menggunakan OKEx untuk trading kontrak berjangka, tetapi juga karena kepercayaannya yang besar terhadap OKEx.
“Pangsa pasar OKEx di antara bursa cryptocurrency sangat signifikan. Jika benar-benar terjadi insiden kolektif skala besar, saya yakin hal ini bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh negara maupun pihak-pihak tertentu. Selain itu, setelah mengamati selama beberapa hari, hampir semua pelaku di industri crypto memiliki aset di OKEx, baik dalam jumlah besar maupun kecil.”
Pengalaman pendiri Crypto Erguotou, Cun Tou Er Jiu, mirip dengan Shi Yeda: ia juga mengetahui kabar penangguhan penarikan dana OKEx saat sedang bermain kontrak FIL. Namun, berbeda dengan Shi Yeda, posisi kontrak FIL milik Er Jiu mengalami liquidasi. Aset yang digunakan untuk trading kontrak FIL memang tidak banyak, dan setelah habis total, persoalan penarikan dana pun tidak relevan lagi.
Siapa yang Membeli dan Menjual OKU?
Menurut Shi Yeda, pada periode awal pasca-insiden, mayoritas penjual adalah investor ritel yang menjual aset karena panik. Sementara pembeli utama OKU adalah para KOL, beberapa di antaranya bahkan aktif membeli dengan harga rendah di Weibo.
Seiring berjalannya waktu, sejumlah modal besar mulai kehilangan ketahanan, misalnya dana dari lembaga kuantitatif dan para penambang. Modal besar ini memiliki biaya modal tersendiri; ketika dana terkunci di OKEx, mereka tidak dapat membayar bunga kepada investor, sehingga tekanan yang ditimbulkan menjadi sangat besar. Oleh karena itu, mereka lebih memilih menjual aset dengan diskon agar likuiditas dana kembali tersedia, lalu memindahkan dana tersebut ke bursa lain untuk melanjutkan aktivitas trading kuantitatif dan membayar bunga kepada investor.
Sedangkan pihak yang menyerap aset dari modal besar tersebut adalah institusi-institusi yang memiliki keyakinan kuat terhadap OKEx, seperti investor institusional, bursa kripto lain, dan mitra ekosistem OK. Mereka meyakini bahwa OKEx tidak bermasalah dalam jangka panjang.
Apakah OKU Akan Bernilai Nol?
Menurut pandangan Shi Yeda, probabilitas OKU bernilai nol hampir mendekati nol — seperti pepatah: “Siapa yang mau membunuh ayam yang bertelur emas?”
Apakah OKEx Telah Keluar dari Panggung?
Apakah OKEx akan tersingkir dari “Tiga Besar” akibat insiden ini? Dan apakah insiden ini akan berdampak luas terhadap industri secara keseluruhan? Mengenai pertanyaan ini, Shi Yeda berpendapat bahwa kepercayaan banyak pengguna telah hilang pasca-insiden. Jika OKEx kembali membuka layanan penarikan dana, maka baik institusi maupun investor ritel pasti akan memindahkan dana mereka ke bursa lain. Namun, secara logika, begitu OKEx kembali membuka layanan penarikan dana, justru OKEx menjadi bursa paling aman, karena hal ini menandakan bahwa semua masalah telah terselesaikan. Namun dari perspektif dampak insiden saat ini, kemungkinan besar struktur “Tiga Besar” akan mengalami perubahan, dan pengguna OKEx akan berpindah ke bursa lain.
Teman-teman Er Jiu yang aktif trading kripto umumnya berada di Huobi dan Binance, sedangkan pengguna OKEx untuk spot trading relatif sedikit. Oleh karena itu, menurut Er Jiu, bahkan jika OKEx tidak dapat beroperasi lagi, dampaknya terhadap industri secara keseluruhan tidak signifikan, namun dampaknya terhadap pengguna individu yang mengandalkan OKEx sangat besar. Mengenai apakah kebangkrutan suatu bursa akan memberikan dampak besar terhadap harga Bitcoin, Er Jiu juga berpendapat bahwa dampaknya terbatas.
“Yang memengaruhi pasar secara keseluruhan bukanlah platform perdagangan, melainkan lembaga-lembaga besar atau tokoh-tokoh berpengaruh di luar komunitas kripto. Karena situasinya kini berbeda dengan tiga tahun lalu: komunitas kripto kini telah ‘go mainstream’, dan pihak-pihak yang menentukan harga bukan lagi pelaku dalam komunitas, melainkan banyak institusi di luar komunitas.”
Apa yang Harus Dilakukan Pengguna OKEx?
Saran Shi Yeda adalah: bagi sebagian besar investor ritel, gunakan dana yang tidak dibutuhkan dalam jangka pendek. Saat ini, OKU dapat dipandang sebagai produk investasi berimbal hasil 20% (harga pasar OKU saat ini adalah 76% dari harga di platform lain), sehingga jika OKEx kembali membuka layanan penarikan dana, investor kemungkinan besar akan memperoleh keuntungan sekitar 20%.
Bagi pengguna yang aktif trading kontrak berjangka, insiden ini justru merupakan kesempatan bagus untuk berlatih. Membeli OKU dengan harga rendah untuk trading real-time merupakan pilihan yang sangat menguntungkan.
Bagi lembaga yang terlibat dalam perdagangan kuantitatif, jika mengalami tekanan likuiditas dana, disarankan untuk menukar aset guna memperoleh likuiditas dana dengan diskon.
Saran Er Jiu adalah, bagi pemula atau pengguna biasa, jangan meletakkan kepercayaan mutlak pada bursa. Bursa hanyalah tempat transaksi—seperti sebuah penginapan: setelah menginap dan membayar, Anda pun pergi. Er Jiu tidak menyarankan teman-teman untuk berlatih kontrak di OKEx dalam waktu dekat.
Bagi pengguna yang memiliki kebutuhan investasi rutin (dollar-cost averaging), dapat menarik aset secara berkala—misalnya setiap sebulan sekali—sehingga, bahkan jika terjadi masalah besar, kerugian yang ditanggung hanya terbatas pada dana yang belum ditarik.
Bagi pengguna dengan dana besar, dalam batas yang diizinkan oleh hukum, dapat memanfaatkan sumber daya pribadi untuk memantau tokoh inti bursa guna mencegah pelarian (exit scam). Begitu terjadi masalah, segera laporkan ke pihak berwenang.
Riak terus-menerus di CEX—Apakah DEX akan bangkit kembali?
Ledakan mining likuiditas pada bulan Juni lalu sempat membuat DEX bersinar, sementara CEX tampak redup sejenak. Kini, token DeFi telah jatuh tajam dari harga puncaknya, sehingga pemegang token mengalami kerugian besar, sehingga ada yang menyebut DeFi berakhir dalam kekacauan total.
Mengenai hal ini, Xiao Wei, Kepala Operasi Pertumbuhan Tokenlon, memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, lonjakan eksplisit DEX kali ini didorong oleh tren mining likuiditas yang diluncurkan Compound pada bulan Juni. Setelah beberapa bulan berkembang, proses transisi dari masa kejayaan puncak menuju ketenangan adalah hal yang sangat wajar—jika tidak demikian, maka bertentangan dengan hukum fisika: segala sesuatu pasti mengalami puncak dan lembah sebelum akhirnya stabil.APY tinggi dari mining likuiditas tidak berkelanjutan, melainkan hanya strategi awal (cold start) untuk menarik pengguna.
Dilihat secara retrospektif, gelombang DeFi akibat mining likuiditas ini tidak berujung pada kekacauan total. Xiao Wei menjelaskan bahwa jumlah pengguna keseluruhan DeFi telah meningkat dari sekitar 300.000 pengguna beberapa bulan lalu menjadi lebih dari 600.000 pengguna saat ini—menunjukkan adanya pertambahan pengguna baru yang nyata. Selain itu, lihatlah nilai total yang dikunci (TVL). Misalnya, TVL Uniswap kini stabil di sekitar USD 3 miliar, dan kedalaman pasar serta stabilitas harga banyak pasangan perdagangan di platform tersebut sudah tidak kalah dibandingkan bursa terpusat. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna benar-benar “memilih dengan aset mereka”.
Tentu saja, pengalaman pengguna (UX) DEX masih memiliki ruang peningkatan yang signifikan.
Er Jiu telah mencoba sebagian besar produk DeFi di pasar, dan kesan umumnya adalah: pengalaman pengguna sangat buruk—terasa sangat lambat. Terutama antarmuka Curve (CRV), rasanya seperti kembali ke era ponsel Nokia. Jika pengalamannya buruk, mengapa masih digunakan? Jawabannya sederhana: seperti memilih istri di masa kelaparan—bukan karena suka, melainkan karena tidak ada pilihan lain. Produk DeFi memang tidak nyaman digunakan, tetapi jika tidak menggunakannya, maka sama sekali tidak ada alternatif.
Untuk perkembangan DEX yang lebih baik, Xiao Wei berpendapat bahwa tiga aspek berikut harus menjadi fokus utama saat ini: pertama, performa—bukan hanya tanggung jawab DEX, tetapi juga rantai blok (blockchain) dasar. Kedua, loss tak tetap (impermanent loss). Misalnya, Bancor telah mengambil langkah-langkah tertentu untuk mengatasi masalah loss tak tetap ini. Ketiga, eksplorasi aset berkualitas tinggi dan mekanisme inovatif baru. Ledakan DEX kali ini terjadi karena sejumlah aset berkualitas relatif tinggi diluncurkan pertama kali di DEX.
