Serangan terhadap Lendf.me dan insiden nol dolar di MakerDAO belakangan ini telah menyorot DeFi ke hadapan publik, sekaligus memicu refleksi mendalam tentang kondisi nyata dan tantangan ke depan bagi ekosistem ini. Sejak 2019, konsep DeFi memang semakin populer dan disambut antusias oleh para pelaku industri. Namun, saat pasar kripto anjlok pada Maret lalu, banyak proyek DeFi terbukti memiliki kelemahan serius dalam desain kelembagaan dan keamanan teknis. Total nilai terkunci (TVL) di seluruh ekosistem DeFi pun turun drastis. Lantas, apa saja tantangan utama yang dihadapi DeFi saat ini? Bagaimana prospek perkembangannya di masa depan?
Hari ini, OKEx bekerja sama dengan Carbon Value menggelar dialog daring bertajuk “Era Pasca-Pandemi: Peluang dan Tantangan bagi DeFi” di dalam “Grup Media Blockchain”. Kami beruntung dapat mengundang empat profesional berpengalaman untuk berbagi pandangan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mereka adalah: Cao Yin dari Digital Renaissance Foundation; Yang Xia, Pendiri & CEO Chengdu ChainSafe; Pan Chao, Kepala Wilayah Tiongkok MakerDAO; serta William, Peneliti Utama OKEx.
Berikut adalah transkrip lengkap dialog tersebut:
Pertanyaan: Bagi banyak orang, DeFi adalah konsep yang terasa akrab sekaligus asing—hingga kini, definisinya masih kabur. Sebagai contoh sederhana, secara harfiah DeFi berarti “Keuangan Terdesentralisasi”. Namun dalam keuangan tradisional, pinjaman peer-to-peer (P2P) juga punya ciri “terdesentralisasi”, tapi jelas bukan bagian dari DeFi. Jadi, kami ingin bertanya: Menurut Anda, apa sebenarnya DeFi itu? Kami persilakan Cao Yin untuk menjawab pertama.
Cao Yin: Nama DeFi sendiri agak menyesatkan—desentralisasi bukanlah tujuan akhir, melainkan sekadar sarana. Menurut saya, DeFi bukan merujuk pada teknologi atau produk tertentu, melainkan sebuah gerakan dan arus pemikiran: yaitu upaya memanfaatkan perangkat lunak sumber terbuka (open-source software) dan jaringan terdesentralisasi untuk mengubah produk keuangan menjadi protokol yang transparan, dapat beroperasi tanpa perantara tepercaya, dan bebas dari intervensi pusat.
Kelebihan DeFi tidak terletak pada desentralisasinya, tapi pada sifatnya yang *permissionless* (tanpa izin), bebas perantara, dan otomatis—bergeser dari P2P (peer-to-peer) menjadi P2C (peer-to-contract). Dengan begitu, risiko pihak lawan (*counterparty risk*) dalam sistem keuangan tradisional berhasil dihilangkan.
Sebagai gantinya, muncul risiko baru yang bersumber dari *contract*, seperti keamanan protokol dan manipulasi harga. Namun, semua risiko dari *contract* ini bersifat terbuka: bisa dimodelkan sebelumnya, serta cepat terdeteksi dan ditangani setelah terjadi.
Yang Xia: Saya memaknai DeFi sebagai Keuangan Terdesentralisasi (*Decentralized Finance*), atau juga disebut Keuangan Terbuka (*Open Finance*). Ini adalah salah satu bidang paling populer dalam ekosistem blockchain dua tahun terakhir. DeFi berupaya memanfaatkan teknologi blockchain untuk mengatasi kelemahan sistem keuangan tradisional yang terpusat, seperti proses verifikasi yang rumit, kurang transparan, strukturnya timpang, dan berisiko dalam transaksi.
Industri DeFi bisa dibagi lagi menjadi subsektor seperti mata uang stabil (*stablecoin*), pinjaman (*lending*), pembayaran (*payments*), derivatif (*derivatives*), bursa terdesentralisasi (*decentralized exchanges/DEX*), dan aset digital. Dalam sistem DeFi, pengguna punya kendali penuh atas aset dan data pribadinya saat mengakses layanan keuangan. Platform DeFi juga sangat terbuka—siapa pun dari mana pun bisa ikut serta kapan saja. Dibanding model keuangan tradisional, DeFi tidak hanya lebih transparan, tapi juga menjalankan seluruh protokol keuangan secara otomatis lewat *smart contract*, sehingga secara signifikan mengurangi berbagai risiko potensial seperti biaya intervensi manusia dan rasio kredit macet (*bad debt ratio*).
Pan Chao: Soal definisi DeFi, saya pernah bahas sebelumnya—dan di sini saya ingin tekankan lagi bahwa, seperti kebanyakan istilah blockchain lainnya, DeFi adalah slogan promosi yang modis dan mudah diucapkan, terdengar “keren dan hebat”, tapi bukan gambaran akurat atas kenyataannya. Slogan ini membuat desentralisasi keuangan terkesan seperti hasil yang sudah tercapai, bukan proses yang masih berjalan. Makanya, wajar jika DeFi memicu salah paham, ambiguitas, dan polarisasi.
Saat membahas keuangan terdesentralisasi, kita sering menjadikan desentralisasi (*blockchain*) sebagai subjek utama, lalu mendiskusikan serta merancang aplikasi dan protokol bernuansa keuangan. Tapi, untuk memahaminya secara lebih komprehensif dan sistematis, saya lebih suka menjadikan keuangan sebagai subjek utama, lalu mempertanyakan: bidang mana yang bisa didesentralisasikan, dan apa manfaatnya?
Distribusi (*distributed*) bukan fitur eksklusif blockchain; sementara transparansi, ketahanan terhadap sensor (*censorship resistance*), dan ketidakdapat-diubah (*immutability*) justru sulit diintegrasikan ke industri keuangan. Menurut saya, inti dan keunggulan utama keuangan terdesentralisasi ada pada prinsip “*permissionless*” (tanpa izin).
Prinsip *permissionless* punya tiga tingkatan: *permissionless* bagi pengembang, *permissionless* bagi pencatat (*ledger*), dan *permissionless* bagi pengguna—yang masing-masing berkaitan dengan keterbukaan kode sumber (*code open-source*), rantai publik (*public chain*), dan akun terbuka (*open account*). Selama suatu proyek keuangan memenuhi syarat *permissionless* bagi pengguna, maka proyek itu bisa dikategorikan sebagai keuangan terdesentralisasi. Adapun *permissionless* bagi pengembang dan pencatat umumnya butuh pertimbangan matang antara efisiensi, keamanan, dan tingkat desentralisasi.
William: Konsep DeFi pertama kali diperkenalkan oleh Brendan Forster, pendiri proyek Dharma. Pada Agustus 2018, Forster mempublikasikan artikel berjudul “Announcing De.Fi, A Community for Decentralized Finance Platforms” di Medium, yang secara resmi memperkenalkan konsep DeFi (*Decentralized Finance*)—menandai kelahirannya. Hanya proyek yang memenuhi keempat syarat berikut yang bisa disebut sebagai DeFi sejati.
Pertanyaan: Terima kasih atas paparan menarik para pembicara tentang DeFi. Sekarang kita lanjut ke pertanyaan kedua. Saat ini, dua proyek—MakerDAO dan Compound—mendominasi sebagian besar pangsa pasar, dengan MakerDAO sendiri menyumbang 53,3% dari total nilai terkunci (*total value locked/TVL*) di seluruh ekosistem DeFi. Bagaimana pandangan Anda tentang fenomena “hukum 80-20” (*Pareto principle*) yang muncul di ranah DeFi ini? Apakah ini bertentangan dengan klaim desentralisasi DeFi? Pertanyaan ini cocok untuk Pan Chao—kami persilakan Pan Chao menjawab dulu.
Pan Chao: Sebenarnya, pangsa pasar awal Maker pernah lebih dari 80%. Munculnya raksasa pasar bukan hal buruk—justru menunjukkan bahwa efek skala (*scale effect*) sudah terbentuk.
Maker adalah protokol lapis dasar (*base layer protocol*), jadi aplikasi apa pun bisa dibangun di atasnya. Faktanya, 90% aplikasi DeFi menggunakan Dai. Bagi pengembang, tidak ada hambatan operasional dalam membangun aplikasi DeFi—mereka bisa memanfaatkan alat sumber terbuka (*open-source tools*) yang ada untuk melakukan iterasi cepat dan memanfaatkan efek jaringan (*network effect*) bawaan.
Dari sisi pengguna, cukup dengan dua belas kata sandi pemulihan (*recovery phrase/mnemonic*), seseorang sudah bisa punya akun untuk melakukan transfer, perdagangan, pinjaman, dan aktivitas lainnya. Tingkat keterbukaan seperti ini mustahil dicapai sistem keuangan tradisional—tanpa batasan, tanpa prasangka. Distribusi nilai terkunci (*TVL*) hanyalah satu dimensi untuk mengukur tingkat desentralisasi.
Cao Yin: Saya juga berpendapat ini tidak bertentangan. Ciri khas DeFi adalah sifatnya yang *permissionless* dan bebas perantara, sehingga aset bisa berpindah hampir tanpa gesekan (*frictionless*) antar-protokol. Akibatnya, aset akan mengalir ke protokol-protokol unggulan (*top-tier protocols*), yang kemudian menciptakan efek skala: semakin besar aset dalam suatu protokol, semakin baik likuiditasnya, semakin efektif sinyal harganya, dan semakin rendah biaya modalnya.
Sebaliknya, dalam sistem keuangan tradisional berbasis perantara, ada berbagai hambatan antar-lembaga—bahkan ada pembatasan modal (*capital controls*) oleh pemerintah—sehingga biaya perpindahan dana lintas produk, platform, dan negara sangat tinggi. Saat ini, fintech internet beroperasi secara terpusat: mengumpulkan berbagai produk keuangan dalam satu platform besar untuk menekan biaya perpindahan dana lintas produk. Sedangkan DeFi melangkah lebih jauh—dana bisa berpindah tanpa gesekan di sepanjang batas rantai publik (*public chain*). Nanti, dengan implementasi teknologi lintas-rantai (*cross-chain*) Polkadot, batas antar-rantai publik pun akan runtuh, sehingga terwujud perpindahan dana yang benar-benar tanpa gesekan (*truly frictionless*). Saat itu terjadi, efek skala protokol-protokol unggulan akan semakin nyata.
Selain itu, protokol-protokol unggulan seperti Maker dan Compound adalah komponen dasar ekosistem DeFi—yang kita sebut *DeFi Primitives* (*primitif DeFi*). Aset protokol mereka, yakni DAI dan *CToken*, juga menjadi aset dasar bagi protokol DeFi tingkat kedua (*secondary DeFi protocols*). Jadi, aset yang terkunci di Maker dan Compound pada dasarnya juga terkunci di protokol-protokol lainnya.
Lebih jauh, *TVL* hanyalah salah satu indikator penting untuk mengukur signifikansi protokol DeFi—volume perdagangan (*trading volume*) juga indikator krusial. Misalnya, protokol DEX seperti Uniswap dan Loopring memang punya *TVL* yang relatif rendah, tapi volumenya sangat tinggi. Makanya, penting untuk tidak hanya mengandalkan *TVL* dalam menilai pentingnya suatu protokol DeFi.
Pertanyaan: Selanjutnya, ada dua peristiwa besar di ranah DeFi yang menarik perhatian dan memicu banyak diskusi selama pandemi. Pertama, insiden "penawaran nol" (zero bid) yang menimpa MakerDAO pada Maret lalu akibat krisis likuiditas global, yang diduga karena kelemahan desain mekanisme. Kedua, serangan peretasan terhadap Lendf.Me pada 19 April yang menyebabkan kerugian besar bagi proyek dan penggunanya. Pertanyaan kami untuk Profesor Pan Chao: Apa yang sebenarnya menyebabkan insiden "penawaran nol" di MakerDAO? Apakah ini memang cacat desain mekanisme? Langkah perbaikan apa yang sudah diambil sejak saat itu?
Pan Chao: Penyebab utamanya adalah kemacetan jaringan Ethereum yang luar biasa parah. Biaya gas yang melonjak hingga ratusan kali lipat membuat bot yang seharusnya mengikuti lelang gagal mengirimkan penawarannya. Pasca insiden, protokol Maker melakukan beberapa penyesuaian, seperti memperpanjang durasi lelang dan menambahkan mekanisme pemutus (circuit breaker) untuk mengantisipasi kejadian serupa di masa depan. Sejak penyesuaian itu, semua lelang jaminan (collateral) berjalan normal. Selain itu, sistem berhasil melakukan restrukturisasi utang melalui mekanisme pengenceran otomatis token MKR, sehingga berubah dari rugi menjadi untung. Peristiwa ini menjadi ujian ketahanan (robustness) bagi protokol Maker dan juga jaringan Ethereum itu sendiri.
Pertanyaan: Mengenai serangan peretasan terhadap Lendf.Me, kami ingin bertanya kepada Ibu Yang Xia: Bagaimana cara serangan ini dilakukan? Langkah pencegahan keamanan apa yang bisa diambil?
Yang Xia: Ini adalah insiden keamanan yang baru terjadi. Penyerang memanfaatkan celah keamanan reentrancy untuk memanipulasi saldo dana mereka sendiri, sehingga jumlah yang bisa ditarik terus berlipat ganda hingga akhirnya menyedot semua aset di Lendf.Me. Menariknya, pelaku kemudian secara bertahap mengembalikan dana yang dicuri. Berikut adalah proses serangan yang dilakukan:
Alamat penyerang: 0xA9BF70A420d364e923C74448D9D817d3F2A77822; Kontrak yang diserang: 0x538359785a8D5AB1A741A0bA94f26a800759D91D. Pelaku awalnya melakukan beberapa percobaan serangan (seperti terlihat pada gambar di bawah):

Pada transaksi ketiga setelah kontrak di-deploy, yaitu transaksi 0xe49304cd3ed, pelaku melakukan percobaan serangan pertama:

Di tahap awal, skrip transaksi yang digunakan pelaku masih memiliki kekurangan. Hanya serangan pertama dalam satu blok yang berhasil, sementara transaksi berikutnya selalu gagal (exception).
Kemudian, pelaku memodifikasi skrip serangannya sehingga hanya mengirim satu transaksi per blok. Mari kita analisis tiga transaksi yang berhasil ini—terlihat dana pelaku berkembang secara eksponensial (berlipat ganda), artinya serangan mulai mendatangkan keuntungan:


Hash transaksi: https://etherscan.io/tx/0xae7d664bdfcc54220df4f18d339005c6faf6e62c9ca79c56387bc0389274363b


Hash transaksi: https://etherscan.io/tx/0xf8ed32d4a4aad0b5bb150f7a0d6e95b5d264d6da6c167029a20c098a90ff39b4
Pada titik ini, pelaku telah memastikan proses serangan berjalan sempurna. Transaksi selanjutnya adalah pelaku mendaftarkan beberapa alamat token untuk melakukan pertukaran:



Melalui proses pelipatgandaan berulang ini, pada transaksi 0xced7ca81308, jumlah imBTC yang tersedia telah mencapai kapasitas maksimum di platform.

Selanjutnya, pelaku menggunakan imBTC yang didapat untuk meminjam token lainnya, seperti terlihat pada gambar berikut:

Rekomendasi pertahanan keamanan: Proyek DeFi tengah berkembang pesat. Data kami menunjukkan, hingga 2020, aset yang terkunci dalam aplikasi DeFi berbasis Ethereum telah mencapai USD 1 miliar. Daya tarik utama DeFi berasal dari imbal hasil tinggi yang ditawarkannya. Namun, imbal hasil setinggi 8%–10% itu tentu saja disertai risiko yang besar.
Berbagai tim DeFi bebas mengembangkan kontrak pintar mereka sendiri, namun belum ada standar keamanan yang wajib diikuti atau audit ketat yang menjadi syarat mutlak. Akibatnya, celah keamanan pada kontrak dan masalah terkait terus bermunculan. Dalam insiden kali ini, seharusnya proyek telah menerapkan perlindungan terhadap serangan reentrancy—misalnya dengan menggunakan ReentrancyGuard dari OpenZeppelin—dan memperbarui variabel status kontrak sebelum melakukan pemanggilan eksternal.
Chengdu ChainAmen memberikan saran berikut: Setiap tim DeFi harus menangani keamanan kontrak dengan serius selama pengembangan, mengantisipasi berbagai skenario tak terduga dan penggunaan di luar spesifikasi untuk menghindari kerugian. Selain itu, disarankan untuk melakukan audit keamanan menyeluruh dengan bantuan perusahaan keamanan blockchain profesional guna menghilangkan potensi risiko.
Pertanyaan: Mari kita lanjut ke topik keempat: Meski industri DeFi selalu mengklaim diri “tanpa perantara” dan “tanpa kepercayaan”, nyatanya justru menghadapi krisis kepercayaan. Dari sudut pandang profesional Anda, apa saja masalah utama DeFi saat ini? Dan atas dasar apa kita seharusnya membangun kepercayaan terhadap DeFi?
Cao Yin: DeFi adalah fenomena baru, jadi wajar jika masih banyak masalah. Menurut saya, tantangan utamanya meliputi: risiko sistemik akibat bottleneck kinerja blockchain dasar; risiko akibat homogenisasi aset; efek domino dari komposabilitas kontrak dan kompleksitas kombinasi antar-protokol yang menimbulkan risiko lokal; risiko kepatuhan akibat sifat tanpa izin, anonimitas, sekuritisasi, serta pembatasan modal di beberapa negara; serta risiko inbreeding karena sulitnya mengonversi aset off-chain ke on-chain dan ketidakmampuan menyediakan pinjaman berbasis kredit.
Kepercayaan terhadap DeFi sebaiknya berbentuk struktur lingkaran konsentris yang saling terhubung. Intinya adalah kepercayaan pada kode protokol dasar dan modul fungsionalnya. Lapisan berikutnya adalah kepercayaan pada protokol lapisan dua yang dibangun di atasnya. Lapisan terluar adalah kepercayaan pada kode dan tim pengembang produk aplikasi yang mengintegrasikan berbagai protokol. Pengembang protokol dan produk, tim audit, media, serta komunitas white hat berperan sebagai penghubung kepercayaan antar lapisan ini.
Pengembang tidak hanya bertanggung jawab atas kode mereka sendiri, tetapi juga harus memastikan keamanan protokol dan aset yang diintegrasikan. Mereka perlu berkomunikasi erat dengan mitra seperti oracle, penyedia aset, dan custodian, bahkan bisa menerapkan sistem daftar periksa seperti di industri aerospace. Semua masalah harus diselesaikan sepenuhnya melalui pengawasan bersama—bukan sekadar asumsi. Selain itu, standardisasi protokol yang disebutkan Profesor Yang juga sangat penting. Konsep DeFi SDK yang baru-baru ini diusulkan Zerion patut dikaji lebih lanjut.
Yang Xia: Dari serangan terhadap bZx awal tahun ini hingga insiden di Uniswap dan dForce, terlihat jelas bahwa para peretas telah memahami kelemahan sistemik dalam manajemen risiko DeFi. Mereka memanfaatkan komposabilitas DeFi untuk melancarkan serangan beruntun terhadap ekosistemnya. Jika sebuah tim tidak memberi perhatian cukup pada keamanan kontrak pintar, masalah keamanan hampir pasti akan muncul.
Kegagalan satu bagian dalam ekosistem DeFi dapat meruntuhkan seluruh sistem. Oleh karena itu, pengembang DeFi harus terus menyempurnakan kode mereka secara teknis. Mereka tidak boleh hanya mengejar komposabilitas tinggi, tetapi juga harus memastikan kesesuaian keamanan antar produk DeFi yang berbeda.
Secara keseluruhan, DeFi masih dalam tahap awal perkembangan, dan banyak mekanismenya perlu disempurnakan. Sistem persepsi situasi keamanan Chengdu ChainAmen (Beosin-Eagle Eye) adalah platform visual yang dirancang khusus untuk menghadapi risiko transaksi dan ancaman keamanan khas blockchain. Platform ini mampu memantau keamanan proyek DeFi secara real-time, memberikan peringatan dini, alarm, serta memblokir transaksi berbahaya secara otomatis untuk menjamin keamanan operasional.
Para peretas telah memahami kelemahan sistemik dalam manajemen risiko DeFi. Bagi tim DeFi yang hadir dan ingin berkonsultasi lebih lanjut, silakan menghubungi Profesor Yang Xia.
Pertanyaan: Sebagai Direktur Wilayah Tiongkok dari proyek DeFi terbesar di dunia, bagaimana pandangan Anda, Profesor Pan Chao, mengenai persoalan ini?
Pan Chao: Masalah terbesar DeFi saat ini masih terletak pada aset—selain Ethereum, sangat sedikit aset lain yang memiliki likuiditas tinggi. Untuk mencapai adopsi massal, portofolio aset harus diperkaya, termasuk mengonversi aset dari dunia nyata ke dalam blockchain, seperti stablecoin, emas, dan instrumen keuangan tradisional dalam bentuk sintetis.
DeFi bukan tentang “menghilangkan kepercayaan”, melainkan “cara baru membangun kepercayaan”. Kode sumber terbuka, kontrak yang dieksekusi otomatis, neraca keuangan yang transparan dan dapat diverifikasi, serta kemampuan dan reputasi tim pengembang—semua ini adalah “jangkar kepercayaan” bagi DeFi, bukan sekadar prinsip “Code is Law”.
William: Para pakar sebelumnya telah menjelaskan dengan baik. Saya hanya akan menambahkan secara singkat. Saat ini, DeFi menghadapi tiga masalah utama:
Pertama, kinerja blockchain rendah: Jaringan mudah macet dalam kondisi pasar ekstrem, membuat instruksi DeFi tidak responsif. Kedua, risiko sistemik: Sebagian besar DeFi berjalan di Ethereum dan terkait erat dengan harga ETH; ketika harga ETH anjlok, krisis sistemik terjadi dan langsung berdampak pada ekosistem DeFi. Ketiga, pengalaman pengguna buruk: Dibanding alat keuangan tradisional, DeFi mengharuskan pengguna memahami dompet digital dan menguasai private key, sehingga tingkat kesulitannya tinggi dan prosesnya rumit—tidak ramah bagi pemula.
Menurut saya, kepercayaan terhadap DeFi terutama didasarkan pada tiga hal: transparansi, keamanan, dan keandalan. Transparansi telah dicapai oleh sebagian besar proyek DeFi, namun keamanan sistem dan kecukupan desain mekanismenya masih perlu ditingkatkan.
Pertanyaan: Terima kasih kepada keempat narasumber. Mari kita lanjut ke topik kelima: pandangan terhadap masa depan industri DeFi. Seperti yang telah disebutkan, sebagian besar proyek DeFi saat ini berjalan di Ethereum, dan pengembangan ekosistem DeFi adalah strategi utama Ethereum. Apakah perkembangan ini akan mengubah logika valuasi ETH? Apa dampak Ethereum 2.0 terhadap DeFi di masa depan? Silakan Profesor Pan Chao menjawab.
Pan Chao: Saat ini, Ethereum hampir identik dengan DeFi. Bahkan setelah beralih ke Ethereum 2.0, keuangan tetap akan menjadi aplikasi paling cocok untuk platform ini. Saya selalu berpendapat bahwa keuangan adalah satu-satunya—dan juga aplikasi terbaik—untuk blockchain.
Transisi ke Ethereum 2.0 dilakukan bertahap. Tahap pertama terutama berfokus pada pengujian konsensus Proof-of-Stake (PoS), sementara logika bisnis tetap berjalan di blockchain Proof-of-Work (PoW). Blockchain PoS hanya beroperasi sebagai jaringan uji coba paralel dan tidak akan memengaruhi lapisan bisnis DeFi yang ada.
Dari sudut pandang aset, jaringan uji coba akan menghasilkan jenis ETH baru yang menghasilkan bunga (yield-bearing ETH). Diperkirakan banyak pool PoS yang bertindak sebagai custodian akan menerbitkan token representasi atas aset ini di blockchain PoW, dengan risiko dan tingkat bunga yang berbeda. Token ETH berbunga ini sendiri kemudian dapat digunakan sebagai jaminan untuk menerbitkan dan menghasilkan aset baru.
William: Penjelasan Profesor Pan Chao mengenai Ethereum 2.0 sudah sangat jelas. Saya akan fokus pada perubahan logika valuasi Ethereum akibat DeFi. Dulu, kita sering menilai BTC dan ETH berdasarkan eksternalitas jaringan blockchain—memperkirakan kapitalisasi pasar berdasarkan jumlah pengguna. Namun pendekatan ini terlalu kasar dan kurang akurat. Kita bisa mengadopsi pendekatan baru: permintaan efektif terhadap mata uang kripto.
Pada 2017, Ethereum berhasil mendongkrak permintaan pasar terhadap ETH lewat model pendanaan token, yang mendorong harga ETH melesat hingga mencapai puncak di angka USD 1.200. Namun, seiring memudarnya popularitas model ini, harga ETH terus merosot dan kini bertahan di kisaran USD 200.
Menurut saya, kontribusi terbesar ekosistem DeFi bagi Ethereum adalah menciptakan permintaan efektif baru—baik melalui penguncian aset (staking) di dalam DeFi maupun biaya gas yang dihasilkan dari eksekusi kontrak pintar. Keduanya sama-sama meningkatkan permintaan efektif pasar terhadap ETH. Jika ekosistem DeFi berkembang pesat di masa depan, harga ETH pun dipastikan akan ikut terdongkrak.
Pertanyaan: Mari kita beralih ke topik yang sedang hangat diperbincangkan—kebetulan harga koin juga sedang melonjak dalam dua hari terakhir. Pada 2016, Bitcoin mengalami halving kedua, dan kesuksesan model ICO Ethereum kemudian memicu bull market kripto di tahun 2017. Kini kita sedang memasuki fase jelang halving ketiga Bitcoin, sehingga banyak yang berharap perkembangan DeFi akan memicu bull market baru tahun depan. Bagaimana pandangan para narasumber mengenai ekspektasi ini? Apakah DeFi benar-benar akan memicu bull market berikutnya? Apa alasannya? Mari kita dengar dari Guru Cao Yin.
Cao Yin: Saya akan langsung menyampaikan pendapat saya: DeFi pasti akan memicu bull market berikutnya. Guru William sebenarnya sudah menjelaskan alasannya, dan saya akan menguraikannya lebih lanjut.
Lonjakan harga ETH sejak paruh kedua tahun lalu sebagian besar dipicu oleh semakin hidupnya ekosistem DeFi serta diluncurkannya berbagai stablecoin berbasis fiat di jaringan Ethereum. Hal ini menyebabkan nilai aktivitas ekonomi yang berjalan di jaringan Ethereum meningkat signifikan—banyak ETH terkunci (locked-up) dalam aplikasi DeFi, sementara permintaan gas di jaringan juga melonjak. Namun saat ini, ekosistem DeFi masih berada dalam tahap awal pertumbuhan. Ke depan, ekosistem DeFi akan berkembang pesat secara eksponensial di berbagai blockchain publik seperti Ethereum, Polkadot, dan Tezos, dengan protokol dan aset yang saling terhubung lintas rantai (cross-chain). Selain itu, sejumlah besar mata uang fiat juga akan masuk ke ekosistem DeFi dalam bentuk stablecoin, sehingga semakin memperkuat nilai token asli (native token) masing-masing blockchain publik.
Selanjutnya, token dari proyek DeFi unggulan juga mampu menangkap nilai jaringan DeFi. Misalnya, kenaikan harga token Kyber, MKR, LINK, dan LEND jauh melampaui kenaikan harga ETH dalam periode yang sama—ini membuktikan bahwa aktivitas ekosistem DeFi memang mendorong apresiasi harga token-token DeFi.
Yang Xia: Benar, kami secara umum cukup optimis. Dalam dua tahun terakhir, industri DeFi telah menarik perhatian kalangan utama dan mencatat sejumlah kemajuan nyata. Sama seperti sebelum internet mencapai bentuk akhirnya, kita juga tidak bisa membayangkan konsep dan produk apa saja yang nantinya akan dihadirkan oleh teknologi ini. Dua puluh tahun lalu, media sosial hampir tak terbayangkan bagi kebanyakan orang—namun kini, platform-platform tersebut telah menjadi bagian dasar dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Hal serupa juga berlaku untuk DeFi—yang kelak mungkin akan memberikan dampak mendasar pada kehidupan keuangan kita, bahkan dampak yang belum bisa kita bayangkan saat ini. Oleh karena itu, kita patut menantikannya dengan penuh harapan.
William: Pandangan saya mungkin sedikit berbeda. Menurut saya, peran DeFi dalam mendorong bull market berikutnya relatif sulit terwujud. Sejak kelahirannya, Bitcoin telah mengalami tiga kali bull market besar, yaitu pada tahun 2011, 2013, dan 2017:

Grafik di atas adalah representasi siklus pasar Bitcoin untuk ketiga periode tersebut yang kami buat.
Meski banyak yang mengaitkan bull market kripto dengan halving Bitcoin, dari setiap siklus kita bisa melihat bahwa inovasi justru memainkan peran pendorong utama—misalnya, pada siklus pertama munculnya bursa Bitcoin; pada siklus kedua kemunculan berbagai altcoin; dan pada siklus ketiga lahirnya model pendanaan ICO. Inovasi-inovasi inilah yang secara langsung memicu lonjakan harga Bitcoin di tahun-tahun tersebut.
Dari sudut pandang pribadi, tingkat inovasi DeFi saat ini belum mencapai level inovasi besar yang muncul pada dua bull market sebelumnya. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa DeFi bukanlah pendorong utama bull market berikutnya.
Dari perspektif tren industri, regulasi dan kepatuhan (compliance) merupakan salah satu arus utama. Saat ini, sebagian besar modal yang masuk ke pasar kripto berasal dari dana investasi alternatif (alternative investment funds). Hanya dengan adanya regulasi yang jelas dan kepatuhan yang memadai, dana besar dari pasar keuangan tradisional baru akan bersedia masuk ke pasar kripto. Oleh karena itu, saya yakin bahwa dalam siklus pasar keempat Bitcoin yang akan datang, inovasi di bidang regulasi kemungkinan besar akan menentukan waktu dimulainya bull market Bitcoin berikutnya.
Pertanyaan: Sekarang kita masuk ke pertanyaan terakhir dari topik kelima—yaitu soal integrasi antara DeFi dan CeFi, sebuah isu penting yang menjadi perhatian para pelaku industri, baik dari bursa terpusat (centralized exchanges) maupun terdesentralisasi (decentralized exchanges). Saat ini, DeFi dan CeFi masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Bagaimana pandangan para narasumber mengenai integrasi antara DeFi dan CeFi? Mari kita mulai lagi dari Guru Cao.
Cao Yin: Pertama-tama, tidak ada batasan yang jelas antara DeFi dan CeFi. Kita bisa menilai tingkat desentralisasi suatu protokol DeFi berdasarkan sejauh mana masing-masing “elemen fungsional” di dalamnya terdesentralisasi.
Elemen-elemen tersebut meliputi: 1) akses; 2) custodial; 3) price feed; 4) DEX: orderbook dan settlement; 5) lending, margin calls, likuiditas margin call, serta kebijakan moneter; 6) pengembangan dan pemeliharaan kode.
Bursa seperti OK, Binance, dan Huobi jelas bersifat terpusat (centralized); namun di ujung spektrum lainnya, tidak ada aplikasi DeFi yang sepenuhnya terdesentralisasi dalam semua elemen tersebut—setidaknya pengembangan dan pemeliharaan kode tetap dilakukan oleh para developer.
Dari elemen-elemen di atas, beberapa di antaranya merupakan syarat dasar yang umumnya dianggap wajib dimiliki oleh DeFi—misalnya akses tanpa izin (permissionless access), non-custodial, serta settlement pada DEX DeFi yang harus dilakukan on-chain.
Dengan demikian, dari sudut pandang pengguna, DeFi sebenarnya merujuk pada aplikasi keuangan yang bebas diakses, tanpa izin, aset tidak dititipkan (non-custodial), dan penyelesaian transaksi dilakukan di blockchain—desentralisasi hanyalah sarana, sedangkan tujuannya adalah keterbukaan (openness), kebebasan (freedom), dan ketiadaan kepercayaan (trustlessness).
Demikian pula, sentralisasi pada CeFi juga hanya merupakan sarana—tujuannya tetap sama: menyediakan layanan keuangan yang lebih baik bagi pengguna. Jadi, DeFi dan CeFi memiliki tujuan yang sama. Ke depan, saya memperkirakan DeFi dan CeFi akan terintegrasi secara mendalam: protokol-protokol DeFi akan berfungsi sebagai lapisan dasar (infrastructure layer) untuk menangani penyimpanan aset, clearing, dan settlement; sementara CeFi akan menyediakan layanan seperti akuisisi pengguna, manajemen risiko, penilaian kredit, asuransi, dan kepatuhan regulasi. Selain itu, CeFi juga akan menjadi sumber likuiditas penting bagi clearing dan settlement di lapisan bawah protokol DeFi—membentuk struktur integrasi CeFi-DeFi-CeFi.
Yang Xia: Saat ini, sebagian besar bursa dan blockchain publik menjadikan DeFi sebagai arah pengembangan utama. Sementara itu, CeFi dalam jangka panjang terus menghadapi tekanan akibat praktik-praktik tidak transparan dan "kotak hitam" (black box), sehingga DeFi terus mendesak CeFi untuk berubah.
Oleh karena itu, CeFi harus bertransformasi—melalui DeFi, CeFi dapat membangun ekosistem keuangan yang lebih terbuka dan transparan. Dan dengan jumlah pengguna serta aset yang sangat besar, CeFi—melalui integrasi dengan DeFi—menurut saya berpotensi menciptakan ekosistem keuangan baru.
Pan Chao: Saya pernah menyampaikan pandangan tentang hubungan antara DeFi dan CeFi: mengejar “DeFi sejati” yang sempurna ibarat menganggap sebuah buah tunggal sebagai keseluruhan tanaman.
Desentralisasi dan sentralisasi adalah dua kekuatan dengan filosofi yang sangat berbeda—seperti DeFi dan CeFi di kedua ujung jungkat-jungkit. Meski tampak berseberangan, likuiditas di antara keduanya justru menjadikannya mata rantai penting dalam sistem keuangan. Dalam praktiknya, kedua pendekatan ini tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dan sama-sama dibutuhkan. Ketergantungan timbal balik inilah yang menciptakan keseimbangan dalam dunia keuangan.
Kolaborasi antara OKEx dan MakerDAO adalah contoh nyata yang baik. Pengguna tak perlu meninggalkan platform tepercaya mereka; langsung dari OKEx, mereka bisa menikmati bunga simpanan Dai dari ekosistem DeFi. DeFi menawarkan imbal hasil yang kompetitif, sementara lembaga keuangan tradisional menyediakan pengalaman yang nyaman dan cepat bagi pengguna.
William: Saya akan membahas dari sisi penerapan praktis. Saat ini, DeFi dan CeFi dapat terintegrasi terutama dalam dua bidang: pinjaman beragunan (collateralized lending) serta bisnis faktoring dan letter of credit (L/C) internasional. Ambil contoh pinjaman beragunan. Bisnis konvensional di bidang ini sering menghadapi berbagai risiko, seperti perjanjian agunan yang ditandatangani tanpa penyerahan fisik aset, atau kendala dalam eksekusi hak agunan. Dengan kontrak pintar, bank, perusahaan sekuritas, trust, atau pembiayaan mikro dapat mengunci aset secara otomatis melalui pihak ketiga. Seluruh proses menjadi transparan dan terbuka, sehingga berbagai risiko tadi bisa diatasi dengan efektif.
Kedua, ada bisnis faktoring dan L/C dalam perdagangan internasional. Dalam transaksi lintas batas, sering muncul masalah kepercayaan antara pembeli dan penjual. Pembeli khawatir jika membayar di muka, penjual tidak mengirimkan barang sesuai kontrak. Sebaliknya, penjual khawatir setelah mengirim barang atau menyerahkan dokumen, pembai tidak membayar.
Lalu, bagaimana cara tradisional mengatasi masalah kepercayaan ini? Jawabannya adalah bank, melalui layanan letter of credit (L/C). Kredit bank menggantikan kredit komersial antara pembeli dan penjual untuk memfasilitasi transaksi. Seberapa rumit alur kerja L/C? Simak gambar berikut:

Bayangkan jika ada platform penyelesaian perdagangan berbasis blockchain yang dilengkapi kontrak pintar khusus. Eksportir dapat menempatkan pembayaran di muka ke dalam kontrak tersebut. Setelah barang tiba di tujuan dan sistem memverifikasi kelengkapan dokumen, kontrak pintar akan secara otomatis melepaskan dana kepada eksportir. Prosesnya tidak hanya lebih sederhana, tetapi juga menekan biaya layanan secara signifikan. Inilah bukti bahwa DeFi dan CeFi dapat berintegrasi dengan baik.
Pembawa Acara: Terima kasih kepada keempat narasumber atas paparan yang menarik hari ini. Dibandingkan sistem keuangan tradisional yang telah puluhan tahun berdiri, DeFi masih terbilang baru dan sedang berkembang. Ia menawarkan ruang imajinasi baru bagi transparansi dan keterbukaan pasar keuangan. Dalam perjalanannya, DeFi tak lepas dari berbagai tantangan—baik secara teknologi, keamanan, maupun pengalaman pengguna—bahkan menghadapi kemungkinan "angsa hitam" (misalnya, bagaimana bertahan saat harga ETH berfluktuasi tajam dan biaya transaksi melonjak). Namun, ini bukan alasan untuk buru-buru menyangkal masa depan DeFi. Kami yakin, melalui acara ini, Anda semua telah mendapatkan pemahaman baru tentang DeFi. Sampai di sini acara kita hari ini. Terima kasih atas partisipasinya!
