BroadChain melaporkan, berdasarkan informasi dari Financial Times Inggris, ekspor minyak mentah Amerika Serikat diproyeksikan mencapai 5,2 juta barel per hari pada April mendatang. Angka ini meningkat hampir sepertiga dari 3,9 juta barel per hari di Maret lalu, didorong oleh permintaan pelanggan di Asia yang berburu pasokan alternatif menyusul gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat konflik Iran.
Data dari lembaga riset minyak Kpler mengungkapkan, saat ini terdapat 68 kapal tanker kosong yang sedang menuju Amerika Serikat. Jumlah ini melonjak tajam dibandingkan 24 kapal pada pekan sebelum pecahnya konflik pada 28 Februari, dan jauh di atas rata-rata tahunan lalu yang hanya 27 kapal.
Meski AS dan Iran sebelumnya mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu, ketegangan kembali memanas setelah Israel melancarkan serangan ke Lebanon. Iran kemudian mengancam akan menutup Selat Hormuz. Ancaman serupa sebelumnya yang berlangsung beberapa pekan sempat mendongkrak harga minyak AS lebih dari 50%. Awal pekan ini, harga minyak mentah WTI bahkan sempat menyentuh level tertinggi empat tahun di atas USD 110 per barel, dan hingga kini masih bertahan lebih dari 40% lebih tinggi dibandingkan sebelum pecahnya perang.
Untuk meredam kenaikan harga, pemerintahan Trump telah mengumumkan pelepasan lebih dari 170 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve). Namun upaya tersebut tampaknya belum cukup efektif, terbukti dengan harga bensin di AS yang untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir menembus angka USD 4 per galon.
