兴业银行叶博宇:探路区块链金融场景须回归“第一性原理”

Ye Boyu dari Bank Industri dan Perdagangan Tiongkok: Menjelajahi Skenario Keuangan Berbasis Blockchain Harus Kembali ke "Prinsip Dasar"

BroadChainBroadChain18/01/2020, 15.45
Konten ini telah diterjemahkan oleh AI
Ringkasan

Blockchain sedang secara mendalam memengaruhi transformasi bisnis keuangan bank komersial.

Blockchain, sebagai teknologi baru yang diprediksi akan memimpin gelombang transformasi industri global, kini menjadi sorotan publik.

Pada Desember 2019, Komite Teknologi Finansial Bank Sentral Tiongkok menyatakan bahwa pengawasan teknologi finansial akan diperketat pada 2020, dengan rencana penerbitan seperangkat aturan yang mencakup perlindungan informasi keuangan pribadi dan blockchain. Para pelaku industri meyakini bahwa teknologi finansial telah menjadi pendorong utama transformasi dan pengembangan lembaga keuangan, sekaligus mesin penggerak pembangunan sistem keuangan modern. Dalam konteks ini, blockchain dipandang sebagai salah satu arah inovasi teknologi finansial yang penting.

Lantas, bagaimana inovasi dan penerapan praktis teknologi blockchain di sektor perbankan? Perubahan apa yang akan dibawanya bagi industri perbankan Tiongkok ke depan? Tantangan dan risiko apa yang dihadapi? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, wartawan China Business News mewawancarai Ye Boyu, Direktur Pusat Keunggulan Digital Departemen Teknologi Informasi Bank Industri dan Perdagangan Tiongkok (Industrial Bank).

Menurut Ye Boyu, teknologi blockchain masih menghadapi sejumlah kendala teknis yang membatasi penerapannya secara luas di sektor keuangan. Selain itu, pemahaman banyak bank komersial terhadap teknologi ini masih terbatas. “Nilai sejati blockchain hanya akan terwujud jika kita kembali ke prinsip dasar (‘first principles’), memahami esensinya—bukan sekadar terpaku pada teknologinya—lalu menerapkannya pada skenario bisnis yang tepat untuk memecahkan masalah nyata,” ujarnya.

Mendorong Transformasi Bisnis Keuangan

China Business News: Dengan berkembangnya teknologi finansial dan internet, blockchain yang menawarkan arsitektur terdesentralisasi dan pendekatan teknis baru menarik perhatian luas. Dampak dan transformasi apa yang dibawa blockchain bagi model keuangan bank komersial?

Ye Boyu: Beberapa tahun terakhir, teknologi finansial—dengan blockchain sebagai salah satu pionirnya—berkembang pesat secara global. Keunggulannya dalam mengatasi asimetri informasi, sentralisasi perantara, dan ‘pulau informasi’ telah memengaruhi transformasi bisnis keuangan bank komersial. Hal ini terutama terlihat dalam tiga aspek:

Pertama, membangun standar kredit terpadu untuk mengatasi kesulitan pendanaan UMKM. UMKM sering kesulitan mendapat pendanaan karena transparansi keuangan yang rendah dan ketahanan risiko yang lemah. Dengan blockchain, bank dapat membentuk standar penilaian kredit bersama, menghilangkan asimetri informasi, dan akhirnya memecahkan masalah pendanaan UMKM.

Kedua, menyederhanakan langkah verifikasi dan meningkatkan efisiensi. Data di blockchain sulit dimanipulasi dan dapat dilacak, sehingga menjamin keamanan dan kemudahan berbagi informasi. Ini menghemat waktu dan tenaga yang biasanya dihabiskan untuk verifikasi identitas nasabah dan pelacakan aliran dana.

Ketiga, mengoptimalkan proses bisnis untuk integrasi kliring dan pembayaran. Blockchain menggunakan distributed ledger dan algoritma konsensus untuk menyelaraskan buku besar semua pihak, menghilangkan kebutuhan rekonsiliasi manual. Dengan smart contract, proses kliring dapat berjalan real-time, mencapai integrasi kliring-pembayaran dan menekan biaya operasional secara signifikan.

China Business News: Saat ini, skenario bisnis apa saja yang sudah dicoba Industrial Bank dengan mengintegrasikan blockchain? Skenario apa yang akan didorong ke depan?

Ye Boyu: Kami menyadari sejak dini dampak transformatif blockchain di industri keuangan. Sejak 2018, kami aktif mengeksplorasi penerapannya, dan telah melakukan uji coba di bidang supply chain finance, kontrak elektronik, sekuritisasi aset, serta faktur berbasis blockchain.

Ke depan, kami akan gencar berkolaborasi dengan berbagai perusahaan inti untuk mengeksplorasi skenario aplikasi blockchain yang sesuai, serta terus mendalami penerapannya di bidang bukti digital (digital evidence), surat berharga digital (digital bills), dan berbagi informasi.

China Business News: Langkah apa yang telah diambil Industrial Bank dalam hal struktur organisasi dan alokasi SDM untuk pengembangan blockchain?

Ye Boyu: Pada 2018, kami membentuk tim khusus yang fokus pada pengembangan, penerapan, dan inkubasi teknologi blockchain. Tim ini mendalami esensi dan cakupan blockchain, serta mengeksplorasi penerapannya di bidang supply chain finance, bukti digital, surat berharga elektronik, penyelesaian pembayaran, dan berbagi data.

Ke depan, kami akan terus memperkuat pembangunan tim talenta blockchain, menyempurnakan sistem pelatihan, dan menciptakan platform pelatihan tingkat tinggi untuk mencetak tim inovasi yang dipimpin oleh ahli-ahli terkemuka di industri.

Tantangan Aplikasi Keuangan Masih Ada

China Business News: Selain peluang, tantangan apa yang dihadapi bank komersial dalam mengembangkan bisnis blockchain? Dari aspek mana tantangan utama berasal?

Ye Boyu: Dari perspektif bank komersial, setidaknya ada tiga tantangan utama.

Pertama, pemahaman banyak bank komersial terhadap blockchain masih terbatas. Esensi blockchain adalah menawarkan gagasan dan filosofi baru bagi pengembangan bisnis perbankan. Nilainya hanya terwujud jika kita kembali ke prinsip dasar, memahami esensinya, dan menerapkannya untuk memecahkan masalah nyata dalam skenario bisnis yang tepat.

Kedua, fokus bisnis dan keinginan berbagi informasi transaksi antara bank dengan perusahaan sering kali berbeda, sehingga sulit membentuk aliansi antara bank dan perusahaan pembiayaan.

Ketiga, sistem pengawasan blockchain belum matang. Dalam proses uji coba dan penerapan, bank sering kesulitan menentukan batas dan ruang lingkup yang tepat. Sebagai entitas yang secara alami menghindari risiko, bank cenderung hati-hati terhadap teknologi baru—hal ini menjadi hambatan tersendiri bagi adopsi blockchain di industri perbankan.

China Business News: Selain faktor pengawasan, apakah ada kendala teknis yang membuat lembaga keuangan bersikap hati-hati? Langkah apa yang harus diambil bank untuk mengatasinya?

Ye Boyu: Berdasarkan eksplorasi dan praktik kami, serta penelitian industri, teknologi blockchain memang masih memiliki beberapa kendala teknis yang membatasi penerapannya di sektor keuangan.

Pertama, sebagai teknologi baru, blockchain masih menyimpan risiko keamanan seperti stabilitas jaringan peer-to-peer, risiko rollback transaksi akibat mekanisme konsensus, keamanan data transaksi, dukungan teknis untuk kredibilitas, serta kerentanan dalam penerapan yang dapat diskalakan. Mengingat standar keamanan perbankan yang tinggi, ketahanan blockchain masih perlu diuji oleh waktu.

Kedua, blockchain sulit menyeimbangkan tiga aspek: skala node, kinerja, dan toleransi kesalahan (fault tolerance). Misalnya, algoritma konsensus Proof-of-Work (PoW) yang digunakan Bitcoin unggul dalam skala node dan toleransi kesalahan, tetapi efisiensi transaksinya sangat rendah—secara teoretis hanya menangani sekitar 7 transaksi per detik, tidak memadai untuk banyak kebutuhan bisnis keuangan. Sementara algoritma berbasis mekanisme konsensus Byzantine memang meningkatkan kinerja, tetapi performanya turun drastis begitu jumlah node melebihi ambang tertentu.

Ketiga, belum ada standar teknis tunggal untuk blockchain di lapisan dasar (layer-1). Hal ini menyulitkan bank dalam menilai keamanan, stabilitas, dan kinerja teknologi yang dipilih. Selain itu, interoperabilitas lintas-rantai (cross-chain) antar-teknologi blockchain masih terbatas, menghambat kolaborasi industri dan ekspansi skenario aplikasi.

Terakhir, konsistensi antara data on-chain dan informasi off-chain sulit dijamin. Blockchain hanya dapat menjamin keandalan data setelah dimasukkan ke dalam rantai (on-chain); keaslian data itu sendiri masih memerlukan solusi tambahan untuk verifikasi.

Oleh karena itu, kami menyarankan bank untuk: (1) meningkatkan perlindungan privasi sistem blockchain dengan metode seperti zero-knowledge proof, secure multi-party computation, differential privacy, dan fully homomorphic encryption, serta memperkuat verifikasi formal smart contract untuk mengurangi risiko; (2) mengendalikan skala node melalui desain arsitektur teknis yang rasional, dan menerapkan akses berlapis (tiered access) bagi berbagai pihak terkait guna mencapai keseimbangan optimal antara skala, kinerja, dan toleransi kesalahan; (3) mendorong percepatan penyusunan standar teknis blockchain nasional yang seragam, serta terus meneliti teknologi cross-chain seperti notary mechanism, sidechain, dan hash locking untuk memastikan interoperabilitas antar-platform; dan (4) mengintegrasikan blockchain dengan teknologi lain seperti Internet of Things (IoT), 5G, dan AI untuk mengurangi intervensi manual dan meningkatkan keandalan data yang dimasukkan ke dalam rantai.