Sumber: Junlin
Baru-baru ini, seorang pembaca bertanya dengan penuh kebingungan kepada Junlin:
"Tahun lalu pasar saham A-shares berada dalam kondisi bearish, dan sebagian besar saham yang saya beli harganya terpotong separuhnya—saya rugi parah, sampai-sampai ingin muntah darah… Aduh…"
"Pertanyaannya, apakah benar-benar realistis bagi orang biasa seperti saya untuk menjadi kaya raya hanya melalui perdagangan saham?"
Saya merenung cukup lama, dan menyadari bahwa menjawab pertanyaan ini tidaklah mudah hanya dalam beberapa kalimat. Mungkin, sebuah kisah lengkap tentang perjalanan seorang tokoh besar di dunia saham menuju kesuksesan akan memberikan Anda wawasan yang bermanfaat.
1
Mari kita kembali ke lebih dari seratus tahun yang lalu.
Pada awal abad ke-20, kondisi pasar saham Amerika Serikat hampir mirip dengan kondisi pasar saham Tiongkok saat ini.
Ekonomi sedang berkembang pesat, menempatkan negara tersebut pada jalur menjadi salah satu kekuatan super masa depan; harga berbagai aset pun terus meningkat—baik properti, saham, maupun spekulasi lainnya—dan semua jenis aktivitas tersebut tampaknya menghasilkan keuntungan besar.
Era tersebut dikenal sebagai "Era Emas".
Saat itu, pasar saham dikendalikan oleh para oligarki keuangan dan bandar gelap, sehingga sangat fluktuatif dan kacau balau.
Oligarki keuangan paling terkenal adalah J.P. Morgan.
Ia memperoleh kekayaan awalnya dari bisnis kopi, kemudian mendirikan Morgan & Co. Pada tahun 1873, ia berhasil mengalahkan keluarga Rothschild dari Eropa dalam suatu penawaran pembiayaan obligasi pemerintah bernilai besar—yang merupakan pencapaian tanpa preseden—dan sejak saat itu mulai menanjak ke puncak kekuasaan.
Sekitar tahun 1900, konglomerat Morgan melakukan berbagai kolaborasi strategis dan menginisiasi sejumlah transaksi bersejarah: salah satunya adalah penggabungan sejumlah perusahaan listrik (termasuk perusahaan milik penemu legendaris Thomas Edison) menjadi General Electric; dan yang lainnya adalah restrukturisasi sejumlah perusahaan baja (termasuk perusahaan milik raja baja Andrew Carnegie) menjadi United States Steel Corporation.
Pada tahun 1912, konglomerat Morgan menguasai sepertiga aset perbankan Amerika Serikat, dua pertiga aset asuransi, dua pertiga aset kereta api, serta seperempat aset industri negara tersebut.
Bandar paling terkenal saat itu adalah Jay Gould.
Ia memulai karier sebagai surveyor tingkat rendah, lalu naik jabatan hingga menjadi Direktur Utama perusahaan kereta api Amerika Serikat.
Selama masa jabatannya, pria ini memberikan suap dalam jumlah besar kepada para anggota parlemen pemerintah, mencatatkan saham melalui rekayasa keuangan, memanipulasi konsep-konsep tertentu, menerbitkan saham tambahan dengan harga tinggi, menjual saham untuk mengambil keuntungan, menimbulkan kepanikan skala luas, serta menekan harga saham guna membeli kembali pada harga rendah—semua tindakan ini menghasilkan kekayaan luar biasa baginya.
Misalnya, konsep “Jumat Hitam” berasal dari bencana kepanikan yang dimanipulasi oleh Gould.
Pada masa kekacauan tersebut, para oligarki keuangan seperti Morgan dan konglomerat Rockefeller, serta bandar gelap dan penipu seperti Gould, jumlahnya sangat banyak.
Saat itu, pasar saham sangat fluktuatif—melambung tinggi atau jatuh drastis—dan pergerakan harga saham tampaknya tidak memiliki hubungan apa pun dengan nilai sebenarnya perusahaan.
Oleh karena itu, pasar saham ibarat kasino: seseorang bisa menjadi miliarder dalam semalam, tetapi juga bisa jatuh miskin dalam semalam—bahkan terjerat utang berat.
Anda tak pernah bisa memprediksi apakah harga saham besok akan naik atau turun.
Namun, dua orang muda berhasil melakukannya. Mereka cepat mendapatkan ketenaran di pasar saham dan dijuluki sebagai “Dewa Saham” masa itu.
Dua orang ini adalah Jesse Livermore (1877–1940) dan William D. Gann (1878–1955).
Keduanya berasal dari keluarga miskin dan awalnya bekerja sebagai broker di sebuah perusahaan sekuritas, membantu klien melakukan transaksi saham.
Livermore lebih dulu terkenal: ia mulai berkarier sejak usia 15 tahun dan menginvestasikan seluruh gajinya ke pasar saham—saat itu gajinya hanya 20 dolar AS per bulan.
Tidak masalah: berkat kecerdasan alamiahnya, ia sangat sensitif terhadap angka-angka pergerakan harga saham. Dengan investasi presisi di masa pasar bullish dan penggunaan leverage, dalam satu tahun saja modal awalnya melonjak hingga mencapai 10.000 dolar AS.
Namun, kesuksesan semacam ini tidak bertahan lama. Saat pasar bearish tiba, harga saham Livermore anjlok tajam dan kekayaannya nyaris lenyap sama sekali.
Namun, bagi seorang pemuda, kegagalan sekali saja tentu tidak membuatnya pasrah—ia justru meyakini bahwa kegagalan itu hanyalah akibat nasib buruk.
Pada tahun 1901, pasar saham AS kembali memasuki fase bullish. Livermore meminjam 5.000 dolar AS dari orang lain dan kembali terjun ke dunia perdagangan—dalam waktu singkat, ia berhasil mengantongi 50.000 dolar AS.
Beberapa tahun berikutnya, asetnya terus berkembang pesat—ketika berusia 31 tahun, total kekayaannya telah mencapai 5 juta dolar AS.
Nilai 5 juta dolar AS pada masa itu setara dengan status miliarder di era modern saat ini.
Menurut laporan surat kabar sensasional pada masa itu, setelah menjadi kaya raya, kehidupan Livermore menjadi sangat mewah: ia membeli sebuah vila di Manhattan, membeli kapal pesiar, sering mengunjungi klub-klub eksklusif di New York, serta memiliki sejumlah besar wanita simpanan.
Idolanya adalah J.P. Morgan.
Namun, tampaknya ia tidak beruntung seperti Morgan.
Beberapa tahun kemudian, ia bangkrut lagi.
Kegagalan kali ini membuatnya merasa sangat menderita dan mulai meragukan makna hidupnya. Di saat yang sama, seorang bintang baru justru muncul.
Orang tersebut adalah W.D. Gann.
Gann berusia satu tahun lebih muda daripada Livermore, tetapi baru memasuki pasar saham sepuluh tahun setelah Livermore.
Ia juga baru mencapai ketenaran belakangan—baru pada tahun 1908, ketika berusia 30 tahun, Gann mulai dikenal secara luas di Wall Street.
Berbeda dengan Livermore yang ahli dalam perdagangan, sangat sensitif terhadap arah pergerakan pasar, serta memiliki gaya transaksi yang agresif dan spektakuler, Gann lebih unggul dalam riset dan dianggap sebagai pelopor teori analisis teknikal.
Ia meyakini bahwa pergerakan harga saham bukanlah acak, melainkan dapat diprediksi.
Setiap saham memiliki tingkat volatilitas unik yang mengendalikan kenaikan dan penurunan harganya di pasar. Dengan menganalisis pergerakan historis harga, serta menggabungkannya dengan matematika dan bentuk-bentuk geometris, Gann menciptakan serangkaian teori analisis teknikal.
Misalnya Hukum Volatilitas (Volatility Law), Garis Sudut Gann (Gann Angle Lines), Kuadrat Gann (Gann Square), dan Segi Enam Gann (Gann Hexagon), serta lainnya.
Karena saat itu sedang berlangsung tren bullish, para investor menggunakan teori-teori teknikalnya untuk memandu keputusan pembelian dan penjualan saham, dan konon tingkat akurasinya sangat tinggi—sehingga opini publik pun segera memanas.
Media pada masa itu menggambarkan Gann sebagai berikut:
"Dia benar-benar luar biasa! Ada yang menyaksikan sendiri bagaimana ia mengubah $130 menjadi $12.000, dengan tingkat kemenangan transaksi lebih dari 90%. Metodologi investasi saham semacam ini belum pernah ada sebelumnya di dunia keuangan!"
Dalam sorotan media, buku-buku Gann terus terbit satu demi satu, seperti *The Truth of the Stock Tape*, *Wall Street Stock Selector*, *Gann’s Investment Philosophy*, dan *Forty-Five Years in Wall Street*...
Sepanjang hidupnya, Gann menerbitkan puluhan buku, dan tiap judulnya terjual lebih dari 100.000 eksemplar.
Sebagai idola generasi baru di pasar saham, banyak orang datang mengunjunginya karena terpesona oleh namanya—termasuk Livermore.
Keduanya bertemu beberapa kali dan saling mengagumi prestasi serta ketenaran masing-masing, namun pada akhirnya gagal berkolaborasi karena perbedaan prinsip.
Apa perbedaan utama di antara keduanya?
Gann adalah seorang teoretikus. Dua prinsip utama dalam teorinya adalah:
Pertama, pasar saham memiliki tren besar bersifat siklikal; investor hanya boleh beroperasi searah tren tersebut, bukan melawannya;
Dalam tren besar ini terdapat pula tren-tren kecil. Dengan memanfaatkan peluang probabilistik yang terkandung dalam pola historis naik-turun harga saham, keuntungan kecil demi kecil dapat dikumpulkan secara bertahap hingga menjadi kekayaan besar.
Kedua, untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang di pasar saham, seseorang harus belajar membatasi kerugian (stop-loss);
Harus sangat hati-hati dalam menetapkan batas kerugian; begitu batas tersebut dilampaui, penarikan diri harus segera dilakukan—jangan pernah tergoda untuk bertahan;
Hanya dengan menjaga modal awal tetap utuh, seseorang bisa bangkit kembali.
Menurut Gann, Livermore terlalu serakah—hanya ingin mencari keuntungan besar, terus-menerus meningkatkan leverage, sehingga mudah terjatuh.
Namun Livermore berasal dari kalangan praktisi; ia sama sekali tidak tertarik pada teori "beli rendah-jual tinggi" dalam volatilitas pasar atau akumulasi keuntungan kecil demi kecil.
Ia berpendapat bahwa keuntungan besar tidak bisa diperoleh dari fluktuasi jangka pendek harga saham, melainkan dari pergerakan besar. Dengan kata lain, investor tidak boleh hanya fokus pada perubahan harga individual, tetapi harus mampu menilai tren besar suatu saham maupun arah pergerakan pasar secara keseluruhan.
Menghabiskan seluruh upaya dalam satu pertarungan.
Artinya, meskipun Livermore juga seorang spekulan, ia tidak pernah mengejar transaksi jangka pendek berkecepatan tinggi ("buy and sell quickly"). Ia meyakini semakin sering bertransaksi, maka semakin besar pula kemungkinan melakukan kesalahan dan gagal.
Hanya dengan memanfaatkan peluang krusial, meningkatkan akurasi prediksi, lalu mengambil risiko besar melalui penggunaan leverage, barulah keuntungan besar bisa diraih.
Sedangkan akurasi dalam menangkap tren besar lebih banyak bergantung pada insting tajam terhadap "iklim pasar".
Adapun probabilitas matematis dan pola geometris, menurutnya hanyalah trik penipuan belaka—tidak akurat sama sekali.
Dengan kata lain, meskipun keduanya adalah spekulan tren terkenal, gaya spekulasi mereka benar-benar berbeda:
Yang satu cenderung konservatif, mengejar akumulasi keuntungan kecil demi kecil, melakukan jual beli tinggi-rendah dalam fluktuasi jangka pendek, serta mengandalkan probabilitas matematis untuk memperbesar keuntungan secara bertahap;
Sedangkan yang satunya lagi cenderung agresif, mengejar kesuksesan besar dalam satu kali transaksi, memperbesar leverage dalam fluktuasi jangka panjang, serta mengandalkan bakat dan pengalaman pribadi.
Namun, terlepas dari perbedaan mendasar dalam filosofi mereka, keduanya menjadi pemenang dalam hidup selama pasar saham super bullish di era 1920-an, menghasilkan keuntungan luar biasa besar, dan sejak itu diangkat ke posisi legendaris.
2
Buku-buku Gann semakin laris manis, dan kursus pelatihan langsungnya dijual seharga USD 5.000.
USD 5.000 pada masa itu setara dengan RMB 500.000 hari ini—harga yang sangat mahal, sehingga menunjukkan betapa populer dan diminatinya pelatihan tersebut.
Livermore meminjam uang dari orang lain dan bangkit kembali untuk ketiga kalinya; asetnya pun meningkat hingga mencapai puluhan juta dolar AS, sehingga ia berhasil masuk ke dalam daftar 500 orang terkaya.
Pada tahun 1923, seorang penulis mewawancarai Livermore dan menerbitkan buku laris fenomenal berjudul Reminiscences of a Stock Operator, yang berdasarkan kisah hidupnya yang legendaris—tiga kali jatuh dan tiga kali bangkit kembali.
Buku ini membuat Livermore, seperti halnya Gann, menjadi tokoh abadi dalam sejarah.
Pada tahun 1929, pasar saham memasuki tahap euforia ekstrem: uang mengalir dari segala penjuru menuju Wall Street; masyarakat umum menginvestasikan seluruh gaji dan dana pensiun mereka ke pasar saham; bahkan pedagang kaki lima dan ibu-ibu yang berbelanja sayur pun membicarakan pasar saham.
Livermore menyadari bahwa krisis semakin dekat; sebagai seseorang yang sangat sensitif terhadap tren jangka panjang, ia memutuskan untuk berposisi short.
Ia secara cermat meneliti berbagai surat kabar keuangan guna menemukan sinyal perlambatan ekonomi, kelebihan kapasitas produksi, atau perubahan kebijakan moneter, demi memperkuat keputusan strategisnya.
Ia yakin bahwa pasar saham yang telah mengalami masa kemakmuran selama sepuluh tahun pasti akan berbalik arah—ia hanya perlu menemukan pemicu utamanya. Jika taruhannya kali ini tepat, kekayaannya akan melampaui batas imajinasi.
Pada September 1929, sinyal pertama muncul.
Sebuah kasus penipuan keuangan skala besar terjadi di Inggris; untuk menstabilkan pasar, Bank Inggris berencana menaikkan suku bunga, dan kemungkinan besar Federal Reserve Amerika Serikat juga akan mengikutinya.
Suku bunga bank meningkat, produksi industri pasti melambat, jumlah uang di pasar saham juga akan berkurang, dan gelembung pasar investasi yang sedang panas besar kemungkinan akan pecah.
Livermore memanfaatkan peluang ini dengan mempertaruhkan seluruh kekayaannya untuk posisi short.
Dalam waktu singkat—hanya satu atau dua bulan—pasar saham AS benar-benar mengalami badai keuangan abad ini yang mengguncang dunia, dan tak terhitung jumlahnya para pelaku perdagangan bangkrut dalam semalam.
Namun, Livermore justru meraup keuntungan sebesar USD 100 juta dalam pertarungan ini, sehingga menempatkannya di antara para miliarder papan atas.
Krisis keuangan tahun 1929 merupakan peristiwa paling penting abad ke-20, tidak hanya mengubah tatanan ekonomi global, tetapi juga memicu Perang Dunia II, menyebabkan runtuhnya Kekaisaran Inggris dan kemunduran Eropa, serta memicu gejolak politik di kawasan-kawasan tertinggal yang kemudian bergeser ke arah kiri—sekaligus mengubah seluruh sejarah keuangan modern.
Pertama-tama, dari sisi kebijakan: pemerintah berbagai negara mulai memperkuat pengawasan terhadap ekonomi pasar bebas, menerapkan langkah-langkah kontrasekular (counter-cyclical), giat membangun infrastruktur, bersaing dalam tarif dan perdagangan, serta mendorong peningkatan struktur industri.
Pada tahun 1934, Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat didirikan, yang mewajibkan semua perusahaan publik menyampaikan laporan keuangan yang lengkap dan dapat dipercaya, serta secara tegas memberantas penipuan sekuritas dan praktik manipulasi pasar.
Pada tahun yang sama, Livermore—sang “Raja Spekulasi”—sekali lagi bangkrut akibat goncangan pasar saham; beberapa tahun kemudian, dalam keadaan terpuruk, ia memilih mengakhiri hidupnya dengan sebuah pistol.
Dalam surat wasiatnya tertulis: “Seluruh hidupku adalah sebuah kegagalan.”
Ketika pasar saham lesu, metode investasi Gann pun kehilangan keampuhannya, dan buku-bukunya pun mulai sulit terjual.
Gann meninggal pada tahun 1955 pada usia 78 tahun, dengan warisan hanya sekitar USD 100.000—setara dengan kekayaan kelas menengah biasa di Amerika Serikat.
Sebuah era pun berakhir.
Sejak saat itu, para spekulan tren teknikal mundur dari posisi sentral panggung investasi, dan tidak lagi muncul tokoh-tokoh luar biasa dalam kategori ini.
Namun, dalam bear market besar tahun 1929, sejumlah investor yang menderita kerugian parah melakukan refleksi mendalam dan mengalami perubahan mendasar.
Mereka meninggalkan obsesi tradisional aliran teknikal terhadap pola gelombang grafis, dan beralih ke studi nilai perusahaan publik, membuka jalan ilmiah bagi investasi.
Jika teori teknikal Gann setara dengan astrologi masa kegelapan, maka strategi cakupan luas Livermore setara dengan pasukan besar Kerajaan Mongol.
Selanjutnya, para tokoh revolusioner di dunia investasi—seperti Copernicus, Darwin, dan Newton—satu per satu muncul ke dunia.
Mereka semua pernah menjadi korban Depresi Besar.
Tokoh pertama adalah Benjamin Graham (1894–1976), seorang pria yang mengalami kesulitan sepanjang separuh hidupnya.
Mencius berkata: “Ketika langit hendak menugaskan suatu tanggung jawab besar kepada seseorang, Ia pasti terlebih dahulu akan menguji keteguhan hatinya, melelahkan tubuhnya, membuatnya kelaparan, menguras kekuatannya, serta mengacaukan segala usahanya—semua ini dilakukan agar hatinya tergerak dan tabiatnya ditempa, sehingga kemampuannya meningkat.”
Graham dapat dikatakan sebagai sosok yang secara sempurna mewujudkan kutipan tersebut.
Pada usia 1 tahun, orang tuanya beremigrasi dari Eropa ke Amerika Serikat untuk mencari pekerjaan, hidup dalam keterasingan;
Pada usia 9 tahun, ayahnya meninggal dunia, sehingga keluarganya kehilangan sumber penghasilan dan semakin kesulitan;
Pada usia 14 tahun, ibunya gagal dalam berinvestasi saham hingga rumah mereka kosong melompong;
Pada usia 23 tahun, setelah lulus kuliah, ia pertama kali mengelola akun saham klien—namun justru menghabiskan seluruh uang klien tersebut, sehingga akunnya dibekukan;
Pada usia 30 tahun, ia mendirikan dana investasi swasta pertamanya, namun terpaksa membubarkannya akibat konflik antar pemegang saham;
Pada usia 36 tahun, perusahaan investasi yang didirikannya kembali hampir bangkrut akibat badai keuangan tahun 1929, sehingga seluruh tabungan seumur hidupnya lenyap tak tersisa.
Namun penderitaan tidak berhasil menghancurkan Graham. Melalui refleksi mendalam, ia mampu mematangkan diri sendiri, dan di tengah masa-masa kelam itu ia menulis karya-karya revolusioner seperti Security Analysis dan The Intelligent Investor>, yang menjadi fondasi bagi aliran investasi berbasis fundamental—menempatkannya pada posisi setara “Newton” di dunia investasi.
Di masa tuanya, Graham mengajar di Universitas Columbia, melahirkan banyak murid berprestasi di seluruh dunia. Ajarannya bagai obor yang menerangi jalan bagi tak terhitung banyaknya generasi penerus untuk membuka gerbang investasi ilmiah.
Lalu, apa inti pemikiran Graham?
Dua hal:
Pertama, menekankan margin of safety.
Karena terlalu terluka oleh gejolak pasar saham, ia menempatkan manajemen risiko sebagai prioritas utama dalam investasinya, menuntut keamanan mutlak.
Oleh karena itu, ia menuntut valuasi yang cukup murah dan hanya membeli saham “sisa rokok” (cigar butt stocks) yang tidak mungkin turun lebih jauh lagi.
Kedua, penekanan pada analisis keuangan.
Melakukan analisis kuantitatif terhadap aset, pendapatan, laba, kewajiban, serta ekspektasi penghasilan masa depan dari setiap perusahaan publik guna menentukan nilai intrinsiknya, sehingga dapat mengevaluasi kelayakan investasi.
Segalanya didasarkan pada data—menghindari spekulasi, kabar angin, dan keputusan emosional.
Di antara murid-murid Benjamin Graham, terdapat tokoh-tokoh ternama di dunia dana investasi seperti Irving Kahn, Walter Schloss, dan Seth Klarman.
Namun, yang paling terkenal tanpa diragukan lagi adalah Warren Buffett.
3
Warren Buffett memiliki masa kecil yang sangat mirip dengan kebanyakan orang Tiongkok.
Ia lahir di kota kecil tingkat tiga Omaha, di wilayah pedalaman Amerika Serikat. Kakeknya mengelola toko kelontong, sedangkan ayahnya bekerja sebagai pegawai bank—latar belakang yang sangat biasa.
Tahun itu adalah 1930, tepat pada masa Depresi Besar (Great Depression), ketika banyak bank bangkrut dan ayahnya pun kehilangan pekerjaan.
Untuk membantu mencari uang, sejak usia enam tahun Buffett sudah membeli permen karet dan minuman ringan secara grosir lalu menjualnya keliling kota. Pada usia 13 tahun, ia mulai berjualan koran.
Saat bersekolah di SMA, Buffett membeli beberapa mesin pinball bekas dan menempatkannya di salon-salon rambut untuk dioperasikan, dengan pembagian hasil 50:50 bersama pemilik salon.
Jenis bisnis ini mirip dengan mesin pengambil boneka (claw machines) di mal-mal atau mesin slot di kasino saat ini—modal kecil namun keuntungan besar, meski tingkat persaingannya juga sangat rendah.
Jika tidak ada hal tak terduga, Buffett mungkin akan terus meniti jalan menuju kekayaan sebagai seorang pengusaha kecil.
Namun, hal tak terduga tetap terjadi: saat masih di sekolah menengah, sang remaja Buffett mulai kecanduan saham dan menjadikannya sebagai karier seumur hidupnya.
Pilihan semacam ini muncul dari pemikiran Buffett:
Saat masih kecil, ia berkeliling menjual permen karet dan cola di jalanan—ini merupakan bisnis yang mengandalkan tenaga fisik, dengan margin keuntungan sangat rendah, sehingga sulit menghasilkan keuntungan besar;
Kemudian, ia beralih ke bisnis mesin biliar, yang tampak jauh lebih mudah dan memiliki margin keuntungan tinggi—namun pada dasarnya, ini adalah bisnis yang padat modal;
Pada awalnya, Anda menemukan peluang bisnis, memperoleh keuntungan dari keunggulan informasi (information arbitrage), sehingga bisa mendapatkan sejumlah keuntungan;
Namun seiring masuknya pesaing, biaya sewa tempat akan melonjak tajam, dan kompetisi pun bergeser menjadi siapa yang memiliki modal lebih besar;
Jelas sekali bahwa Buffett tidak memiliki kekuatan modal seperti itu, sehingga pada akhirnya tetap sulit mendapatkan keuntungan—dan akhirnya terpaksa menyerah.
Bagi orang biasa, tanpa keunggulan monopoli berbasis teknologi atau izin usaha, bagaimana cara menghasilkan keuntungan besar?
Satu-satunya cara adalah memanfaatkan keunggulan informasi.
Bisnis mesin biliar pada tahap awal memang demikian—begitu pula banyak bisnis lainnya: beli murah, jual mahal, dan keuntungan diperoleh dari peluang arbitrase informasi.
Jika pada dasarnya semua bisnis ini mengandalkan arbitrase informasi, mengapa tidak membeli saham saja?
Biaya tambahan yang diperlukan paling rendah, likuiditas juga sangat baik—selama Anda memiliki pikiran bisnis dan mampu memanfaatkan peluang, secara teori ini merupakan platform terbaik.
Dengan menyadari hal ini, Buffett secara bertahap mulai mengesampingkan bisnis kecilnya dan mengalihkan fokus minatnya ke pasar saham.
Dan seperti 99,9% investor ritel lainnya, saat pertama kali memasuki pasar saham, Buffett juga memulai dengan mempelajari pola gelombang grafik saham, melakukan trading buy-high-sell-low—namun hasilnya biasa-biasa saja.
Namun, berbeda dengan investor ritel lainnya, Buffett gemar membaca—hampir setiap buku saham di perpustakaan pernah ia pinjam dan baca.
Saat itu, buku-buku saham didominasi oleh aliran teknikal, W.D. Gann, serta “Reminiscences of a Stock Operator”—Buffett membacanya satu per satu, hingga akhirnya menyelesaikan buku Graham berjudul “The Intelligent Investor”.
Akhirnya, ia merasa seolah-olah hatinya tersentuh langsung—pemahamannya menjadi jernih dan terbuka.
Saat mendaftar program pascasarjana, ia memilih Columbia University dan secara resmi menjadi murid Benjamin Graham.
Lalu, apa perbedaan utama antara dirinya dengan investor ritel lainnya?
Buffett lebih dini menyadari kelemahan pendekatan spekulatif berbasis analisis teknis dan beralih ke jalan ilmiah sebagai investor bernilai (value investor).
Tahun tersebut adalah 1950, ketika Buffett berusia 20 tahun.
Setelah lulus, Buffett bekerja selama beberapa tahun sebagai broker saham dan juga berinvestasi saham secara mandiri. Tugas harianannya adalah mengumpulkan informasi dari buku panduan Standard & Poor’s dan Moody’s, kemudian melakukan penelitian dan analisis mendalam, serta membeli dan menahan saham-saham yang menarik minatnya.
Ia secara ketat menerapkan metodologi investasi yang diajarkan oleh Graham, yaitu hanya membeli saham termurah yang memiliki margin keamanan (safety margin).
Semuanya berjalan lancar.
Buffett yang baru memulai karier ini secara bertahap mengumpulkan aset senilai ratusan ribu dolar AS, lalu mulai mendirikan dana investasi swasta dan meningkatkan total aset yang dikelolanya hingga mencapai jutaan dolar AS.
Itu adalah masa yang indah.
Baru berusia 30 tahun, Buffett sudah menjadi seorang jutawan.
Namun, pasar saham tidak semudah itu—ada beberapa “biaya sekolah” yang memang harus dibayar.
Pada tahun 1962, setelah mengalami kenaikan bertahun-tahun, banyak saham sudah tidak lagi murah. Mengacu pada teori sang guru, Buffett menemukan bahwa hampir tidak ada saham yang memenuhi kriteria layak beli.
Setelah mempertimbangkan berbagai opsi, ia memutuskan untuk memasang taruhan pada sebuah perusahaan tekstil yang sedang berada di ambang kebangkrutan: Berkshire Hathaway.
Berdasarkan analisis keuangan, nilai bersih aset (net asset value) perusahaan ini tercatat sebesar 22 juta dolar AS; namun karena kinerja operasional yang buruk, harga sahamnya rendah sehingga perusahaan ini dapat diakuisisi hanya dengan biaya 14 juta dolar AS.
Dengan pola pikir “mendapatkan barang murah”, Buffett secara bertahap membeli saham perusahaan tersebut.
Tak disangka, investasi ini menjadi kegagalan terbesar dalam sejarah karier sang “Dewa Saham”.
Perlu diketahui bahwa pada saat itu total aset yang dikelola Buffett hanya berada di kisaran jutaan dolar AS; akuisisi Berkshire Hathaway berarti ia mempertaruhkan seluruh kekayaannya.
Namun, investasi bukanlah sekadar soal menghitung angka dalam buku akuntansi yang sederhana?
Harga saat ini memang murah, tetapi bagaimana dengan masa depan?
Seusai Perang Dunia II, era perdagangan global tiba, dan industri tekstil Amerika Serikat secara bertahap terkikis oleh gelombang tenaga kerja murah di Asia Timur—akibatnya, harga saham Berkshire Hathaway pun terus merosot.
Warren Buffett justru membeli saham tersebut semakin banyak seiring penurunan harganya, hingga akhirnya mengambil alih kendali penuh—dan terjebak selamanya.
Pada tahun 1985, Berkshire menutup pabrik tekstil terakhirnya, dan hasil lelang seluruh asetnya hanya menyisakan USD 160.000.
Perusahaan cangkang ini kemudian berubah menjadi kapal induk Buffett, yang terus mengingatkannya akan pelajaran penting tersebut.
Lalu, kesalahan apa yang dilakukannya?
—Ia gagal melihat tren besar zaman.
4
Setelah Perang Dunia II, keberuntungan nasional Amerika Serikat meningkat pesat, dan Revolusi Teknologi Ketiga pun meletus.
Pada tahun 1946, IBM menciptakan komputer tabung elektronik generasi pertama, ENIAC, yang membawa umat manusia memasuki era komputer; pada tahun yang sama, Motorola meluncurkan telepon nirkabel pertama untuk kendaraan, yang membawa umat manusia memasuki era komunikasi nirkabel;
Pada tahun 1950, perusahaan RCA meluncurkan televisi berwarna pertama;
Pada tahun 1954, Texas Instruments meluncurkan transistor silikon komersial pertama, yang membawa umat manusia memasuki era baru semikonduktor;
Pada tahun 1956, Motorola meluncurkan produk pager, yang membawa teknologi komunikasi nirkabel ke setiap orang;
Pada tahun 1958, Texas Instruments mengembangkan chip sirkuit terpadu (integrated circuit) pertama di dunia;
Pada tahun 1959, Bank of America menerbitkan kartu kredit pertama, yang kemudian berkembang menjadi sistem pembayaran elektronik VISA yang mendunia;
Pada tahun 1960, Medtronic meluncurkan alat pacu jantung implantable pertama yang andal, membuka dunia baru teknologi peralatan medis;
Pada tahun 1964, IBM meluncurkan komputer besar revolusioner System/360—komputer pertama yang dilengkapi perangkat lunak sistem operasi;
Pada tahun 1967, Texas Instruments menemukan kalkulator genggam, yang saat itu dijual dengan harga tinggi mencapai USD 2.500 per unit;
Pada tahun yang sama, Boeing meluncurkan pesawat 737 pertama, yang menjadi pesawat penumpang paling laris sepanjang sejarah penerbangan—hingga kini jumlah pesanannya mencapai 15.000 unit;
Selama dekade 1950–1960-an, berbagai industri—termasuk komputer, komunikasi, farmasi, transportasi, dan keuangan—semua direvolusi oleh teknologi elektronik baru. Teknologi ini tidak hanya menciptakan gaya hidup yang terus berkembang pesat, tetapi juga membuka pasar biru (blue ocean) yang sepenuhnya baru.
Secara alami, tema utama investasi pada era ini adalah saham pertumbuhan (growth stocks).
Namun, saham pertumbuhan unggulan selalu mahal, sehingga logika investasinya bertentangan tajam dengan “teori margin keamanan” dan prinsip “hanya membeli saham murah” yang dianut Warren Buffett.
Warren Buffett muda melewatkan satu era penting.
Dewa saham era ini adalah Philip Fisher (1907–2004), seorang bijak berusia 98 tahun.
Fisher lulus dari Stanford Graduate School of Business, dan pada masa muda ia bekerja sebagai analis sekuritas. Ia baru lulus ketika Depresi Besar terjadi, sehingga memiliki pengalaman langsung akan risiko pasar saham.
Namun, ia tidak gentar—justru semakin terobsesi dan terus mengasah pemahamannya tentang saham pertumbuhan berbasis teknologi.
Setelah Perang Dunia II berakhir, ekonomi Amerika Serikat tumbuh pesat, dan Fisher pun mendirikan perusahaan investasinya sendiri, lalu secara agresif membeli saham-saham unggulan berkategori growth stock.
Dua saham paling sukses yang dimiliki Fisher adalah Texas Instruments dan Motorola.
Seperti disebutkan sebelumnya, pada tahun 1954 Texas Instruments meluncurkan transistor silikon komersial pertama di dunia, yang menandai awal era semikonduktor;
Tahun berikutnya, 1955, Fisher membeli saham Texas Instruments dalam jumlah besar;
Tiga tahun kemudian, pada 1958, Texas Instruments berhasil mengembangkan chip sirkuit terpadu (integrated circuit) pertama di dunia—dan harga sahamnya terus melonjak;
Pada puncak pasar bullish tahun 1962, harga saham Texas Instruments melonjak 14 kali lipat!
Namun, setelah itu terjadi pasar bearish, harga saham Texas Instruments anjlok sebesar 80%, tetapi Fisher tidak menjual sahamnya dan memilih untuk tetap bertahan;
Pada tahun 1967, Texas Instruments menciptakan kalkulator genggam, dan harga sahamnya kembali mencatat rekor tertinggi dalam beberapa tahun berikutnya, memberikan Fisher pengembalian sebesar 30 kali lipat.
Perusahaan teknologi raksasa lainnya, Motorola, juga memberikan Fisher pengembalian sebesar 20 kali lipat.
Dapat dikatakan bahwa pada masa itu, Texas Instruments dan Motorola setara dengan NVIDIA dan Apple di era saat ini.
Saham pertumbuhan (growth stock) selalu mahal, dan volatilitas harganya pun sangat menakutkan—seperti naik roller coaster—namun selama Anda mampu mengidentifikasi tema utama zaman tersebut dan memilih investasi yang tepat di momentum yang pas, maka imbal hasilnya pun akan luar biasa.
Mengenai investasi saham pertumbuhan, Fisher memiliki dua prinsip inti:
Pertama, membeli saham berarti membeli perusahaan. Perusahaan unggul hanya ada sekitar 5% di pasar mana pun, sehingga jika Anda membeli, belilah perusahaan yang paling unggul.
Perusahaan unggul memiliki tiga ciri khas:
a. Berfokus pada penelitian & pengembangan (R&D) serta inovasi pemasaran, serta memiliki daya tahan kompetitif (competitive moat);
b. Memiliki manajemen unggul yang mampu membantu perusahaan mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam jangka panjang di tengah persaingan industri—faktor ini sangat penting, karena hanya dengan demikian sebuah perusahaan dapat mencatat rekor baru setelah melewati siklus pasar bearish;
c. Memiliki margin laba tinggi, namun pembayaran dividen rendah atau bahkan tidak sama sekali.
Perusahaan pertumbuhan selalu mengalokasikan sebagian besar labanya ke ekspansi bisnis baru. Jika suatu perusahaan memberikan dividen dalam proporsi besar, hal ini umumnya menunjukkan bahwa ekspansi bisnisnya menghadapi kesulitan, sehingga laba sebagian besar dialokasikan untuk pembayaran dividen.
Kedua, pegang saham tersebut dengan prinsip siap terkunci (locked-in) selama tiga tahun—artinya, investasi bersifat jangka panjang.
Ketika sebuah perusahaan unggul mengalami “penjualan paksa” oleh pasar (market overreaction), sehingga harga sahamnya menjadi terdiskon secara signifikan, maka ini merupakan peluang langka yang tak boleh dilewatkan. Saat peluang seperti ini muncul, Anda harus membeli dalam jumlah besar dan tetap memegangnya secara teguh.
Namun, pada umumnya harga saham perusahaan pertumbuhan unggul tidak murah, sehingga cukuplah membelinya pada harga wajar menurut pasar—tidak perlu terlalu memperhitungkan keuntungan atau kerugian jangka pendek.
Sering kali, pasar saham mengalami fluktuasi besar sehingga saham yang baru dibeli langsung mengalami kerugian (paper loss). Lalu, apa yang harus dilakukan?
Selama perusahaan ini tetap unggul dan prospeknya tetap cerah, maka peganglah prinsip “terkunci selama tiga tahun”, makanlah seperti biasa, tidurlah seperti biasa—waktu akan membuktikan segalanya.
Jika Anda menyadari bahwa penilaian awal Anda ternyata keliru, hadapilah secara jujur dan segera keluar, lalu beralih ke perusahaan lain yang prospeknya lebih menjanjikan.
Alasan untuk menjual saham hanya terkait dengan prospek pertumbuhan perusahaan, dan sama sekali tidak berkaitan dengan kenaikan atau penurunan harga saham Anda sendiri.
Memiliki mentalitas investasi yang baik sangat penting—jangan biarkan diri Anda terganggu oleh gejolak pasar atau fluktuasi harian, karena semua itu hanyalah “noise” dalam proses mencapai kesuksesan investasi.
5
Memasuki dekade 1970-an, Buffett masih kewalahan menghadapi saham-saham murah berkualitas rendah miliknya.
Amerika Serikat menghadapi tantangan dari Uni Soviet di bidang antariksa dan militer, sementara secara ekonomi keunggulannya tertutupi oleh kebangkitan Jepang dan Jerman; inflasi domestik melonjak tinggi, dolar melemah, dan berbagai krisis pun bermunculan.
Dampaknya di pasar saham adalah stagnasi selama sepuluh tahun—musim dingin yang suram.
Seperti pepatah, “Zaman menciptakan tokoh-tokoh hebat”—dalam latar belakang zaman besar baru ini, generasi baru talenta pun muncul ke permukaan.
Dekade ini menjadi milik John Templeton (1912–2008, berusia 97 tahun) dan Shelby Cullom Davis (1906–1994, berusia 89 tahun), dua tokoh bijak berumur panjang.
Templeton memiliki sebuah kutipan terkenal: “Pergerakan pasar lahir dari keputusasaan, tumbuh dalam keraguan, matang dalam optimisme, dan berakhir dalam euforia. Saat paling pesimistis justru merupakan momen terbaik untuk membeli, sedangkan saat paling optimistis justru merupakan momen terbaik untuk menjual.”
Inilah prinsip investasi kontrarian ala Templeton.
Davis juga memiliki kutipan terkenal: “Beli saham potensial saat rasio P/E rendah (pasar bearish); seiring kenaikan rasio P/E dan pertumbuhan laba, harga saham akan meningkat secara eksponensial—sebaliknya, harga saham juga bisa turun secara eksponensial.”
Inilah yang terkenal sebagai “Davis Double Play” dan “Davis Double Kill” (prinsip investasi berbunga majemuk).
Pada dasarnya, baik investasi kontrarian maupun investasi berbunga majemuk sama-sama menekankan prinsip “beli murah, jual mahal”, yang selaras dengan prinsip dasar investasi bernilai (value investing).
Prinsip-prinsip ini sebenarnya sudah dipahami banyak orang.
Yang benar-benar membedakan mereka adalah pandangan investasi internasional yang tak tertandingi pada masanya.
Templeton pernah belajar di Inggris saat muda dan banyak berkeliling Eropa, sehingga sangat memahami sejarah, budaya, serta struktur ekonomi Eropa;
Davis juga pernah belajar di Swiss dan bertemu calon istrinya di atas kereta api saat berkeliling Prancis.
Pada tahun 1968, Templeton membuat keputusan yang luar biasa: melepaskan kewarganegaraan Amerika Serikat, pindah ke pulau kecil Bahama di Karibia, dan tinggal di sana selama 40 tahun hingga wafat.
Menurutnya, banyak investor gagal karena terganggu oleh “kebisingan” dan dorongan hasrat yang sulit dikendalikan. Menjauh dari pusat keuangan berarti menjauh dari kebisingan dan hasrat tersebut—hal ini jelas memungkinkannya berinvestasi dengan lebih tenang.
Selain itu, dengan menjauh dari Amerika Serikat, ia pun dapat menilai perekonomian global secara lebih makro dan netral:
Ia berhasil mengidentifikasi peluang investasi luar biasa dalam proses pemulihan pasca-perang di negara-negara seperti Jerman dan Jepang, dan baru keluar dari pasar saham Jepang pada pertengahan 1980-an;
Ia juga memanfaatkan krisis industri otomotif Amerika Serikat akibat persaingan ketat dari Jepang, dengan membeli saham Ford dalam jumlah besar pada tahun 1978 ketika perusahaan tersebut berada di ambang kebangkrutan;
Kemampuan beradaptasi fleksibel ini membawa karier investasi Templeton ke puncak: tingkat pengembalian tahunan rata-rata dana yang dikelolanya mencapai 18,3%, jauh melampaui indeks saham AS pada periode yang sama.
Davis juga memiliki pengalaman serupa.
Pada awal pasca-perang, Davis fokus membeli saham perusahaan asuransi. Berbeda dengan saham bank yang sudah berusia tua, industri asuransi saat itu sedang berada dalam masa pertumbuhan pesat.
Pemerintah AS sedang mendorong program asuransi universal; para veteran kembali ke kehidupan sipil, menikah, dan memiliki anak—selain asuransi jiwa, jenis-jenis asuransi baru seperti asuransi rumah dan asuransi mobil pun bermunculan.
Bonus demografi + peningkatan penetrasi pasar + inovasi produk membuat pertumbuhan saham perusahaan asuransi tidak kalah dibandingkan saham teknologi lainnya.
Awalnya, Davis meminang modal awal sebesar USD 50.000 dari ayah mertuanya untuk memulai karier berinvestasi saham, dan berhasil mengumpulkan modal awal melalui tren bullish pasar saham AS pada 1950-an dan 1960-an;
Ketika gelembung pasar saham AS meledak pada 1960-an, ia dengan tegas beralih ke Jepang dan membeli saham perusahaan asuransi baru di pasar saham Jepang—mengulangi kesuksesan yang sama seperti di pasar saham AS.
Pertumbuhan laba yang stabil + peningkatan rasio P/E + bergantinya tren bullish antarnegara + penggunaan leverage mengubah modal awal USD 50.000 menjadi kekayaan luar biasa sebesar USD 900 juta dalam waktu 40 tahun.
6
Tahun 1977–1978 merupakan titik balik bersejarah dalam sejarah Amerika Serikat.
Pada tahun 1977, George Lucas merilis film fiksi ilmiah legendaris *Star Wars*, yang menggemparkan dunia dan mendorong industri perfilman memasuki era film-film berteknologi efek khusus;
Pada tahun yang sama, perusahaan Apple meluncurkan Apple II—komputer pribadi pertama dalam sejarah umat manusia;
Tahun berikutnya, IBM meluncurkan produk komputer PC sebagai tandingan langsung, serta memperkenalkan chip Intel 8088 dan perangkat lunak BASIC dari Microsoft, sehingga membuka era “Komputasi 2.0” di tingkat global.
Dengan dorongan kekuatan inovasi teknologi ini, Amerika Serikat kembali bangkit dan membalikkan posisi persaingannya dengan Uni Soviet, sementara investasi saham pertumbuhan (growth stocks) kembali menjadi tema utama zamannya.
Pada tahun 1978, Warren Buffett berusia 49 tahun dan Charlie Munger berusia 55 tahun—pertemuan mereka menjadi titik balik sepanjang karier profesional seumur hidup keduanya.
Anda mungkin belum mengetahui bahwa, meskipun keduanya dianggap sebagai pasangan investasi terbaik dalam sejarah, para maestro yang kemudian dijunjung tinggi oleh generasi berikutnya justru memiliki kepribadian yang saling berlawanan.
Saat masih muda, nilai akademik Buffett hanya berada di kisaran sedang-atas, sehingga ia ditolak oleh Universitas Harvard—yang merupakan pilihan pertamanya—sedangkan Munger benar-benar seorang mahasiswa berprestasi luar biasa, lulus dari Fakultas Hukum Universitas Harvard.
Buffett bersifat pendiam dan tidak suka bersosialisasi, sehingga setelah bekerja beberapa tahun, ia kembali ke kota kelahirannya, Omaha, untuk berinvestasi saham secara mandiri; sementara Munger terus tinggal di kota besar Los Angeles dan aktif menjajaki berbagai peluang bisnis.
Bagi Buffett, satu-satunya fokus adalah saham—dan satu-satunya pedoman adalah “seni batin” (inner game) investasi yang diajarkan oleh gurunya, Benjamin Graham;
Sedangkan Munger adalah sosok yang sangat penuh rasa ingin tahu, gemar membaca berbagai jenis buku, serta mendalami beragam bidang—tidak hanya saham, tetapi juga properti, ekuitas swasta (private equity), dan banyak lagi.
Namun pada dekade 1970-an, Buffett mengalami masa-masa sulit—begitu pula Munger.
Buffett terjebak dalam strategi investasi “cigar butt” (saham murah berpotensi nilai tersisa), tanpa mampu keluar darinya. Ia pun gelisah: mengapa model “margin of safety” yang tampak ilmiah justru bisa menjadi jebakan nilai (value trap) yang begitu berbahaya?
Sedangkan masalah Munger adalah: “Saya memahami semua teorinya, tapi tetap saja mudah terbawa emosi.”
Akibatnya, dua tahun sebelum bergabung sebagai mitra Buffett, karier investasi Munger mengalami kerugian besar secara berturut-turut—yang membuatnya kehilangan semangat hingga sempat membubarkan perusahaan investasinya sendiri.
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.
Charlie Munger mahir dalam perencanaan namun kurang cakap dalam pengambilan keputusan; di zaman kuno, ia cocok menjadi penasihat militer, sedangkan di era modern, ia cocok menjadi analis;
Warren Buffett mahir dalam pengambilan keputusan namun kurang cakap dalam perencanaan; di zaman kuno, ia cocok menjadi jenderal, sedangkan di era modern, ia cocok menjadi trader.
Ketika trader Warren Buffett bertemu dengan analis Charlie Munger,
Buffett bertanya:
“Sepanjang hidup saya, saya selalu memegang teguh prinsip margin of safety. Namun, ternyata bahkan saham bernilai rendah yang tampak aman pun bisa menyimpan jebakan nilai (value trap) yang sangat besar. Mohon petunjuk, bagaimana cara mengatasinya?”
Munger menjawab:
“Saya memiliki tiga strategi rahasia:
Pertama, alih-alih menghabiskan waktu dan energi untuk membeli perusahaan buruk dengan harga murah, lebih baik berinvestasi pada perusahaan-perusahaan unggul dengan harga wajar.
Kedua, jika pertumbuhan suatu perusahaan cukup baik, maka meskipun harganya sedikit lebih tinggi, saham tersebut tetap layak dibeli.
Ketiga, berinvestasi saham bukan hanya tentang peluang industri, produk, dan model bisnis perusahaan tersebut, melainkan—yang lebih penting—tentang apakah manajemen perusahaan itu terdiri dari orang-orang yang berambisi tinggi dan mampu mengelola perusahaan secara efektif. Jika demikian, maka bahkan jika harganya dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi, harga tersebut tetap merupakan harga yang murah.”
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Buffett seolah tersadarkan sepenuhnya. Kemudian, ia berkata kepada temannya:
“Dengan kekuatan pemikirannya, ia memperluas wawasan saya, sehingga saya berevolusi dari seekor kera menjadi manusia dalam kecepatan yang luar biasa. Tanpa bantuannya, saya akan jauh lebih miskin daripada sekarang.”
Dapat dikatakan bahwa sejak Buffett dan Munger bergabung, metodologi investasi Buffett mengalami peningkatan signifikan.
Ia tidak lagi terpaku pada saham “rokok bekas” (cigar butt stocks) berharga murah, melainkan memilih perusahaan-perusahaan unggul dengan pertumbuhan stabil dan berinvestasi pada mereka dengan harga wajar.
Ini setara dengan menggabungkan pendekatan Benjamin Graham dan Philip Fisher secara utuh dan harmonis.
Tidak ada lagi pesaing yang mampu menandinginya di dunia ini.
Oh tidak, masih ada lawan~~~
Pada 1980-an, dunia investasi melahirkan seorang jenius—Peter Lynch, generasi kedua master saham pertumbuhan.
Peter Lynch lahir pada tahun 1944, satu tahun sebelum berakhirnya Perang Dunia II, ketika Sekutu melancarkan Operasi Pendaratan Normandia dan kemenangan sudah di tangan.
Dari segi pengalaman profesional, Peter Lynch memang hanya seorang junior;
Namun dari sisi pengalaman investasi, ia memiliki keunggulan yang tak tertandingi dibanding para pendahulunya.
Pertama, ia tidak mengalami masa-masa suram seperti Depresi Besar atau kekacauan perang yang membuat orang bergidik ngeri; ia tumbuh dalam masa kemakmuran ekonomi pasca-perang, sehingga psikologinya jauh lebih santai dan optimis, serta lebih berani mengambil risiko;
Kedua, sejak lulus kuliah, ia langsung bergabung dengan Fidelity Investments—dana investasi ternama saat itu—mulai dari posisi magang, menerima pelatihan teoretis profesional, serta beroperasi di platform besar; sehingga titik awal karier investasinya tinggi dan ia terhindar dari banyak kesalahan umum;
Terakhir, keberuntungannya cukup besar: pada tahun 1977, Lynch mengambil alih manajemen Fidelity Magellan Fund, dan selama 1980-an saham pertumbuhan melesat pesat. Lynch melakukan diversifikasi portofolio secara luas, lalu mundur secara tegas di puncak karier.
Menurut statistik, selama 13 tahun Lynch mengelola Fidelity Magellan Fund (1977–1990), tingkat pertumbuhan majemuk tahunannya mencapai 29%, merupakan tingkat pengembalian rata-rata tertinggi di antara semua master investasi—bahkan mengungguli kinerja Warren Buffett.
Dana yang dikelolanya pun tumbuh dari aset awal sebesar USD 20 juta menjadi USD 14 miliar, dengan jumlah pemegang unit lebih dari 1 juta orang, menjadikannya dana manajemen aset terbesar di dunia pada masa itu.
Dalam hal gaya investasi, Peter Lynch memiliki dua prinsip inti:
Pertama, fokus pada perusahaan kecil yang kurang diperhatikan pasar namun memiliki fundamental kuat.
Prinsip ini sangat berbeda dari Fisher, yang gemar membeli saham teknologi utama, sedangkan Lynch justru menyukai saham konsumen non-arus utama.
Selama karier investasinya, Lynch membeli lebih dari 10.000 saham, mayoritas adalah perusahaan kecil di segmen spesifik, seperti Toys "R" Us, The Body Shop, dan La Quinta Inns & Suites.
Kasus paling terkenal adalah Walmart, tetapi ketika Lynch membeli saham tersebut, perusahaan baru beberapa tahun terdaftar di bursa dan masih berstatus perusahaan menengah.
Walmart melantai di bursa pada tahun 1972, dan dalam 25 tahun berikutnya, kapitalisasi pasarnya meningkat 5.000 kali lipat—berawal dari sebuah toko diskon biasa di kota kecil tengah Amerika Serikat hingga berkembang menjadi jaringan supermarket terbesar di dunia dan perusahaan peringkat #1 dalam daftar Fortune Global 500.
Pada 1980-an, masa keemasan ekspansi eksternal perusahaan ini, teknologi komputer diperkenalkan dan rantai pasokan direstrukturisasi, sehingga pertumbuhannya tak tertandingi.
Pada periode ini, pendapatan Walmart meningkat dari USD 1,655 miliar pada tahun 1981 menjadi USD 32,6 miliar pada tahun 1991, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 34,72%. Laba bersih juga tumbuh 22 kali lipat, sementara harga sahamnya melonjak 61 kali lipat.
Kedua, diversifikasi investasi—jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang—dan memegang investasi tersebut dalam jangka panjang.
Prinsip ini berlawanan dengan pandangan Fisher, yang lebih menyukai kepemilikan saham terkonsentrasi, sedangkan Lynch justru lebih memilih kepemilikan saham terdiversifikasi.
Ada dua alasan utama untuk hal ini.
Pertama, karena ukuran dana investasi Lynch sangat besar—terutama di tahap akhir—dan sebagian besar saham yang dibelinya adalah saham kapitalisasi kecil, sehingga diversifikasi menjadi suatu keharusan;
Kedua, Lynch berpendapat bahwa kepemilikan saham terkonsentrasi membuat investor rentan terhadap fluktuasi besar harga saham, sehingga sulit menjaga stabilitas psikologis dan berubah menjadi spekulasi jangka pendek.
Bagaimanapun juga, Lynch adalah sosok yang cukup cerdas, cukup rajin, dan juga cukup beruntung.
Ada sebuah contoh yang sangat menarik.
Pada tahun 1989, Buffett pernah membeli saham perusahaan penerbangan. Namun, setelah pembelian, nasib buruk datang bertubi-tubi: pertama, Perang Teluk menyebabkan harga minyak melonjak tajam; kemudian, selama beberapa tahun berturut-turut terjadi kecelakaan penerbangan besar-besaran.
Akibatnya: perusahaan ini mengalami kerugian bertahun-tahun dan sempat berada di ambang kebangkrutan.
Ini merupakan investasi paling gagal dalam paruh kedua kehidupan Buffett, sehingga ia tidak berani lagi menyentuh saham perusahaan penerbangan selama 20 tahun berikutnya, bahkan dengan kesal menyebut saham penerbangan sebagai “penghancur nilai”.
Namun, Lynch berbeda: investasi pertamanya dalam hidup adalah saham perusahaan penerbangan.
Saat itu Lynch baru memasuki perguruan tinggi, dan menggunakan beasiswa sebesar lebih dari seribu dolar AS untuk membeli saham Flying Tiger Line. Harga belinya saat itu adalah USD 7 per saham, dan kemudian saham tersebut dijual ketika harganya mencapai USD 32, sehingga menghasilkan kenaikan harga sebesar 450%.
Inilah yang disebut takdir.
7
Investasi adalah lomba lari jarak jauh.
Pada tahun 1990, Peter Lynch—seorang jenius muda—menarik diri dari dunia investasi, dan kemudian dimulailah “Era Buffett”.
Buffett dan Munger, silakan mulai menyaksikan keajaiban yang akan terjadi!
Menurut perhitungan Forbes, selama 20 tahun terakhir, Buffett secara konsisten menempati posisi tiga besar dalam daftar orang terkaya dunia, dengan kekayaan bersih pribadi saat ini mencapai lebih dari USD 80 miliar.
Lebih dari 95% kekayaan tersebut diperoleh setelah tahun 1990.
Mengapa pencapaian Buffett begitu gemilang dalam 30 tahun terakhir?
Mari kita lihat tabel berikut:
Ini adalah 15 posisi saham terbesar yang diungkapkan Berkshire Hathaway dalam “Surat kepada Pemegang Saham” tahun 2018.

Berkshire Hathaway, merupakan kapal induk investasi Buffett, yang awalnya berasal dari sebuah pabrik tekstil yang sedang mengalami kesulitan. Saat ini, nilai pasar perusahaan ini mencapai USD 500 miliar, menjadikannya perusahaan kelima terbesar di bursa saham AS, setelah Microsoft, Amazon, Apple, dan Google.
Kantor pusat perusahaan ini hanya diisi oleh dua puluh beberapa orang, sebagian besar adalah perempuan yang bertanggung jawab atas administrasi, keuangan, dan urusan hukum, serta 4–5 manajer investasi.
Gambar di bawah ini adalah foto keluarga pesta Natal mereka pada tahun 2014.

Sebagai pengambil keputusan utama, Buffett biasanya memberikan instruksi transaksi dari rumah kecil ini.

Selama 60 tahun terakhir, Buffett terus tinggal di sini.
Ini adalah kota kecil tingkat tiga di pedalaman Amerika Serikat—penduduknya sedikit, udaranya segar, dan setiap malam Anda dapat menatap langit berbintang tanpa terganggu oleh kabut asap, kebisingan lalu lintas jalan raya, atau hiruk-pikuk lampu berwarna-warni.
Sangat sedikit media yang meliput kota ini, dan tidak perlu bolak-balik menghadiri berbagai acara sosial maupun industri.
Pikirannya sangat tenang.
Hal ini memungkinkan keputusannya tetap penuh rasionalitas.
Secara berkala, Munger—yang tinggal di Los Angeles, sejauh 2.500 km—meneleponnya. Sang analis dengan wawasan luas itu dengan antusias memberi tahu Buffett tentang perusahaan-perusahaan bagus baru yang layak diinvestasikan.
Sementara itu, Buffett selalu bersikap sangat hati-hati: lebih banyak mengamati, lebih sedikit bertindak.
Ia mengatakan, “Arah jauh lebih penting daripada kerja keras—seratus kali lipat.”
Mari kita lihat 15 saham utama yang saat ini dimiliki Buffett—
Wells Fargo, Apple, Bank of America, Coca-Cola, American Express, Phillips 66, U.S. Bancorp, Moody’s, Southwest Airlines, Delta Air Lines, Goldman Sachs, Bank of New York Mellon, Charter Communications, BYD, General Motors.
Tujuh saham berasal dari sektor keuangan (empat di antaranya adalah bank), yaitu Wells Fargo, Bank of America, American Express, U.S. Bancorp, Moody’s, Goldman Sachs, dan Bank of New York Mellon.
Alasan penting membeli begitu banyak saham keuangan dan perbankan adalah karena kapitalisasi pasar saham keuangan besar dan pendapatannya stabil—sehingga berfungsi sebagai "penyeimbang" bagi perusahaan investasi besar seperti Berkshire Hathaway.
Selain itu, Apple adalah perusahaan teknologi, Coca-Cola adalah perusahaan barang konsumen, Phillips 66 adalah perusahaan energi, Southwest Airlines dan Delta Air Lines adalah perusahaan transportasi, Charter Communications adalah perusahaan media, BYD adalah perusahaan mobil energi baru, dan General Motors adalah perusahaan manufaktur tradisional.
Portofolio ini sangat beragam, sesuai prinsip “jangan meletakkan semua telur dalam satu keranjang”.
Lebih lanjut, saham-saham maskapai penerbangan—yang dulu sangat dibenci Buffett—dan saham teknologi—yang dulu ia bersumpah tidak akan sentuh—kini masing-masing telah masuk daftar saham utama tersebut.
Kita bahas secara khusus lima saham dengan tingkat pengembalian tertinggi—
Moody’s, 1368%;
Coca-Cola, 1312%;
American Express, 1069%;
BYD, 745%;
Goldman Sachs, 343%.
Saham-saham ini telah dipegang dalam jangka waktu yang sangat panjang—seringkali lebih dari sepuluh tahun.
Dua saham dengan masa kepemilikan terpanjang—selama 30 tahun—adalah American Express dan Coca-Cola.
Mari kita mulai dengan American Express.
Perusahaan ini berusia lebih dari seratus tahun. Pada awalnya, perusahaan ini bergerak di bidang layanan kurir; kemudian beralih ke bisnis cek perjalanan pada masa tengahnya; dan akhirnya bertransformasi menjadi penyedia kartu kredit konsumen.
Warren Buffett membeli saham ini dua kali. Pertama kali pada 1960-an, setelah harga sahamnya anjlok drastis akibat skandal keuangan. Buffett kemudian membeli dalam jumlah besar, dengan porsi kepemilikan mencapai 40%.
Tiga tahun kemudian, investasi ini menghasilkan imbal hasil 2–3 kali lipat, atau keuntungan lebih dari 10 juta dolar AS—suatu pencapaian yang sangat memuaskan bagi Buffett.
Dengan demikian, ini merupakan contoh klasik dari strategi “turnaround in distress” (pemulihan dari kondisi sulit).
Pada 1990, American Express kembali menghadapi kesulitan: kekalahan dalam persaingan melawan dua raksasa kartu kredit—VISA dan Mastercard—mengakibatkan penurunan kinerja sekaligus harga sahamnya.
Sahabat lama kembali hadir.
Kali ini, Buffett melakukan riset mendalam dan menemukan bahwa manajemen perusahaan telah berganti. Manajemen baru memilih fokus pada bisnis inti serta menerapkan strategi positioning diferensiasi untuk bersaing dengan dua raksasa kartu kredit tersebut.
VISA dan Mastercard menargetkan pasar konsumen umum, sedangkan kartu American Express memilih fokus pada segmen pasar premium—hanya melayani 20% konsumen berpenghasilan tinggi.
Pada 1991, 1994, dan 1995, Buffett melakukan penambahan posisi (buying) berturut-turut sebanyak tiga kali—dan terus memegang saham ini hingga saat ini.
Pada 1999, nilai investasi awal senilai 1,4 miliar dolar AS telah berkembang menjadi 8,4 miliar dolar AS—naik enam kali lipat.
Pembelian kedua memiliki alasan yang serupa dengan pembelian pertama.
Pada pandangan pertama, keduanya merupakan saham pertumbuhan yang mengalami perubahan dari kondisi sulit menjadi membaik. Namun, jika dianalisis lebih dalam, keberhasilan keduanya tak lepas dari dukungan “nasib nasional” suatu negara.
Seperti disebutkan sebelumnya, pada dekade 1950–1960-an, Amerika Serikat memenangkan Perang Dunia II dan berada di puncak “nasib nasional”-nya, yang memicu sebuah pasar saham pertumbuhan besar-besaran—dan membantu tokoh-tokoh seperti Philip Fisher menaiki gelombang tersebut.
Dekade 1990-an merupakan masa kejayaan kedua Amerika Serikat pasca-perang.
Pertama-tama, Tembok Berlin runtuh dan Imperium Soviet kolaps, sehingga puluhan negara beralih ke sistem kapitalis dan membuka pasar luas bagi perusahaan multinasional.
Kemudian, revolusi internet meledak, meningkatkan efisiensi produksi dan melahirkan lapisan baru miliarder teknologi.
Latar belakang “nasib nasional” inilah yang menjadi penyebab utama munculnya pasar saham besar di AS pada dekade 1990-an—dan juga memberikan manfaat besar bagi transformasi premium American Express.
Prinsip yang sama juga berlaku bagi Coca-Cola.
Pada tahun 1987, Amerika Serikat mengalami krisis keuangan, dan harga saham Coca-Cola turun sebesar 30%. Tahun berikutnya, Warren Buffett membeli saham Coca-Cola secara besar-besaran senilai USD 1 miliar.
Saat itu, kapitalisasi pasar Coca-Cola hanya sebesar USD 15 miliar.
Selama 10 tahun berikutnya, Coca-Cola melakukan ekspansi besar-besaran ke pasar Asia dan Eropa Timur, sehingga pendapatannya berlipat dua—menjadikan periode ini salah satu fase pertumbuhan terbaik dalam sejarah lebih dari 100 tahun perusahaan tersebut.
Pada tahun 1998, kapitalisasi pasar Coca-Cola mencapai USD 150 miliar—naik 10 kali lipat dibandingkan 10 tahun sebelumnya—dan menjadi saham paling menguntungkan dalam portofolio investasi Buffett.
Buffett sangat puas dengan pengembalian investasinya di Coca-Cola, dan selalu menekankan daya tahan “moat” perusahaan serta loyalitas mereknya—yang menurutnya layak dipegang seumur hidup.
Namun, jika kita memecah data tersebut, ternyata tiga perempat dari total keuntungan Buffett selama 30 tahun kepemilikannya atas saham Coca-Cola justru berasal dari 10 tahun pertama—periode ketika perusahaan sedang giat melakukan ekspansi global sebagai saham pertumbuhan.
Sedangkan selama 20 tahun berikutnya, setelah botol Coca-Cola telah memenuhi setiap sudut “desa global”, potensi pertumbuhan perusahaan mencapai batas maksimal—sehingga sebenarnya tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap keuntungan Buffett.
Tiga saham lainnya—Moody’s dibeli pada tahun 2001, sementara Goldman Sachs dan BYD dibeli pada tahun 2008—tahun di mana krisis keuangan terjadi tepat setiap 10 tahun sekali.
Secara mendalam membuktikan makna kutipan: “Saya takut ketika orang lain rakus, dan saya rakus ketika orang lain takut.”
Namun, dibandingkan dengan dua saham keuangan—Moody’s dan Goldman Sachs—investasi di BYD justru lebih mengejutkan.
Pasalnya, ini merupakan pertama kalinya perusahaan teknologi muncul di antara saham unggulan Warren Buffett—terlebih lagi, perusahaan tersebut berasal dari Tiongkok.
8
Sebenarnya, Buffett telah lama memperhatikan Tiongkok.
Pada tahun 2003, saat wabah SARS merebak di Tiongkok daratan, Buffett diam-diam membeli saham PetroChina senilai USD 488 juta di pasar saham Hong Kong.
Lima tahun kemudian, pada puncak pasar bullish tahun 2007, Buffett menjual seluruh saham tersebut. Nilai total sahamnya telah melonjak menjadi USD 4 miliar, ditambah dividen kumulatif sebesar USD 240 juta.
Ini merupakan satu kemenangan klasik, di mana Buffett sepenuhnya menangkap bonus pasar bullish yang muncul seiring bangkitnya ekonomi Tiongkok.
Tujuh belas tahun lalu, bonus terbesar ekonomi Tiongkok adalah urbanisasi dan properti, serta kelangkaan permintaan dan kenaikan harga energi dan baja terkait.
Buffett secara tajam menangkap peluang ini.
Dua belas tahun lalu, tenaga kerja murah Tiongkok mulai memudar, sementara industri teknologi baru mulai menunjukkan tunas pertamanya.
Charlie Munger merekomendasikan BYD, dan setelah bertemu dengan Wang Chuanfu—pendiri perusahaan mobil energi baru tersebut—Buffett langsung memutuskan untuk membeli 10% saham BYD senilai USD 230 juta.
Sepuluh tahun kemudian, investasi ini telah menjadi salah satu kasus dengan tingkat pengembalian tertinggi dalam sejarah karier Buffett—masuk lima besar.
Mengulas sejarah investasi selama seratus tahun, para tokoh yang mampu berdiri di ujung gelombang perubahan selalu memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca momentum nasional dan situasi zaman.
Pada 1920-an, Jesse Livermore berhasil memanfaatkan bangkitnya Amerika Serikat, ledakan properti, dan maraknya gelembung spekulasi—bahkan ia berbalik melakukan short selling tepat di puncak gelembung tersebut, sehingga memperoleh julukan “Raja Spekulasi”;
Pada 1960-an, Philip Fisher berhasil memanfaatkan revolusi teknologi besar ketiga pasca-perang dunia, termasuk pertumbuhan pesat perusahaan-perusahaan teknologi unggulan seperti Texas Instruments dan Motorola—sehingga meneguhkan posisinya sebagai “Bapak Saham Pertumbuhan”;
Pada 1970-an, ekonomi Amerika Serikat mengalami kesulitan transisi; Templeton dan Davis beralih berinvestasi di Jepang dan Jerman, dan pandangan internasional menjadi kunci penentu keberhasilan;
Pada 1980-an, ekonomi Amerika Serikat pulih, saham pertumbuhan kembali mendominasi pasar, dan Lynch—master saham pertumbuhan generasi kedua—muncul sebagai tokoh unggulan;
Pada 1990-an, Buffett memanfaatkan peluang historis ketika ekonomi Amerika Serikat mencapai puncak baru, menaiki gelombang saham-saham unggulan seperti Coca-Cola dan American Express, sehingga melambung tinggi ke langit. Seperti dikatakan, “Zaman menciptakan pahlawan”—tanpa keberlanjutan keberuntungan nasional Amerika Serikat selama seratus tahun, mana mungkin lahir begitu banyak master investasi?
Namun, berbeda dengan beberapa master investasi lainnya, Buffett tidak berjuang sendirian.
Di belakangnya berdiri Munger, seorang analis kelas dunia yang membukakan jalan bagi Buffett untuk menyaksikan cakrawala yang jauh lebih luas.
Di bawah bimbingan Munger, Buffett tidak lagi terpaku pada saham-saham murah ala “rokok sisa” (cigar butt) di masa awal karier-nya, melainkan juga berinvestasi pada sejumlah saham teknologi dan pertumbuhan seperti Apple dan BYD; ia pun tidak lagi hanya membeli saham perusahaan Amerika Serikat, tetapi memandang ke seluruh dunia dan berupaya menemukan peluang di Tiongkok yang sedang bangkit.
Dalam portofolio investasi Buffett, Anda dapat merasakan penggabungan harmonis antara konsep margin of safety ala Graham, prinsip saham pertumbuhan berkualitas ala Fisher, pandangan investasi global ala Templeton dan Davis, serta kesadaran akan diversifikasi investasi ala Lynch.
Seperti halnya industri lainnya, pasar investasi juga memiliki peluang, risiko, dan titik-titik buta. Kemampuan individu pada akhirnya terbatas; oleh karena itu, kerja sama tim semakin dibutuhkan—melalui metode ilmiah dan profesional serta pembagian tugas dan kolaborasi—untuk bersama-sama menghadapi badai hebat.
Inilah mengapa Livermore di masa awal karier-nya—meskipun jenius sekalipun—tetap tak mampu menghindari kebangkrutan berulang kali; sementara Buffett saat ini mampu bertahan selama lebih dari setengah abad dengan kemenangan terus-menerus.
Pada 2019, Buffett berusia 90 tahun, sedangkan Munger berusia 96 tahun.
Dalam wawancara media, pikiran mereka tetap jernih, pemikiran mereka tetap mendalam, dan tutur kata mereka sering kali mencerminkan kebijaksanaan mendalam tentang dunia serta ketulusan yang tak pernah melupakan asal-usul.
Apakah pengalaman bertahun-tahun di dunia investasi yang memberikan mereka sikap tenang tanpa goyah?
Atau justru tingkatan tertinggi dalam investasi memang merupakan penyaringan terhadap hukum-hukum dasar operasi segala sesuatu di dunia ini, serta integrasi sempurna antara jiwa dan raga?
Graham, 83 tahun; Fisher, 98 tahun; Templeton, 97 tahun; Davis, 89 tahun…
Investasi, pada hakikatnya, adalah sebuah latihan spiritual.
9
Pada tahun 2007, tepat sebelum krisis keuangan, matahari bersinar terik.
Presiden Amerika Serikat George W. Bush mengundang seorang bernama Ray Dalio ke Gedung Putih untuk menjelaskan secara rinci mengenai krisis pinjaman hipotek.
Saat itu, krisis subprime baru mulai menampakkan tanda-tandanya, dan belum ada yang benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
Dalio dengan tegas menyatakan:
Tingkat pinjaman dan leverage lembaga keuangan Amerika Serikat saat ini telah mencapai tingkat yang setara dengan krisis kredit Jerman pada masa Republik Weimar; kemampuan membayar utang sangat rapuh, sehingga kebangkrutan massal sistem perbankan sudah tak terelakkan lagi.
Beberapa bulan kemudian, krisis keuangan semakin dalam, dan sebanyak 400 bank di seluruh Amerika Serikat bangkrut—bahkan institusi keuangan ternama berusia lebih dari seratus tahun seperti Lehman Brothers, Merrill Lynch, dan Bear Stearns pun tak mampu menghindari nasib serupa.
Citigroup dan AIG Insurance, antara lain, hanya mampu bertahan hidup berkat suntikan dana darurat dari Federal Reserve.
Saham-saham unggulan Warren Buffett—seperti Wells Fargo, American Express, dan Moody’s—semua anjlok hingga separuh harga, sehingga menimbulkan kerugian besar pula.
Hanya Bridgewater Associates, dana lindung nilai milik Dalio, yang berhasil mencatatkan return positif hampir 9%, berkat antisipasi dini terhadap krisis serta strategi pembelian obligasi pemerintah dan emas dalam jumlah besar, serta short selling dolar AS.
Pasca-krisis, reputasi Bridgewater Associates meningkat pesat, dan secara bertahap menduduki posisi sebagai dana lindung nilai terbesar di dunia.
Ray Dalio, sang maestro investasi generasi kita saat ini, juga dianggap sebagai ahli manajemen risiko siklus terbaik di masanya.
Lalu, bagaimana Dalio mampu melewati risiko tanpa mengalami kerugian sama sekali?
Ray Dalio lahir pada tahun 1949 di New York—semasa dengan Peter Lynch.
Sejak masa sekolah menengah, ia mulai berinvestasi saham, dan saham pertamanya adalah Northeast Airlines—sama seperti Lynch, saham tersebut juga berasal dari sektor penerbangan.
Kemudian, harganya naik tiga kali lipat, dan ia langsung merealisasikan keuntungan tersebut.
Setelah itu, ia diterima di Harvard Business School—kembali menjadi rekan sekelas Peter Lynch.
Dapat dikatakan bahwa orang yang sangat cerdas ini memiliki pengalaman hidup awal yang hampir identik dengan Lynch.
Namun, pada 1980-an, jalur karier keduanya mulai berbeda.
Lynch menerapkan strategi investasi terdiversifikasi dan memanfaatkan peluang saham pertumbuhan—seorang jenius sejati;
sedangkan Dalio melihat munculnya masalah utang di Meksiko dan mengira ekonomi Amerika Serikat juga akan tertekan akibatnya, sehingga ia memasang taruhan untuk short (jual kontrak berjangka). Namun, prediksinya salah, dan nyaris membuatnya bangkrut.
Kegagalan ini sangat menyakitkan bagi Dalio.
Justru karena rasa sakit itulah, ia mulai merefleksikan diri dan secara mendalam mempelajari buku A Monetary History of the United States, serta menganalisis data krisis ekonomi, leverage utang, dan kinerja berbagai aset selama lebih dari seratus tahun.
Ada sebuah pepatah di dunia investasi: “Tidak ada hal baru di bawah matahari.”
Setiap fluktuasi siklus dan setiap konsep yang dikemas—betapa pun aneh bentuk variasinya—semuanya dapat ditemukan jawabannya dalam sejarah.
Hanya dengan menguasai kasus-kasus historis dan pola-pola tersebut secara mendalam, seseorang dapat terhindar dari kehilangan arah akibat kegaduhan masa kini, kehilangan ketenangan pikiran, dan menjadi tidak siap menghadapi situasi tak terduga.
Menurut laporan media, ruang kerja Dalio dipenuhi buku-buku, terutama riset-riset tentang krisis ekonomi—mulai dari Depresi Besar Amerika pada 1930-an, “dekade yang hilang” Jepang pada 1990-an, hingga krisis utang Amerika Latin.
Setelah menekuni penelitian intensif selama lebih dari satu dekade, pada 1996 Dalio meluncurkan strategi All Weather:
Secara sederhana, pasar investasi memiliki empat musim seperti siklus alamiah, sehingga strategi alokasi aset harus disesuaikan dengan kondisi iklim ekonomi masing-masing.
Saat pertumbuhan ekonomi, saham, komoditas, dan aset negara berkembang merupakan pilihan ideal;
saat resesi ekonomi, obligasi menjadi instrumen yang paling cocok;
saat inflasi tinggi, komoditas dan aset negara berkembang menjadi pilihan terbaik;
dan saat inflasi rendah, saham serta obligasi menjadi pilihan optimal.
Dengan terus-menerus menyesuaikan alokasi aset dalam siklus risiko dan peluang, seseorang dapat melewati berbagai tantangan tanpa terpengaruh olehnya sama sekali.
Dari sudut pandang filosofi investasi, cakupan pandangan Ray Dalio jauh lebih makro dibandingkan para pendahulunya.
Cakupan pandangannya mencakup jangka waktu seratus tahun, dan ia tidak lagi terpaku pada fluktuasi detail saham tunggal, melainkan mempertaruhkan masa depan suatu negara secara keseluruhan.
Pada tahun 2018, Bridgewater secara resmi mendirikan dana pensiun swasta pertamanya di Tiongkok, secara bertahap mengalihkan posisi investasinya dari saham AS yang telah berada dalam tren bullish selama sepuluh tahun ke negara-negara berkembang yang sedang bangkit.
