德鼎创新王岳华:Web3的趋势与思考

Wang Yuehua dari DDC Innovation: Tren dan Refleksi Web3

BroadChainBroadChain30/09/2022, 19.40
Konten ini telah diterjemahkan oleh AI
Ringkasan

DAO serta Web3 masih membutuhkan waktu 5–10 tahun. Dari sudut pandang investasi awal, saat ini justru merupakan momen bagi investor untuk mulai menempatkan posisi dan bagi para pendiri startup untuk mulai berpikir.

Berinvestasi sejak dini berarti memikirkan masa depan. Ungkapan “masa depan sudah tiba” sering kita dengar, tapi sebenarnya seperti apa wujudnya? Sulit untuk memprediksinya dengan pasti. Namun, membayangkan kondisi satu, lima, bahkan sepuluh tahun ke depan adalah kebiasaan yang perlu kita pupuk.

Bagaimana perubahan akan terjadi di masyarakat, ekonomi, teknologi, aplikasi komersial, lingkungan, bahkan kehidupan pribadi kita? Memikirkan masa depan adalah hal mendasar bagi investor dan pendiri startup. Topik-topik populer seperti Web3, DAO, dan metaverse memang benar-benar mewakili “masa depan yang sudah di depan mata”.

Mari kita lihat prediksi Gartner yang dirilis Juli 2022 tentang siklus hidup berbagai sub-sektor dalam ekosistem blockchain. Laporan itu menunjukkan, metaverse masih butuh lebih dari 10 tahun untuk matang, sementara DAO dan Web3 masing-masing memerlukan 5–10 tahun lagi. Dari sudut pandang investasi awal, inilah momen yang tepat bagi investor untuk menanamkan modal dan bagi pendiri startup untuk merancang strategi.

Gambar

Perkembangan internet hingga saat ini memungkinkan platform dan lembaga terpusat menyelesaikan banyak masalah, meningkatkan efisiensi, dan mendorong pertumbuhan ekosistem—terutama melalui efek jaringan yang dimaksimalkan. Namun, meski Web2 berhasil mengatasi banyak persoalan, ia juga menciptakan tantangan baru: kebocoran identitas pengguna, ketidaktransparanan data, pelanggaran privasi, hingga pencurian data yang mengancam keamanan aset.

Keunggulan asimetris dan monopoli platform terpusat membuat pengguna kehilangan kebebasan dan kepercayaan. Inovasi seperti basis data terdistribusi, smart contract, komputasi privasi, identitas mandiri (self-sovereign identity), dan penyimpanan terdistribusi hadir untuk mengatasi masalah-masalah ini—membawa internet ke tingkat yang lebih maju. Inilah alasan kita beralih ke Web3.

Selain Web3, DAO dan metaverse akan bersama-sama membentuk kerangka dasar masa depan. Ketiganya akan memicu lahirnya infrastruktur inovatif, mendekonstruksi model bisnis tradisional, serta merekonstruksi sistem organisasi ekonomi dan paradigma bisnis—yang pada akhirnya mendorong kemajuan peradaban manusia. Karena itulah, Web3 disebut sebagai infrastruktur masa depan, DAO sebagai bentuk organisasi ekonomi masa depan, dan metaverse sebagai bentuk kehidupan masa depan.

Saat ini, banyak proyek di pasar yang mengklaim diri sebagai proyek Web3, namun kebanyakan hanya menyentuh konsep umum atau menyertakan infrastruktur teknis sederhana. Memang, itu adalah bagian dari Web3, tetapi cakupannya jauh lebih luas. Analoginya seperti kisah “orang buta meraba gajah”: masing-masing hanya menyentuh satu bagian, tanpa mampu melihat gambaran utuhnya. Bahkan, gambaran utuh itu sendiri masih terus berkembang dan berubah secara dinamis.

Namun, ada tiga elemen dasar yang mendorong evolusi Web3.

Pertama adalah teknologi kecerdasan buatan (AI) dan smart contract. Mungkin Anda bertanya: bukankah AI sudah lama ada? Benar—perkembangannya memang sudah lebih dari tiga puluh tahun, namun penerapannya sering terbatas pada skenario khusus seperti pengenalan video. Tingkat kecerdasan buatan tertentu adalah fondasi Web3—misalnya Semantic Web dan Spatial Web, yang hanya dapat terwujud berkat dukungan AI. Di semua skenario aplikasi Web3, data harus diproses menggunakan algoritma cerdas. Semakin canggih AI-nya, semakin baik pengalaman pengguna dalam aplikasi Web3.

Kedua adalah komputasi terdistribusi—atau komputasi tepi (edge computing)—yang cakupannya lebih luas. Karena sumber data Web3 terdistribusi, komputasi privasi harus dilakukan secara lokal. Setiap simpul terdistribusi perlu memiliki fungsi komputasi dan penyimpanan yang lengkap agar data dalam sistem Web3 dapat diproses secara efektif. Karena itulah, komputasi tepi menjadi fondasi penting.

Ketiga adalah jaringan data terdistribusi. Di sini, “jaringan” lebih menekankan pada struktur data itu sendiri—harus berbasis protokol mirip blockchain dan mekanisme konsensus tertentu, sehingga sumber data, verifikasi, dan validasi semuanya dilakukan secara otomatis melalui kode dalam basis data terdistribusi.

Ketiga elemen inilah yang menjadi fondasi Web3. Bayangkan tiga tahun ke depan: sebuah mobil otonom dengan kecerdasan buatan yang memadai mampu mengemudi sepenuhnya tanpa pengemudi. Mobil itu sendiri adalah simpul komputasi tepi yang sangat kuat, mampu memproses data dari simpul lain secara optimal, serta mengirimkan kembali data hasil pemrosesan—atau data digital asli yang dihasilkannya—ke jaringan. Sementara itu, pemiliknya hanya duduk santai, menatap kaca depan yang telah berubah menjadi layar AR, dan tenggelam dalam dunianya sendiri di metaverse.

Gambar

Logika dasar Web3 sebenarnya sederhana dan intuitif: otonomi pengguna—yang setara dengan desentralisasi. Banyak orang menyebut Web3 sebagai “desentralisasi”, tetapi intinya adalah otonomi pengguna. Namun, mewujudkannya secara teknis memerlukan banyak infrastruktur inovatif. Begitu infrastruktur ini matang, aplikasi Web3 asli (native Web3 applications) akan berkembang pesat. Jadi, Web3 berupaya mencapai dua hal: pertama, mewujudkan otonomi pengguna sepenuhnya; dan kedua, membangun model bisnis—bahkan ekosistem bisnis—baru di atas fondasi tersebut.

Selain logika dan elemen dasar tersebut, kita juga dapat membandingkan Web3 dengan analogi sistem operasi. Lapisan dasar Web3 berasal dari teknologi buku besar terdistribusi (distributed ledger technology) dan basis data terdistribusi—mirip dengan sistem berkas (Filing System) dan sistem input/output (I/O) dalam sistem operasi, serta setara dengan Layer 1 dalam blockchain, yang mengatur struktur data.

Penyimpanan terdistribusi setara dengan sistem berkas (Filing System) dalam sistem operasi; komputasi terdistribusi setara langsung dengan CPU yang bertugas melakukan komputasi; sedangkan transmisi data terdistribusi (komunikasi terdistribusi) setara dengan I/O.

CPU, sistem berkas (Filing System), dan I/O adalah elemen dasar sistem operasi—dan analogi ini berlaku pula untuk lapisan dasar Web3. Namun, apakah di masa depan akan muncul satu protokol tunggal yang menyatukan seluruh Web3? Penulis berpendapat bahwa hal ini tidak diperlukan. Web3 seharusnya terdiri dari modul-modul fungsional yang terprotokol, terlapis, dan dapat dikombinasikan secara fleksibel—seperti balok-balok LEGO: selama Anda memiliki cukup komponen, Anda dapat membangun produk akhir yang utuh.

Gambar

Selain infrastruktur dasar di atas, Web3 juga memiliki dua komponen krusial yang sebelumnya sulit dijangkau: identitas digital terdesentralisasi (decentralized digital identity) dan komputasi privasi (privacy computing). Kedua middleware ini saling terkait erat.

Identitas digital bukanlah topik baru. Namun dalam ranah Web3, DID (Decentralized Identity) adalah fondasi mutlak—seperti halnya seseorang tanpa KTP: ia tak bisa pergi ke mana-mana, tak berarti apa-apa, dan tak dapat dikenali oleh institusi mana pun. Karena itulah, ID adalah fondasi paling krusial: tanpa ID, tak ada aset. Dalam jaringan Web3 asli, ID umumnya ditentukan oleh alamat dompet (wallet address), tetapi jelas alamat dompet bukanlah ID unik. Identitas terdesentralisasi memungkinkan adanya multi-ID—yang dapat dipecah dan digabungkan kembali—namun reputasi (reputation) dan kepercayaan (credit) tiap ID harus diverifikasi berdasarkan data interaksi yang dilakukan, dan akhirnya dikaitkan kembali ke ID bersangkutan. Dengan demikian, bahkan dengan multi-ID sekalipun, kombinasi dan integrasi ID tersebut dapat menciptakan berbagai skenario aplikasi dan model bisnis baru.

Selain ID asli Web3, ID Web2 tradisional juga harus ditingkatkan dengan lapisan perlindungan privasi dan komputasi privasi. Komputasi privasi sebenarnya telah dimulai sejak 1985, ketika S. Goldwasser memperkenalkan teknik zero-knowledge proof. Pada 1987, Oded Goldreich dan rekan-rekannya mengembangkan multi-party secure computation, berdasarkan fondasi two-party secure computation yang dirintis oleh Profesor Andrew Chi-Chih Yao dari Universitas Tsinghua. Ditambah dengan homomorphic encryption dan federated learning, komputasi privasi kini semakin luas diterapkan dalam perlindungan data—tidak hanya dalam skenario asli Web3, tetapi juga di bidang medis, keuangan, pemerintahan, dan rantai pasok, dengan berbagai studi kasus komersial yang telah berhasil diimplementasikan.

Setelah arsitektur teknis dasar Web3 menjadi jelas, tren masa depan akan berupa aplikasi-aplikasi yang dibangun di atas teknologi dasar tersebut—dan semua data yang digunakan aplikasi ini berasal dari jaringan data terdistribusi. Hal ini pada akhirnya membentuk NFT, DeFi, metaverse, ekonomi kreator (creator economy), media terdesentralisasi, sosial media terdesentralisasi, sistem penilaian kredit terdesentralisasi, dan berbagai DApps lainnya yang kita kenal hari ini.

Dalam ekosistem Web3, ada satu aspek krusial lain: bentuk organisasi baru. Saat ini, DAO tampaknya merupakan arsitektur paling “Web3” untuk mengembangkannya. Logika inti DAO adalah mengubah konsep “pemegang saham” (shareholder) menjadi “pemangku kepentingan” (stakeholder)—atau bisa juga diartikan sebagai “saling membantu”. Fungsi dan atribut DAO dapat diatur dan diubah sesuai tujuan organisasi melalui spesifikasi dan implementasi smart contract. Smart contract ini ibarat balok-balok LEGO: anggota DAO menyusunnya satu per satu sesuai aturan yang berlaku. Tentu saja, hak, kewajiban, dan manfaat tiap anggota ditentukan berdasarkan berbagai dimensi—seperti kontribusi, penilaian kepercayaan (credit scoring), tingkat partisipasi, dan lain-lain—yang kemudian diikat secara permanen ke dalam “soulbound token” milik masing-masing anggota.

Pada akhirnya, Web3 membentuk masa depan dengan logika inti desentralisasi—yang dalam praktiknya terwujud sebagai otonomi pengguna. Namun, mari kita perluas wawasan: mungkin Web3 justru berupaya menjelajahi wilayah “yang tidak kita ketahui bahwa kita tidak tahu”—suatu ranah yang belum pernah kita sadari sebelumnya. Secara tradisional, “yang kita ketahui” disebut pengetahuan; “yang kita tahu bahwa kita tidak tahu” dapat dicari melalui mesin pencari Web2 seperti Baidu atau Google; “yang tidak kita ketahui bahwa kita tahu” pun tidak masalah—platform Web2 seperti Amazon atau Facebook dapat membantu kita menyadarinya melalui AI. Lalu, bagaimana dengan “yang tidak kita ketahui bahwa kita tidak tahu”? Di sinilah peluang Web3 muncul. Kami berharap dapat bersama-sama menciptakan masa depan bersama Anda.

Gambar