全球Web3生态创新观察报告

Laporan Pengamatan Inovasi Ekosistem Web3 Global

BroadChainBroadChain22/07/2022, 23.27
Konten ini telah diterjemahkan oleh AI
Ringkasan

Dimulai dari gagasan Web3, laporan ini membahas infrastruktur di tingkat teknologi serta aplikasi utama saat ini, seperti DeFi, NFT, game berbasis blockchain, dan DAO.

Pendahuluan

 

Ini adalah laporan komprehensif pertama di dunia yang mengulas industri dari perspektif Web3 secara menyeluruh. Sebagai praktisi yang telah lama berkecimpung, kami menyaksikan langsung bagaimana, seiring matangnya teknologi blockchain, berbagai bidang seperti daya komputasi (computing power), pasar kripto, metaverse, dan Web3 berkembang pesat—hingga batas-batas industri ini terus meluas.


Laporan ini hadir sebagai sudut pandang baru yang berdiri di atas pundak para raksasa: Crypto Theses for 2022 dari Messari, State of Crypto 2022 dari a16z, hingga laporan McKinsey berjudul “Menciptakan Nilai dalam Metaverse”. Semua laporan tersebut menggambarkan masa lalu atau kondisi terkini industri dari satu sisi Web3. Selain mengadopsi perspektif Web3 yang utuh, laporan kami—sama seperti pendahulunya—juga bertanggung jawab atas sejarah yang tertulis hingga hari ini.


Laporan ini berangkat dari gagasan Web3, yang akarnya dapat ditelusuri hingga ke awal pemikiran saat internet pertama kali muncul di abad ke-20. Kami kemudian membahas infrastruktur teknis dan aplikasi utama saat ini, mencakup bidang-bidang paling hangat dalam ekosistem Web3 seperti DeFi, NFT, game berbasis blockchain (blockchain games), dan DAO—periode yang secara garis besar merentang dari blok genesis Bitcoin hingga momen tepat sebelum laporan ini diterbitkan. Selanjutnya, kita memasuki dunia metaverse yang kini mulai terlihat jelas. Terakhir, kami mengulas investasi dan regulasi yang turut berkembang bersama industri ini. Kami beruntung telah menyaksikan kelahiran industri ini, dan berharap laporan ini dapat menemani pertumbuhannya ke depan.

 

Bab I Web3: Renaisans Dunia Siber (Cyberspace)


Sejak akhir 2021, volume pencarian kata kunci “Web3” di internet melonjak drastis. Masyarakat pun ramai membicarakannya, seolah-olah idealisme Web3 akan terwujud esok hari. Web3 bukanlah entitas yang muncul tiba-tiba tanpa dasar, melainkan kelanjutan dari semangat cyberpunk dan cypherpunk di era 1980-an dan 1990-an. Revolusi Web3 yang sedang hangat saat ini lebih mirip sebuah Renaisans bagi dunia siber—setelah akhirnya sistem ekonomi asli disuntikkan ke dalamnya.


Bagian 1: Deklarasi Kemerdekaan Dunia Siber (Cyberspace)


Pada 8 Februari 1996, John Perry Barlow—pendiri Electronic Frontier Foundation—menerbitkan “Deklarasi Kemerdekaan Dunia Siber”. Deklarasi itu menegaskan bahwa dunia maya adalah rumah jiwa yang independen, tidak tunduk pada yurisdiksi kekuatan tradisional mana pun.


Deklarasi ini terutama menegaskan tiga prinsip berikut:


Pertama, tanpa wujud fisik: Dunia kita ada di mana-mana namun tak berwujud—bukan dunia yang terdiri dari entitas fisik.

Kedua, tanpa batas negara: Semua orang dapat bergabung tanpa hak istimewa atau prasangka berdasarkan ras, kekuatan ekonomi, kekuatan militer, maupun tempat kelahiran.

Ketiga, tanpa diskriminasi: Siapa pun, di mana pun, dapat menyuarakan keyakinannya tanpa takut dibungkam atau dipaksa tunduk—betapapun anehnya keyakinan tersebut.


Deklarasi Barlow cepat populer dan menyebar luas di internet. Sembilan bulan setelah diterbitkan, deklarasi ini telah dibagikan ulang oleh sekitar 40.000 situs web.


We will create a civilization of the Mind in Cyberspace.

——John Perry Barlow


Namun, seiring perkembangan internet, deklarasi ini semakin sering dipertanyakan. Pada 2002, jumlah situs web yang memuat ulang deklarasi ini turun menjadi sekitar 20.000. Bahkan Barlow sendiri, dalam sebuah wawancara tahun 2004, merefleksikan karyanya di era 1990-an—terutama optimisme yang ia pegang kala itu—dan berkata: “Kita semua telah menua, dan menjadi lebih bijak.” Jelas, skenario yang digambarkan dalam “Deklarasi” itu belum terwujud saat itu—namun hal ini tidak menghentikan para idealis untuk terus mengejar cita-cita tersebut.


Bagian 2: Upaya Awal Menciptakan Mata Uang Berdaulat bagi Dunia Siber


Jika mata uang adalah darah vital yang tak tergantikan bagi efisiensi ekonomi modern, maka dunia siber—yang independen dari dunia fisik—pun memerlukan sistem mata uang asli untuk menjalankan aktivitas ekonominya.


Di saat yang sama dengan kemunculan “Deklarasi Kemerdekaan Dunia Siber”, gerakan cypherpunk juga sedang berkembang. Dalam “Deklarasi Cypherpunk” yang terbit tahun 1993, Eric Hughes menjelaskan misi dan tujuan gerakan ini, yaitu membangun sistem anonim melalui kriptografi dan metode lain untuk melindungi privasi masyarakat. Deklarasi itu juga menyebut bahwa “perangkat lunak tidak dapat dihancurkan, dan sistem terdistribusi sepenuhnya tidak akan pernah berhenti beroperasi”.


We the Cypherpunks are dedicated to building anonymous systems. We are defending our privacy with cryptography, with anonymous mail forwarding systems, with digital signatures, and with electronic money.

——Eric Hughes


Pada 1983, David Chaum mengusulkan sistem uang elektronik anonim berbasis teknik tanda tangan buta, yang menjadi cikal bakal mata uang elektronik eCash. Namun, sistem ini akhirnya tak pernah populer, dan perusahaan di baliknya, DigiCash, bangkrut pada 1998. Kegagalan DigiCash mungkin disebabkan berbagai faktor, tetapi intinya adalah arsitektur terpusatnya—begitu perusahaan atau server pusatnya gagal, seluruh sistem pun runtuh. Sulit dibayangkan kita akan menggunakan produk suatu perusahaan sebagai standar mata uang universal internet untuk bertransaksi di masa depan.


Tepat di tahun yang sama ketika DigiCash bangkrut, seorang kriptopunk lain bernama Wei Dai mengusulkan sistem uang elektronik anonim dan terdistribusi bernama b-money. b-money bisa dibilang telah memiliki semua karakteristik dasar sistem mata uang kripto modern, namun karena berbagai kendala teknis dalam penerapannya, b-money tak pernah benar-benar diluncurkan.


Memasuki 2005, Nick Szabo merancang mekanisme mata uang digital terdesentralisasi bernama bit gold. Semua data di dunia siber mudah diduplikasi, yang berarti desain mata uang digital harus menyelesaikan masalah "double-spending". Sebagian besar mata uang digital mengatasi masalah ini dengan memperkenalkan lembaga otoritatif terpusat untuk mencatat saldo semua akun. Namun, Szabo menolak solusi semacam itu: “Saya ingin meniru keamanan dan keandalan emas di dunia siber sebaik mungkin—yang terpenting, tanpa bergantung pada otoritas pusat terpercaya.” Arsitektur bit gold dianggap sebagai “pendahulu langsung Bitcoin”, namun sayangnya juga tak pernah terwujud.


Dari eCash, b-money, hingga bit gold, berbagai upaya awal para kriptopunk untuk menciptakan mata uang berdaulat asli dunia siber belum berhasil diwujudkan dalam aplikasi praktis.


Bagian 3: Perangkat Lunak Melahap Dunia


Di saat bersamaan, internet juga bertransformasi dari tahap Web 1.0 ke era Web 2.0, namun menghadapi hambatan pertumbuhan yang sulit diatasi dengan arsitektur yang ada.


Web 1.0 adalah istilah retrospektif yang merujuk pada tahap pertama perkembangan World Wide Web, sekitar tahun 1991 hingga 2004. Pada tahap ini, jumlah pencipta konten sangat sedikit, dan mayoritas pengguna hanya berperan sebagai konsumen—datang, pakai, lalu pergi.


Sedangkan di era Web 2.0, pengguna internet biasa dapat bertukar informasi dan berkolaborasi di berbagai platform dengan biaya sangat rendah. Prinsip inti produk internet menjadi interaktivitas, berbagi, dan keterhubungan. Justru pada periode inilah, tepatnya tahun 2011, Marc Andreessen dari a16z melontarkan slogan terkenal: “Perangkat lunak sedang melahap dunia.” Ia menulis: “Kami yakin banyak perusahaan internet baru terkemuka sedang membangun model bisnis nyata yang tumbuh tinggi, menguntungkan, serta memiliki ‘tembok’ kompetitif yang kokoh.”


Setelah itu, kita memang menyaksikan kebangkitan pesat raksasa teknologi seperti Meta (dulu Facebook), Amazon, Alphabet (induk Google), dan Tencent. Meski bisnis mereka berbeda, kebangkitan mereka punya satu kesamaan: semuanya mampu memperoleh status (state) dari pengguna. Dalam sistem komputer, “status” mengacu pada kondisi suatu entitas pada momen tertentu, sedangkan “berstatus” berarti output dari input yang sama akan berubah tergantung status saat itu. Contohnya, ketika pengguna menggunakan layanan pencarian Google, setiap klik di halaman hasil membantu mesin pencari memberikan hasil yang lebih akurat bagi pengguna berikutnya.


Di tahap Web 2.0, pengguna bukan sekadar pengguna layanan, tetapi menjadi bagian integral dari produk internet itu sendiri. Status layanan internet tumbuh eksponensial; pengguna mempercayai platform dan menyerahkan status mereka demi layanan yang lebih baik. Di sisi lain, penyedia layanan platform pun meraih valuasi yang jauh lebih tinggi.


Namun, setelah masa awal berlalu dan pertumbuhan platform mencapai titik jenuh, mereka sering mengkhianati kepercayaan pengguna, mengubah hubungan saling menguntungkan menjadi zero-sum. Platform perlu mengekstrak berbagai data pengguna—termasuk privasi—untuk mempertahankan pertumbuhan, sehingga mitra sebelumnya berubah menjadi pesaing. Selain itu, platform internet melalui akumulasi status bertahun-tahun telah membangun “tembok status” yang sangat tinggi, sulit dilampaui pendatang baru, sehingga menghambat persaingan dan inovasi.


Perangkat lunak melahap dunia, dan layanan di lapisan atasnya bahkan mulai menggerus kepentingan para pelaku. Internet sangat membutuhkan pergeseran paradigma.


Bagian 4: Kelahiran Blockchain


Pada 31 Oktober 2008 pukul 14.10 waktu Amerika Timur, Satoshi Nakamoto mempublikasikan whitepaper Bitcoin di sebuah milis kriptopunk. Dua bulan kemudian, tepatnya 3 Januari 2009, ia menambang blok perdana (genesis block) Bitcoin. Peristiwa ini menandai kelahiran mata uang asli internet tanpa perlu kepercayaan—yang dicari-cari para kriptopunk selama beberapa dekade—dan dunia siber akhirnya memperoleh darah kehidupan untuk aktivitas ekonominya.



Pada 24 Januari 2014, Vitalik Buterin secara resmi mengumumkan kelahiran proyek Ethereum di Konferensi Bitcoin Miami. Ethereum, yang dibangun di atas fondasi Bitcoin, memberikan fleksibilitas lebih tinggi bagi pengembang: Ethereum memperkenalkan mesin virtual Turing-complete ke dalam blockchain, menjadikan seluruh jaringan sebagai komputer virtual umum yang digunakan bersama secara global. Munculnya protokol DeFi seperti Uniswap dan Compound berarti orang kini dapat melakukan berbagai aktivitas bisnis yang lebih kompleks di dunia siber—seperti perdagangan dan pinjam-meminjam. Setelah itu, kemunculan NFT, GameFi, dan DAO memberikan lebih banyak ruang aktivitas bagi penduduk asli dunia siber.


Pada April 2014, Gavin Wood—salah satu pendiri Ethereum dan saat itu menjabat sebagai CTO—pertama kali menguraikan konsep Web3 secara sistematis. Wood berpendapat bahwa di era pasca-Snowden, pengguna internet tak lagi bisa mempercayai perusahaan, karena perusahaan hanya akan mengelola dan menggunakan data pengguna demi keuntungan mereka sendiri. Oleh karena itu, diperlukan infrastruktur dan aplikasi internet yang meminimalkan kepercayaan. Wood menyatakan: “Web 3.0 adalah sekumpulan protokol inklusif yang menyediakan modul dasar bagi pengembang aplikasi, memungkinkan mereka membangun aplikasi dengan cara-cara baru. Teknologi ini memungkinkan pengguna memverifikasi keaslian informasi yang diterima dan dikirim, serta menjamin pembayaran dan penerimaan yang andal dalam transaksi. Web 3.0 dapat dipandang sebagai Magna Carta internet yang dapat dieksekusi, sekaligus fondasi kebebasan individu dalam menghadapi otoritas.”


Dengan demikian, ruang siber yang bangkit kembali ini mulai menunjukkan wujud aslinya—sebuah jaringan terdesentralisasi dengan karakteristik berikut:


1. Terbuka dan Terverifikasi: Setiap peserta mengendalikan dan memiliki status jaringan.

2. Inklusif dan Setara: Semua pihak dapat mengakses layanan jaringan tanpa diskriminasi.

3. Tanpa Titik Rawan Tunggal: Struktur jaringan sangat tangguh (robust).

4. Tata Kelola Non-Sentral: Setiap perubahan memerlukan persetujuan peserta.

5. Ekonomi Bawaan Tanpa Kepercayaan: Ruang siber memiliki sistem ekonomi asli yang trustless.


Komunitas DAO dan aplikasi Web3 yang berkembang pesat telah membuktikan kekuatan luar biasa yang tercipta ketika orang-orang di internet bersatu berdasarkan nilai dan misi yang sama. Seiring evolusi infrastrukturnya, masih banyak kemungkinan tak terbatas yang menanti untuk dieksplorasi di masa depan.


Penutup


Sebagai penutup bab ini, mari kita renungkan kutipan dari Kyle Samani, salah satu pendiri Multicoin Capital:


“Kepercayaan adalah fondasi semua hubungan ekonomi. Peluang investasi terbesar seumur hidup kita adalah bertaruh bahwa hal ini tidak harus selalu demikian.”


Bab Kedua: Infrastruktur (Blockchain Publik)


Revolusi Web3 mungkin telah dimulai lebih awal, tetapi era baru blockchain benar-benar dimulai pada 2009 dengan kelahiran Bitcoin. Dalam revolusi yang digerakkan blockchain ini, blockchain publik (public chain) jelas menjadi fondasi terpenting. Dari mekanisme Proof-of-Work (PoW) Bitcoin, beralih ke Ethereum (ETH) 1.0 yang mendukung smart contract, hingga berkembang menjadi berbagai jaringan Layer 1 (L1) berbasis Proof-of-Stake (PoS). Selama 13 tahun terakhir, blockchain publik telah melewati tiga generasi utama. Kini, ekosistem Web3 adalah sistem hibrida dari ketiga model tersebut, di mana setiap jenis blockchain publik memiliki keunggulan unik dan tumbuh bersama secara dinamis.


Bagian 1: “Rashomon” Bitcoin


Kita kini memasuki siklus keempat halving Bitcoin (BTC). Semakin tinggi blok Bitcoin bertambah, semakin sulit mendefinisikannya secara pasti. Terlalu banyak makna telah melekat pada “koin” yang lahir pada 2009 ini. Oleh karena itu, kita hanya bisa mengamati “Rashomon” Bitcoin dari berbagai sudut pandang yang terus bergeser.


1.1 BTC vs Mata Uang Fiat


Para pendukung Bitcoin masih yakin bahwa BTC akan menggantikan mata uang fiat sebagai alat pembayaran universal—sesuai dengan whitepaper Bitcoin yang menyebutnya sebagai “sistem pembayaran peer-to-peer”. Pengakuan resmi pertama oleh El Salvador pada September 2021, yang menjadikan Bitcoin sebagai mata uang legal, juga memperkuat keyakinan ini.


Namun, upaya promosi dari atas ini justru menghadapi penolakan dari bawah. Aksi protes anti-Bitcoin terjadi di berbagai tempat. Sebagian besar warga hanya mengunduh dompet digital, menerima alokasi awal senilai $30, lalu tidak menggunakannya lagi. Proporsi pedagang ritel yang menerima Bitcoin juga masih rendah.


Selain itu, obligasi “gunung berapi” Bitcoin senilai $1 miliar yang rencananya diterbitkan El Salvador pada Maret tahun ini juga belum terealisasi. Negara lain memang mempertimbangkan mengadopsi Bitcoin sebagai mata uang legal, tetapi hingga kini hanya Republik Afrika Tengah yang secara resmi mengumumkannya. Apakah Bitcoin benar-benar bisa menggantikan mata uang fiat? Bisakah BTC menggeser dominasi Dolar AS? Laporan khusus Bank for International Settlements (BIS) berjudul “The Future Monetary System”, yang dirilis pada 12 Juni 2022, menyimpulkan bahwa hal ini tidak mungkin. Pandangan serupa juga disampaikan pemerintah dan regulator di berbagai negara.


Mungkin memang demikian. Namun, sistem pembayaran dan dompet digital berbasis BTC justru berpotensi memberikan akses keuangan bagi masyarakat yang tidak memiliki rekening bank. Faktanya, meskipun adopsi Bitcoin di El Salvador mungkin tidak mencapai penetrasi luas, dompet berbasis Lightning Network yang dipromosikan pemerintah berhasil memungkinkan banyak warga menerima kiriman uang dalam Dolar AS dari kerabat di luar negeri. Setidaknya, kini mereka punya pilihan tambahan.


1.2 BTC vs Aset (Emas & Saham)


Sejak awal, Bitcoin identik dengan “penambangan”. Namun, era penambangan individu telah berakhir—dengan alasan apa pun, kini institusi menjadi pelaku utama dalam aktivitas ini.


Sumber: Global Hashrate Distribution


Krisis energi pada 2021 memicu berbagai reaksi global. Sejumlah negara menghentikan aktivitas "penambangan" Bitcoin (mekanisme Proof-of-Work/PoW yang membutuhkan energi besar untuk memecahkan teka-teki kriptografi guna membuat blok). Negara lain melarang perdagangan aset kripto, pasar pun berbalik bearish, sementara Ethereum bersiap beralih ke PoS. Namun, kekuatan komputasi jaringan Bitcoin terus bermigrasi—tak pernah benar-benar lenyap—seperti yang telah terjadi selama lebih dari satu dekade.


Selama sepuluh tahun terakhir, Bitcoin secara konsisten menggerogoti porsi pasar emas sebagai penyimpan nilai. Terlepas dari kondisi pasar eksternal, kepemilikan Bitcoin telah dianggap sebagai lindung nilai terhadap risiko. Hal ini tercermin dari tindakan Ray Dalio dan banyak investor lain yang mulai mengalokasikan sebagian kecil portofolio mereka ke Bitcoin.


Namun, beberapa bulan belakangan, tren ini tampak berubah. Emas mulai menunjukkan sinyal penguatan kembali.


Sumber: Woobull Charts


Secara historis, BTC memiliki korelasi jangka panjang yang rendah dengan pasar saham AS. Namun, dalam enam bulan terakhir, korelasinya justru meningkat tajam terhadap indeks Nasdaq—terutama terhadap saham-saham teknologi kapitalisasi besar. Ini mengindikasikan pergeseran sifat aset BTC: atribut "penambangan"-nya melemah, sementara karakteristiknya sebagai aset teknologi semakin menguat.


Sumber: Bloomberg


1.3 BTC vs Ekosistem Kripto


Dari perspektif blockchain, BTC mewakili nilai inti yang tak tergantikan. Buktinya, kapitalisasi pasarnya secara konsisten mendominasi lebih dari 40% dari total pasar kripto. Saat pasar bullish, minat investor mungkin beralih ke aset lain. Namun, ketika pasar berbalik bearish, porsi pasar BTC justru meningkat. Fenomena ini memperkuat persepsi bahwa BTC adalah "aset safe haven" terakhir di dunia kripto. Dari sinilah muncul argumen, "kelayakan Proof-of-Stake (PoS) dimungkinkan karena Proof-of-Work (PoW) telah membuktikan dirinya terlebih dahulu."


Secara arsitektur, desain jaringan dan mekanisme verifikasi PoW Bitcoin memang bukan lagi arus utama dalam pengembangan blockchain baru. Namun, melalui beberapa kali hard fork, rantai utama BTC justru semakin menegaskan posisi dan nilai intinya: keamanan mutlak dan fungsi penyimpan nilai. Fungsi pembayaran kini banyak ditangani oleh Lightning Network (lapisan kedua/L2), sementara eksekusi kontrak pintar (smart contract) sebagian besar berjalan di atas Ethereum dan blockchain L1 lainnya. Interaksi bernilai dengan BTC terjadi melalui jembatan lintas rantai (cross-chain bridge) atau platform perdagangan terpusat (centralized exchanges).


Peningkatan Taproot yang diluncurkan pada November 2021 mungkin agak terlambat. Namun, upgrade ini membawa peningkatan signifikan dalam keamanan, privasi, dan skalabilitas Bitcoin. Meskipun aplikasi utama berbasis Taproot belum meluas, dunia Bitcoin kini jelas dipenuhi dengan lebih banyak kemungkinan dan imajinasi.


1.4 BTC vs DAO


Selain menyediakan aset asli (native asset) dengan tingkat kepercayaan tertinggi di dunia kripto, makna Bitcoin bagi Web3 mungkin terletak pada model organisasi barunya. Setidaknya, Bitcoin telah membuktikan bahwa sebuah pekerjaan berskala global yang membutuhkan kolaborasi luas dapat beroperasi sepenuhnya tanpa memerlukan kepercayaan antar pihak (trustless).


Manusia dan mesin—atau manusia dengan manusia lain—telah berhasil menjalin kolaborasi nyata, semata-mata melalui kode.


1.5 BTC vs Dunia Nyata


Dalam narasi sebelumnya, Bitcoin sering disebut sebagai fondasi dunia blockchain. Selama bertahun-tahun, dunia yang dibangun di atas fondasi ini menjadi semakin kaya dan kompleks. Kini, fondasi tersebut justru semakin dalam terhubung dengan dunia fisik dan menghasilkan dampak yang nyata—terhadap lembaga keuangan Wall Street, regulator di berbagai negara, masyarakat di negara berkembang, hingga pelaku industri teknologi. Keterlibatan berbagai pihak ini pun turut mengubah wujud Bitcoin. Alhasil, Bitcoin kini bertransformasi menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan dua dunia: yang virtual dan yang nyata. Somehow, WAGMI (We Are All Gonna Make It).

 

Bagian 2: Ethereum, Platform Kontrak Pintar


Ethereum adalah platform blockchain publik yang dilengkapi fungsi kontrak pintar, memungkinkan siapa pun untuk membangun aplikasi terdesentralisasi (dApps) di atasnya. Sejak Bitcoin membuka era blockchain pada 2009, inovasi teknologi paling representatif berikutnya adalah kemunculan kontrak pintar Ethereum. Inovasi inilah yang menjadi fondasi paling kokoh bagi kelahiran dApps, ledakan aplikasi DeFi, dan kebangkitan NFT.


2.1 Kontrak Pintar


Kontrak pintar pada dasarnya adalah program yang dapat dieksekusi secara otomatis. Agar aplikasinya bernilai, kontrak pintar memerlukan satu prasyarat krusial: lapisan penyimpanan dan eksekusi yang tidak dapat diubah, sehingga terlindung dari gangguan faktor fisik.


Sifat immutability (ketidakdapatubahan) yang dimiliki blockchain membuatnya selaras secara alami dengan kontrak pintar. Hal ini memungkinkan teknologi blockchain melampaui fungsi sebagai alat pembayaran kripto semata. Dengan mencapai kelengkapan Turing (Turing completeness), blockchain mengatasi keterbatasan Bitcoin yang hanya berperan sebagai buku besar sederhana, sehingga mampu mewujudkan transfer nilai yang kompleks. Di sisi lain, beragamnya skenario penggunaan juga menuntut peningkatan performa blockchain, yang secara tidak langsung mendorong kemunculan berbagai blockchain publik berperforma tinggi dan proyek Layer2 di masa depan.


Saat ini, Ethereum adalah platform kontrak pintar terbesar. Bahasa pemrograman kontraknya, Solidity, merupakan yang paling populer dan banyak digunakan. Aplikasi yang dibangun dengan Solidity menyumbang 85% dari total nilai terkunci (TVL) di seluruh ekosistem DeFi.


Sumber: The Block



Aplikasi dalam ekosistem Ethereum terkonsentrasi di bidang DeFi, mencakup: DEX (Uniswap), pinjaman (Aave, Compound), derivatif (dYdX), dan stablecoin (MakerDAO, Frax). Sementara itu, aplikasi di luar DeFi terutama tersebar di sektor NFT dan game berbasis blockchain.


Saat ini, TVL di jaringan Ethereum mencapai USD 4,7 miliar, setara dengan kapitalisasi pasar MediaTek dan Kuaishou. Tiga aplikasi terbesar dalam ekosistem ini adalah MakerDAO, Lido, dan Uniswap, yang masing-masing menyumbang 16,7%, 10,3%, dan 9,9% dari TVL Ethereum.


Sumber: DefiLlama


2.2 Ethereum dan Rantai yang Kompatibel dengan EVM


Kompatibilitas dengan Mesin Virtual Ethereum (EVM) kini menjadi pilihan utama bagi banyak blockchain publik dan solusi Layer2. Sebagai blockchain publik dengan ekosistem terluas dan basis pengembang terbesar, Ethereum menempati posisi sentral di dunia blockchain. Saat ini, terdapat ratusan blockchain publik dan rantai yang kompatibel dengan EVM, tetapi hanya segelintir yang berhasil membangun "parit pertahanan ekosistem" (ecosystem moat) yang berkelanjutan. Berbagai blockchain publik kini beralih dari sekadar mengejar TPS (transactions per second) ke model pengembangan yang menggabungkan pembangunan ekosistem dan insentif modal.


Perkembangan ekosistem Ethereum masih jauh meninggalkan para pesaingnya. Seiring dengan kemajuan bertahap proses "The Merge" dan rencana implementasi sharding, posisi Ethereum semakin tak tergoyahkan. Akibatnya, berbagai blockchain publik mulai aktif mengadopsi kompatibilitas EVM agar pengembang dapat dengan mudah memigrasikan dan menyebarkan DApp mereka. Hal ini mendorong terbentuknya ekosistem besar yang terdiri dari rantai-rantai kompatibel EVM, sekaligus mempermudah penerapan aplikasi DApp di banyak rantai (multi-chain deployment).

Berikut adalah beberapa contohnya:


BNB Chain (BSC)


Binance Smart Chain (BSC) diluncurkan pada 1 September 2020. Sebagai blockchain publik kompatibel EVM pertama yang diluncurkan oleh bursa selama "DeFi Summer", BSC berhasil menarik sebagian besar lalu lintas dari platform Binance, sehingga memperkuat posisinya di antara blockchain publik. BSC menggunakan mekanisme DPoS mirip EOS, dengan TPS 30–70 kali lipat Ethereum. Namun, jumlah node efektifnya hanya 21, sehingga tingkat desentralisasinya jauh di bawah Ethereum.


Avalanche-C


Avalanche adalah jaringan blockchain publik terdesentralisasi yang sangat skalabel dan dapat berinteroperasi. Jaringan ini terdiri dari tiga rantai: X-Chain, C-Chain, dan P-Chain. C-Chain adalah rantai yang kompatibel dengan EVM dan berfungsi untuk menjalankan kontrak pintar. X-Chain berbasis struktur DAG dengan kecepatan transaksi tertinggi, terutama digunakan untuk transfer aset. Sementara itu, P-Chain adalah rantai yang mengatur node, terutama digunakan untuk staking—fungsinya mirip dengan relay chain pada Polkadot.


Fantom


Fantom adalah blockchain publik berperforma tinggi berbasis teknologi DAG yang juga mendukung kompatibilitas EVM. Berkat reputasi Andre Cronje, ekosistem Fantom mengalami pertumbuhan eksponensial dalam setahun terakhir. Namun, sejak Andre Cronje mengundurkan diri dari komunitas di awal tahun ini, Fantom memasuki masa suram: TVL-nya anjlok dari puncak USD 11,81 miliar menjadi hanya USD 980 juta—penurunan sebesar 91,7%.


Tak hanya itu, berbagai blockchain publik yang awalnya tidak kompatibel dengan EVM juga mulai meluncurkan layer-2 yang kompatibel dengan Ethereum. Contohnya Aurora dari Near, Moonbeam dari Polkadot, Evmos di ekosistem Cosmos, dan Neon di Solana. Kini, hampir semua blockchain publik utama telah mendukung kompatibilitas EVM, yang semakin mengukuhkan pengaruh Ethereum di dunia kripto.


2.3 The Merge Ethereum: Transisi dari PoW ke PoS


Mekanisme konsensus adalah komponen inti dari lapisan dasar blockchain, berfungsi sebagai prinsip utama untuk menjaga konsistensi jaringan dan menentukan siapa yang berhak mencatat transaksi. Saat ini, mekanisme verifikasi blockchain publik telah berkembang dalam berbagai varian, namun secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua: Proof-of-Work (PoW) dan Proof-of-Stake (PoS). PoW diwakili terutama oleh Bitcoin, sementara PoS diadopsi oleh blockchain publik generasi baru seperti BSC dan Fantom, serta Ethereum pasca-The Merge. Dalam mekanisme PoS, validator tidak perlu lagi bersaing menggunakan daya komputasi besar. Cukup dengan membuat dan mengirimkan blok saat terpilih, atau memverifikasi blok dari validator lain saat tidak terpilih—keduanya akan memberikan imbalan.


The Merge merujuk pada penggabungan jaringan utama Ethereum dengan Beacon Chain. Menurut Ethereum Foundation, ini adalah penyatuan antara lapisan konsensus (Beacon Chain) dan lapisan eksekusi (lapisan yang saat ini berinteraksi dengan pengguna). The Merge merupakan langkah krusial dalam transisi Ethereum menuju era sharding. Setelahnya, Ethereum akan meninggalkan mekanisme PoW di lapisan eksekusi dan sepenuhnya beralih ke PoS. Pada saat itu, proses pembuatan dan verifikasi blok di jaringan Ethereum akan sepenuhnya dijalankan oleh para staker, sementara penambang PoW beserta perangkat kerasnya akan perlahan menghilang.


Skalabilitas jaringan Ethereum yang terbatas, konsumsi energi tinggi, dan biaya gas (GAS) yang mahal telah lama membatasi perkembangan ekosistemnya. Sharding dianggap sebagai solusi optimal untuk masalah ini dan menjadi prioritas dalam roadmap Ethereum. The Merge sendiri adalah prasyarat dan fondasi untuk mewujudkan sharding.


Sebenarnya, transisi dari PoW ke PoS telah lama tercantum dalam roadmap Ethereum. Salah satu mekanisme yang dirancang khusus untuk mendorong perubahan ini adalah “Difficulty Bomb”. Tujuannya adalah mendesak penambang PoW untuk beralih ke PoS. “Difficulty Bomb” adalah algoritma yang secara eksponensial meningkatkan kesulitan penambangan seiring waktu. Akibatnya, penambangan PoW menjadi tidak menguntungkan dan mendorong peralihan ke PoS. Karena The Merge berkali-kali ditunda, “Difficulty Bomb” juga berulang kali diundur. Peluncuran hard fork Grey Glacier pada Juni 2022 menandakan bahwa The Merge baru akan terjadi setidaknya setelah September.


Perubahan utama yang dibawa The Merge dapat dirangkum dalam tiga poin berikut.


Pertama, produksi token Ethereum menurun drastis. Di bawah mekanisme PoW, sekitar 12.000 ETH dihasilkan per hari. Setelah beralih ke PoS, angka ini turun menjadi hanya 1.280 ETH per hari—penurunan sebesar 89,3%. Ditambah dengan mekanisme pembakaran (burning) dari EIP-1559, Ethereum berpotensi memasuki era deflasi penuh.


Kedua, ambang batas menjadi validator lebih rendah, mendukung desentralisasi jaringan. Di era PoW, validator memerlukan perangkat keras khusus yang sulit diakses pengguna biasa. Dalam mekanisme PoS, persaingan tidak lagi bergantung pada daya komputasi, sehingga standar perangkat keras jauh lebih ringan. Selama memenuhi syarat staking, siapa pun dapat menjalankan node dan berpartisipasi dalam operasi jaringan. Keberadaan berbagai penyedia layanan staking juga semakin mempermudah proses ini. Ketiga, konsumsi energi berkurang signifikan, mendorong transisi menuju era netral karbon.


Dengan meninggalkan ketergantungan pada perangkat keras penambangan berdaya tinggi, mekanisme PoS mengurangi permintaan listrik secara besar-besaran. Saat ini, konsumsi energi tahunan jaringan Ethereum mencapai sekitar 51,32 TWh—setara dengan konsumsi seluruh negara Portugal—dan menghasilkan 28,63 juta ton emisi karbon dioksida per tahun. Menurut perhitungan Ethereum Foundation, setelah The Merge, konsumsi energi jaringan Ethereum akan turun hingga 99,95%. Konsumsi energi harian setiap node akan setara dengan penggunaan listrik komputer rumahan biasa.


Sumber Data: Digiconomist


Perlu dicatat bahwa The Merge sendiri belum cukup untuk meningkatkan skalabilitas atau menurunkan biaya gas. Peningkatan signifikan dalam pengalaman pengguna baru akan terasa seiring dengan peluncuran bertahap sharding di masa depan.


Bagian 3: Layer 2 Ethereum


Untuk meningkatkan kinerja jaringan Ethereum, industri telah mengembangkan berbagai solusi penskalaan. Berdasarkan lapisan protokolnya, solusi ini umumnya terbagi menjadi dua: Layer 1 dan Layer 2. Layer 1 mengacu pada penskalaan on-chain, biasanya dengan memodifikasi kapasitas blok atau struktur data dasar untuk meningkatkan kinerja—sharding Ethereum termasuk dalam kategori ini. Sharding sendiri terbagi menjadi sharding transaksi dan sharding status. Sharding transaksi membagi komputasi data ke berbagai node, sementara sharding status memisahkan penyimpanan data berdasarkan atribut berbeda. Peningkatan kinerja dicapai melalui pemrosesan paralel di berbagai shard.


Layer 2 umumnya mengacu pada penskalaan off-chain, yaitu memindahkan komputasi data, transaksi, dan aktivitas lainnya ke luar rantai utama (main chain). Dengan demikian, beban pada rantai utama berkurang, kecepatan interaksi meningkat, dan biaya transaksi turun. Namun, untuk menjamin ketersediaan dan keamanan data di layer kedua inilah muncul berbagai solusi seperti ZK Rollup, Optimistic Rollup, Validium, dan Plasma. Sebelum era sharding benar-benar tiba, Layer 2 akan tetap menjadi pilihan penskalaan terbaik untuk Ethereum. Saat ini, solusi Layer 2 Ethereum didominasi oleh dua jenis Rollup: Zero-Knowledge Rollup (ZK Rollup) dan Optimistic Rollup.


Secara harfiah, Rollup berarti menggulung atau mengumpulkan transaksi. Sejumlah transaksi dikumpulkan menjadi satu paket dan dikirim sekaligus ke rantai utama. Tujuannya adalah mengurangi frekuensi interaksi dengan rantai utama, sehingga mengurangi kemacetan jaringan dan meningkatkan kinerja. Dalam skema Rollup, data transaksi asli tetap disimpan di rantai utama Ethereum. Hal ini membuat pengguna tidak lagi bergantung pada node verifikasi khusus, menjadikan Rollup sebagai solusi Layer 2 dengan tingkat keamanan tertinggi di antara berbagai opsi yang ada.


3.1 ZK Rollup


ZK Rollup (Zero-Knowledge Rollup) pertama kali diusulkan pada 2018. Teknologi ini mengandalkan kriptografi zero-knowledge untuk menjamin keamanan dana. Artinya, pengguna dapat membuktikan kepemilikan suatu hak tanpa perlu membocorkan informasi sensitif apa pun kepada pihak luar—inilah makna "zero-knowledge". Selain itu, ZK Rollup memanfaatkan rantai utama Ethereum untuk menyimpan dan mengonfirmasi status akhir, sehingga juga mewarisi atribut keamanan dari rantai utama tersebut.


Dalam skema ZK Rollup, dana pengguna terlindungi dari penyitaan dan sensor. Namun, teknologi ini masih belum matang dan sulit untuk diimplementasikan dalam jaringan yang bersifat umum (general-purpose), sehingga penerapannya masih terbatas. Membangun lingkungan eksekusi EVM yang umum jauh lebih sulit bagi ZK Rollup dibandingkan dengan Optimistic Rollup. Contoh proyek ZK Rollup yang paling terkenal adalah zkSync dan StarkNet.


zkSync


zkSync dikembangkan oleh Matter Labs. Jaringan uji versi 2.0-nya yang sepenuhnya kompatibel dengan EVM telah diluncurkan. Di zkSync 2.0, status L2 dibagi menjadi dua: zkRollup (dengan ketersediaan data on-chain) dan zkPorter (dengan ketersediaan data off-chain), mirip dengan StarkNet dan StarkEx milik StarkWare. Menurut pengumuman resmi, hampir 100 proyek ekosistem telah terdaftar, terutama di bidang infrastruktur, jembatan lintas rantai (cross-chain bridge), dan DeFi. Di jaringan zkSync, biaya gas dapat dibayar menggunakan token selain ETH.


StarkNet


StarkNet adalah platform skalabilitas Layer 2 berbasis ZK Rollup yang dikembangkan oleh StarkWare. Meski sama-sama ZK Rollup, pendekatan teknisnya berbeda: StarkNet menggunakan zk-SNARKs yang membutuhkan ruang penyimpanan on-chain dan biaya gas lebih kecil, sementara zkSync menggunakan zk-STARKs yang menawarkan keamanan jaringan lebih unggul.


Pada Mei lalu, StarkNet berhasil mengumpulkan pendanaan USD 100 juta dengan valuasi USD 8 miliar, menjadikannya proyek Layer 2 dengan valuasi tertinggi saat ini. StarkWare saat ini aktif menguji jembatan resmi L1-L2 bernama StarkGate. Diperkirakan dalam waktu dekat, jaringan StarkNet akan dibuka untuk umum. Situs web resminya menampilkan lebih dari 70 proyek ekosistem, sebagian besar berfokus pada DeFi.

 

3.2 Optimistic Rollup


Berbeda dengan ZK Rollup, Optimistic Rollup tidak menggunakan bukti zero-knowledge, melainkan bukti penipuan (fraud proof). Teknologi ini terinspirasi dari Plasma generasi awal dan mengandalkan interaksi strategis antara node verifikator dan penantang (challenger) untuk menjamin keamanan dana. Ketika node verifikator mengirimkan status akhir transaksi L2 ke rantai utama, sistem akan memasuki masa tantangan (challenge period) sekitar 7 hari. Selama periode ini, dana akan terkunci. Jika transaksi yang diverifikasi bermasalah, node verifikator lain dapat mengajukan bukti penipuan dan mendapatkan dana jaminan (stake) dari node verifikator asli.


Keunggulan utama Optimistic Rollup dibanding ZK Rollup adalah kemampuannya mendukung kontrak pintar yang kompleks. Inilah alasan mengapa semua proyek Layer 2 yang telah diluncurkan dan mencapai skala aplikasi saat ini menggunakan Optimistic Rollup, seperti:


Optimism


Optimism adalah solusi Optimistic Rollup pertama yang dikembangkan dengan kompatibilitas penuh terhadap EVM. Validitas data yang disinkronkan ke Layer 1 dijamin melalui fraud proof interaktif satu putaran (single-round interactive fraud proof)—inilah perbedaan utamanya dengan Arbitrum. Optimism juga menjadi proyek Layer 2 utama keempat yang pertama kali menerbitkan token.


Arbitrum


Arbitrum dikembangkan oleh OffChainLabs dan lahir di Universitas Princeton. Saat ini, Arbitrum adalah proyek Layer 2 dengan ekosistem paling matang dan Total Value Locked (TVL) tertinggi. Arbitrum menggunakan fraud proof interaktif multi-putaran: setelah penantang (challenger) mengajukan bukti penipuan, Arbitrum terlebih dahulu melakukan serangkaian interaksi di L2 untuk mempersempit ruang perselisihan sebelum diselesaikan di rantai utama. Tujuannya adalah mengurangi biaya penyelesaian perselisihan on-chain. Inilah perbedaan utama antara Arbitrum dan Optimism.


3.3 Validium dan Plasma


Validium (StarkEx)


Validium adalah pendekatan penskalaan hybrid yang dikembangkan oleh StarkWare. Skemanya mirip dengan ZK Rollup, tetapi ada perbedaan krusial: data transaksi Validium tidak disimpan di rantai utama. Meski bukti validitas dipublikasikan on-chain, penyimpanan datanya dilakukan off-chain. Akibatnya, tingkat keamanannya lebih rendah dibanding ZK Rollup; misalnya, operator StarkEx Validium berpotensi membekukan dana pengguna.


Selain itu, dukungan Validium terhadap komputasi umum dan kontrak pintar terbatas. Pembuatan bukti zero-knowledge memerlukan daya komputasi tinggi, sehingga kurang efisien untuk aplikasi ber-throughput rendah. Keunggulan utamanya adalah tidak ada penundaan penarikan dana (no withdrawal delay) dan throughput yang sangat tinggi (sekitar 10.000 TPS). Contoh proyek yang menerapkan skema ini adalah Immutable dan DeversiFi.


Plasma


Pada 2017, Plasma sempat menjadi solusi penskalaan utama di ekosistem Ethereum, mewakili teknologi penskalaan generasi awal. Namun kini, seiring dengan matangnya solusi Rollup, Plasma—sebagai solusi Layer 2 dengan tingkat keamanan yang relatif lebih rendah—perlahan mulai memudar dari sorotan.


Skema Plasma terinspirasi dari teknik yang digunakan jaringan Lightning Network Bitcoin. Plasma memiliki blockchain independen yang ditambatkan (anchored) ke rantai utama Ethereum dan menggunakan bukti penipuan (fraud proofs) untuk menyelesaikan sengketa. Keunggulannya terletak pada throughput yang tinggi dan biaya transaksi per transaksi yang rendah. Namun, kelemahannya juga cukup mencolok: sulit mendukung komputasi umum (general-purpose computation), hanya cocok untuk transaksi dasar seperti transfer atau pertukaran token. Selain itu, pengguna harus aktif memantau jaringan atau menunjuk pihak ketiga untuk melakukannya demi memastikan keamanan dana. OMG Network adalah contoh paling representatif dari solusi penskalaan Plasma.


Secara keseluruhan, dari berbagai solusi Layer 2 di atas, dapat disimpulkan bahwa inti dari penskalaan Layer 2 adalah mencari titik keseimbangan (trade-off) antara tiga aspek: keamanan, kinerja, dan desentralisasi. Berbagai solusi yang muncul merupakan hasil dari penekanan yang berbeda terhadap ketiga aspek tersebut.



Bagian 4: Avalanche — Protokol Avalanche, EVM, dan Subnet


Avalanche unggul dalam hal kinerja dan skalabilitas tinggi. Kinerja tinggi dicapai berkat desain Protokol Avalanche itu sendiri, sementara skalabilitas tinggi dimungkinkan oleh dukungannya terhadap penyebaran subnet yang dapat dikustomisasi oleh pengembang. Selain itu, Avalanche memiliki kompatibilitas tinggi dengan EVM, yang bertujuan menarik protokol-protokol matang dari ekosistem Ethereum untuk bermigrasi, sekaligus memudahkan pengembang dalam membangun protokol asli di Avalanche.


4.1 Protokol Avalanche


Berdasarkan penelitian Team Rocket (2018), proses konsensus Protokol Avalanche memang sesuai dengan namanya: dimulai dengan "longsoran acak" (pengambilan sampel acak dan agregasi hasil statistik), yang kemudian berkembang menjadi "longsoran luas" saat konsensus tercapai. Inti protokol ini adalah dengan terus-menerus melakukan sampling terhadap node dalam jaringan dan mengumpulkan respons mereka terhadap suatu proposal, sehingga pada akhirnya semua node jujur (honest nodes) dapat diarahkan ke satu hasil konsensus yang sama.


Protokol Avalanche memiliki beberapa keunggulan, seperti kinerja tinggi, latensi rendah, ketahanan terhadap serangan Byzantine dan double-spend, serta kepentingan penambang dan pengguna yang tidak tumpang tindih sehingga relatif adil.


Namun, ada beberapa masalah potensial yang perlu diperhatikan:


Sampling acak menghasilkan konsensus yang nondeterministik.


Transaksi yang saling bertentangan (konflik) tidak dilindungi.


Memerlukan partisipasi dari sejumlah besar node.


(Untuk penjelasan lebih detail, kunjungi: ipfs.io/ipfs/QmUy4jh5mGNZvLkjies1RWM4YuvJh5o2FYopNPVYwrRVGV)


4.2 Desain Avalanche dan Jembatan Antar-Rantai Nativ


Sumber: Situs Resmi Avalanche


Jaringan utama (mainnet) Avalanche terdiri dari tiga rantai inti:


1. Rantai X (Exchange Chain), bertanggung jawab untuk penciptaan aset dan eksekusi transaksi.

2. Rantai P (Platform Chain), bertugas menyimpan data on-chain, mengoordinasikan node, dan memfasilitasi pembuatan subnet.

3. Rantai C (Contract Chain), yang menangani eksekusi kontrak pintar dan mendukung EVM.


Avalanche Bridge, jembatan lintas-rantai asli Avalanche, memungkinkan transfer aset dari ekosistem Ethereum ke Avalanche. Belakangan ini, jembatan ini juga telah menambahkan dukungan lintas-rantai asli untuk BTC, sehingga aset BTC dapat dimanfaatkan dalam ekosistem DeFi Avalanche.


4.3 Ekosistem


Kompatibilitas tinggi Avalanche dengan ekosistem Ethereum, ditambah insentif berkelanjutan dari yayasan pengembangnya, berhasil menarik banyak proyek asli Ethereum untuk bermigrasi. Di sisi lain, hal ini juga memicu lahirnya berbagai protokol asli Avalanche. Pengguna cukup menambahkan jaringan Avalanche-C ke dompet MetaMask mereka untuk mulai menjelajahi ekosistem Avalanche.


Saat ini, Total Value Locked (TVL) di Avalanche mencapai USD 2,8 miliar. Berikut adalah lima DApp teratas berdasarkan TVL:


Aave (protokol pinjam-meminjam asli Ethereum yang telah di-deploy lintas-rantai ke Avalanche)

Trader Joe (DEX asli Avalanche)

Wonderland (protokol DeFi 2.0 asli Avalanche, merupakan fork dari OlympusDAO)

Benqi (protokol pinjam-meminjam asli Avalanche)

Platypus Finance (protokol pertukaran stablecoin asli Avalanche)


Selain itu, terdapat beberapa protokol asli lain yang cukup menonjol, di antaranya:


Avalaunch (platform launchpad terbesar di Avalanche)

Crabada (protokol GameFi yang paling aktif di Avalanche pada masa lalu)

Yeti Finance (protokol pinjam-meminjam di Avalanche yang mendukung leverage)

Yield Yak (agregator yield di Avalanche)

Step.app (proyek Move-to-Earn di Avalanche)

Ascenders (proyek GameFi bertema RPG di Avalanche)


4.4 Subnet


Avalanche memungkinkan pengembang untuk mendeploy DApp ke dalam subnet, sehingga mereka dapat membangun jaringan aplikasi multi-rantai sendiri. Proses deployment subnet ini relatif sederhana, kompatibel dengan EVM, dan mengandalkan keamanan dari "subset khusus validator" di dalam jaringan Avalanche—yang berarti keamanannya sebagian dibagikan. Saat ini, subnet-subnet belum dapat berkomunikasi langsung satu sama lain, sehingga lebih cocok untuk protokol DApp yang beroperasi secara mandiri dan tidak memerlukan komposabilitas tinggi. DeFi Kingdom menjadi proyek pertama yang mendeploy subnet di Avalanche. Selanjutnya, proyek-proyek seperti Crabada, Step.app, dan Ascenders juga berencana mengadopsi subnet Avalanche.


Bagian 5 BNB Chain: Binance, EVM, dan BAS


BNB Chain memiliki hubungan yang erat dengan Binance, bursa terpusat terbesar di dunia saat ini. Jaringan ini menggunakan arsitektur yang kompatibel dengan EVM dan tengah mengembangkan sidechain bernama BNB Application Sidechain (BAS).


5.1 Arsitektur


Sumber: Binance Blog


BNB Beacon Chain: Bertanggung jawab atas tata kelola BNB Chain (seperti staking dan voting).

BNB Smart Chain (BSC): Kompatibel dengan EVM, merupakan lapisan konsensus dan pusat konektivitas lintas-rantai.

BNB Sidechain (BAS): Solusi berbasis Proof-of-Stake (PoS) yang dibangun di atas BSC, dirancang untuk pengembangan blockchain dan DApp khusus.

BNB ZkRollup (akan datang): Solusi ZkRollup yang diharapkan dapat meningkatkan kapabilitas BSC menjadi blockchain berkinerja sangat tinggi.

BSC Partition Chain (BPC): Mirip dengan Layer-2 di Ethereum, digunakan untuk menampung sebagian komputasi dari BNB Beacon Chain.


5.2 BNB


Berbeda dengan token utama blockchain publik lainnya, BNB tidak hanya berfungsi sebagai aset kripto inti di jaringan BSC, tetapi juga sebagai token utilitas platform Binance. Nilainya tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas di BSC, tetapi juga terkait erat dengan kinerja dan pendapatan bisnis bursa Binance.


Pada November lalu, proposal BEP-95 untuk mekanisme pembakaran BNB telah disetujui. Namun, pembakaran BNB dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan biaya untuk interaksi kontrak pintar yang kompleks, seperti pada proyek GameFi, sehingga bisa menaikkan ambang batas bagi pengguna. Seiring dengan pengembangan BAS oleh BSC, diperkirakan interaksi kontrak pintar berfrekuensi tinggi akan dialihkan ke sidechain di masa depan.


5.3 Ekosistem


Berdasarkan data DefiLlama, Total Value Locked (TVL) di jaringan BSC saat ini mencapai sekitar USD 6 miliar, atau setara dengan 7,8% dari total TVL di seluruh blockchain.


Sumber: DefiLlama


Dalam ekosistem ini, PancakeSwap mendominasi dengan pangsa TVL sebesar 48,86%. Sepuluh proyek dengan TVL tertinggi hampir semuanya merupakan proyek asli BSC, dan tujuh di antaranya telah terdaftar di bursa Binance.


Sumber: DefiLlama


Biaya pengembangan yang relatif rendah di BSC menarik banyak proyek untuk membangun ekosistemnya di sini. Pada puncaknya di November 2021, jumlah transaksi harian sempat mencapai 16 juta.


Sumber: defiprime.com


BSC memiliki banyak proyek DeFi yang aktif (seperti Tranchess), proyek GameFi (seperti Binary X), dan proyek metaverse (seperti SecondLive). Satu-satunya area yang masih perlu dikembangkan adalah pasar NFT yang matang.


Dukungan ekosistem dari BSC sangat kuat. Ini termasuk program MVB yang rutin diadakan untuk memilih dan mendanai proyek-proyek terbaik, serta insentif ekosistem senilai USD 1 miliar yang diluncurkan pada Oktober 2021.


5.4 Sidechain BAS


Menurut penelitian Mehta (2022), setiap rantai BAS akan memiliki 3–7 validator sendiri yang menjalankan konsensus Proof-of-Stake (PoS) dengan mayoritas super (2/3). Setiap rantai akan menggunakan token staking dan utilitasnya sendiri. Selain itu, status dan transisi setiap sidechain akan sepenuhnya independen dari sidechain lainnya.


Komunikasi antar rantai BAS akan memerlukan jembatan (bridge) pihak ketiga. BSC sendiri berencana menggunakan jembatan Celer dengan mekanisme "lock + mint" untuk terhubung ke setiap BAS, dan setiap BAS juga akan saling terhubung dengan mekanisme serupa. (Untuk detail lebih lanjut, lihat Shanav K Mehta, Jump Crypto: Flavors of Standalone Multichain Architecture)

Beberapa proyek yang telah dikonfirmasi akan berpartisipasi dalam BAS antara lain Meta Apes (game battle royale asli BSC), Project Galaxy (platform sertifikasi identitas on-chain lintas blockchain), dan Cube (platform game asli BSC).


Bagian 6 Cosmos: Arsitektur Terbuka, Modularitas, dan Airdrop


Daripada menjalankan satu kontrak pintar di satu blockchain publik dan bersaing dengan ribuan kontrak lainnya untuk sumber daya gas, mengapa tidak menjalankan blockchain sendiri di Cosmos, dengan konsensus yang disediakan oleh validator publik?

— Situs web resmi Cosmos


Sebagai perintis arsitektur multi-rantai, jika harus memilih satu kata untuk menggambarkan filosofi dan ekosistem Cosmos, kata itu adalah: Terbuka.


6.1 Arsitektur Terbuka: Keamanan Bersama dan Akun Lintas Rantai


Diagram arsitektur Cosmos

Sumber: Konsultasi X


Pada diagram di atas, inti dari arsitektur Cosmos adalah mesin konsensus Tendermint di lapisan tengah. Modul pembangkit konsensus yang sudah dikemas ini secara teori dapat dipanggil oleh rantai aplikasi apa pun melalui ABCI (Application Blockchain Interface). (Catatan: ABCI adalah kolom hijau pada gambar yang menghubungkan Tendermint dengan Cosmos Hub di lapisan atas.)


Rantai di lapisan atas terbagi menjadi dua jenis: Hub yang berperan sebagai "router" atau relai utama, dan Zone lainnya yang berfokus pada aplikasi. Kedua jenis rantai ini berkomunikasi melalui protokol IBC (Inter-Blockchain Communication). Fungsi lintas rantai ini kemudian berkembang menjadi akun antar-rantai (inter-chain accounts), memungkinkan pengguna menyelesaikan berbagai operasi lintas rantai dari satu tempat.


Secara teori, arsitektur ini memungkinkan setiap Zone terhubung ke Tendermint via ABCI untuk membentuk rantai yang sepenuhnya independen. Namun, kemandirian juga berarti tanggung jawab penuh atas keamanannya sendiri. Sebuah rantai akan rentan serangan jika tidak memiliki cukup validator yang melakukan staking. Oleh karena itu, setelah meluncurkan Hub pertamanya—Cosmos Hub—banyak Zone memilih untuk langsung terhubung ke sana. Dengan begitu, mereka bisa berbagi keamanan dari banyaknya validator ATOM di Cosmos Hub, sekaligus terhubung secara tidak langsung dengan semua Zone lain dalam ekosistem Cosmos. Dengan cara ini, Cosmos beroperasi sebagai satu kesatuan yang saling berbagi keamanan.


6.2 Cosmos SDK: Toolkit Pengembangan yang Modular


Cosmos SDK yang dikemas dalam bentuk modul-modul terpisah merupakan salah satu toolkit paling ramah bagi pengembang aplikasi blockchain. Dengan memanfaatkan modul-modul umum yang tersedia, developer dapat dengan cepat menyelesaikan bagian-bagian standar dari aplikasi mereka dan fokus mengembangkan modul khusus. Selain itu, SDK juga melakukan standarisasi dan pengemasan modul-modul yang belakangan banyak digunakan, sehingga developer lain bisa memanfaatkannya tanpa harus mengulang pengembangan dari nol.


Sumber: cloud.tencent.com/developer/article/1446970


6.3 Airdrop


Karena berbagi keamanan, pekerjaan validasi untuk rantai aplikasi baru sebagian besar ditangani oleh rantai lain. Sebagai bentuk apresiasi, proyek-proyek baru umumnya melakukan airdrop token mereka kepada pemegang ATOM serta pemegang token di beberapa rantai utama lain (seperti Osmosis, Juno, dan Secret) yang telah melakukan staking.


Selain itu, maraknya airdrop juga membawa dampak lain: munculnya eksperimen dan refleksi mendalam tentang mekanisme airdrop DAO, serta peningkatan tata kelola yang menyertainya.

Beberapa airdrop besar yang tercatat antara lain: Osmosis (4 Juli 2021); Juno (27 Agustus 2021); Evmos (19 April 2022).


Di antara airdrop tersebut, airdrop Juno kemudian memicu kontroversi besar terkait metode tata kelola DAO.


Rangkuman


Cosmos—dengan prinsip keterbukaan, modularitas, dan budaya airdrop-nya—oleh banyak pihak dianggap berpotensi menjadi L0 fondasi bagi seluruh blockchain, sesuai tagline-nya: “Internet of Blockchains”. Namun, konsensus semacam ini harus dibangun setahap demi setahap. Belum diketahui apakah dunia akan memberi cukup waktu bagi Cosmos untuk mewujudkan ambisi besarnya.


Bagian 7 Polkadot: Rantai Relai dan Rantai Paralel, Lelang Slot, serta Hackathon


Polkadot pernah dijuluki “Raja Lintas-Rantai”, namun belakangan istilah ini jarang terdengar. Salah satu alasannya adalah ambisi Polkadot sendiri yang lebih luas dari sekadar lintas rantai: Polkadot ingin membangun jaringan yang mampu mentransmisikan semua data dari seluruh blockchain. Di sisi lain, arah pengembangan Polkadot saat ini lebih condong pada pembangunan proyek-proyek dalam ekosistemnya sendiri, sehingga modelnya mulai menyerupai L1 pada umumnya.


7.1 Arsitektur: Relay Chain dan Parachain


Sumber: Whitepaper Polkadot


Dalam ekosistem multi-chain Polkadot, semua rantai terbagi menjadi dua jenis: relay chain dan parachain. Relay chain berfungsi sebagai tulang punggung yang menyediakan validasi berbasis PoS, serta berbagi daya komputasi dan konsensus. Sementara itu, parachain menjalankan berbagai aplikasi dan terhubung ke relay chain melalui slot khusus. Untuk rantai lain di luar ekosistem, seperti ETH dan BTC, komunikasi dengan relay chain dimungkinkan melalui jembatan (bridges)—sejenis parachain khusus yang dirancang untuk interoperabilitas lintas-rantai.


(Detail teknis lebih lengkap dapat dilihat di whitepaper Polkadot: polkadot.network/PolkaDotPaper.pdf)


7.2 Lelang Slot


Agar dapat menggunakan relay chain dan bergabung dengan ekosistem Polkadot, sebuah proyek harus mengikuti lelang slot—yang jumlahnya terbatas sekitar 100 slot—dengan masa sewa dua tahun. DOT yang berhasil dilelang akan dikunci selama periode tersebut. Halaman 31

Laporan Observasi Inovasi Ekosistem Web3 Global (A Review of Global Web3 Eco Innovation) Lelang slot putaran pertama (Desember 2021) berhasil mengumpulkan total 99.113.200 DOT (8,6% dari total pasokan), yang dimenangkan oleh lima proyek: Acala Network, Moonbeam Network, Astar Network, Parallel Finance, dan Clover Finance. Pada putaran kedua, enam proyek—Efinity, Centrifuge, Composable Finance, HydraDX, Interlay, dan Nodle—memenangkan lelang dengan 27 juta DOT (2,4% dari total pasokan). Dibandingkan putaran pertama, rata-rata pengeluaran turun 77,3%.


Mengingat jumlah slot di jaringan Polkadot terbatas (sekitar 100 slot), banyak jaringan perintis (canary network) yang arsitekturnya mirip dengan Polkadot—seperti Kusama yang cukup terkenal—juga rutin mengadakan lelang slot.


7.3 Hackathon Decoded


Sejak 2020, hackathon Polkadot Decoded diselenggarakan setiap tahun untuk mempromosikan dan mengumumkan perkembangan terbaru dari berbagai proyek di dalam ekosistem.


Rangkuman Singkat


Polkadot telah mengalami transformasi dari “Raja Interoperabilitas” menjadi L0, lalu kembali bergeser menjadi “mirip L1”—perubahan ini mencerminkan evolusi pemikiran dalam mendesain blockchain publik. Namun, berbeda dengan finalitas pencatatan blok yang bersifat mutlak, iterasi dan evolusi sebuah rantai bisa berlangsung tanpa batas.


Bagian 8 Solana: PoH, Ekosistem, dan Insiden Downtime


Di antara blockchain publik utama, Solana memiliki keunikan tersendiri. Dari sudut pandang desain, Solana seolah menjadi “serangan balik” para programmer dari luar komunitas blockchain terhadap rekan mereka di dalam industri. Mekanisme verifikasi asinkron PoH yang khas, penggunaan bahasa pemrograman Rust, infrastruktur DeFi dan NFT yang lengkap dan terintegrasi, serta serangan DDOS—yang umum terjadi di dunia internet—semua ini membentuk karakteristik khas Solana.


8.1 Mekanisme: Rust, PoH, dan “Trade-off Segitiga”


Rust bukanlah bahasa pemrograman utama di dunia blockchain; sebagian besar blockchain menggunakan sistem Solidity berbasis EVM. Namun, dalam survei Stack Overflow terhadap para developer pada 2020, Rust dinobatkan sebagai “bahasa pemrograman paling populer”, dengan sekitar 86% responden menyatakan ingin terus menggunakannya di masa depan. (Lihat Supra Labs: “Panduan Mendalam Bahasa Pemrograman Blockchain: Untuk Developer yang Ambisius”)


Dalam pertemuan antara Solana, Zcash, dan Parity pada 24 September 2018, pendiri Solana merangkum enam alasan mengapa Rust cocok untuk pengembangan blockchain: (1) kecepatannya setara dengan C/C++; (2) keamanan tipe mirip Haskell; (3) tidak memiliki garbage collector—variabel otomatis dibebaskan dari memori begitu keluar dari cakupan (scope); (4) menghilangkan pointer null dan dangling pointer, yang menjadi penyebab crash dan kode tidak aman pada sistem C/C++; (5) aturannya ketat; (6) mendukung pemrograman konkuren. Mekanisme konsensus PoH (Proof of History) Solana merupakan struktur asinkron yang sangat inovatif.


Secara umum, blockchain mengharuskan sinkronisasi penuh jaringan saat memperbarui status—artinya, blok berikutnya hanya dapat dihasilkan setelah semua node menyelesaikan pembaruan secara bersamaan. Hal ini, pada batas tertentu, menurunkan efisiensi tiap node. Untuk memaksimalkan performa tiap node, Solana memperkenalkan jam terdistribusi (sharded clock) dan jam global. Dengan demikian, pembaruan status tidak lagi memerlukan sinkronisasi waktu global; tiap node secara berkala menyelaraskan jam lokalnya dengan jam global.


Selain itu, untuk menyelesaikan masalah kepercayaan dalam transaksi, Solana juga memperkenalkan VDF (Verifiable Delay Function). Setiap kali transaksi dikemas ke dalam blok, PoH mencatat timestamp-nya, sehingga node dapat memverifikasi riwayat operasi di rantai menggunakan VDF. Bahasa Rust yang efisien dan mekanisme konsensus PoH yang mengoptimalkan beban tiap node menciptakan Solana yang “super-cepat”. Dalam segitiga ketidakmungkinan blockchain (desentralisasi, skalabilitas, keamanan), jaringan utama Bitcoin dan Ethereum mengorbankan skalabilitas, sedangkan Solana lebih memilih mengorbankan desentralisasi.


Saat ini, Solana Foundation masih menjadi satu-satunya pengembang node inti di blockchain Solana. Data dari Solana Beach (https://solanabeach.io/) menunjukkan jumlah node Solana telah mencapai 1.793, dengan koefisien Nakamoto sebesar 26. Koefisien Nakamoto sendiri mengacu pada jumlah minimum entitas yang dibutuhkan untuk menguasai suatu subsistem. Artinya, secara teori, jaringan Solana bisa lumpuh jika hanya 26 node yang berhasil dikuasai.


8.2 Ekosistem: Serum dan Metaplex


Berdasarkan informasi resmi dari situs web Solana per 25 Juni, terdapat 301 proyek DeFi (termasuk 175 DEX, 25 mekanisme AMM, dan 150 mekanisme Order Book), 929 proyek NFT (100 di antaranya terkait Metaplex), serta 271 proyek Game yang berjalan di Solana. Secara garis besar, ekosistem ini dapat dibagi menjadi dua: sistem DeFi yang bertumpu pada Serum dan sistem NFT yang dibangun di atas Metaplex.


Dari proyek DeFi, separuhnya merupakan DEX—fakta ini didukung kuat oleh infrastruktur Serum. Serum sendiri adalah DEX berbasis Order Book yang menjadi pusat likuiditas bagi seluruh DEX di Solana.


Dengan kata lain, ketika Anda menempatkan order di DEX mana pun di Solana, pencocokan transaksi akhirnya akan dilakukan oleh Serum. Lawan transaksi Anda adalah seluruh Maker yang tersebar di semua DEX Solana. Mekanisme ini memastikan likuiditas terkonsentrasi, kedalaman pasar yang memadai, dan pada dasarnya semua DEX lain berperan sebagai antarmuka grafis (GUI) untuk Serum. Selain itu, hubungan erat Solana dengan platform terpusat FTX membuka peluang bagi Serum untuk memanfaatkan sebagian likuiditas off-chain.


Jumlah proyek NFT di Solana bahkan lebih dari dua kali lipat proyek DeFi-nya. Dari sisi infrastruktur, Solana mungkin adalah blockchain publik yang paling cocok untuk NFT saat ini. Protokol dasar NFT-nya, Metaplex, memungkinkan pengguna melakukan seluruh proses—mulai dari pencetakan (minting), penetapan harga, hingga peluncuran (distribution)—dalam satu platform.


Di era di mana "segala sesuatu bisa menjadi NFT", kemudahan ini secara signifikan menurunkan hambatan untuk menciptakan NFT. Cukup dengan visi yang matang dan narasi yang menarik, NFT pun siap diluncurkan. Itulah mengapa, saat minat terhadap NFT di Ethereum meredup, popularitas NFT di Solana justru terus meningkat. Pada Mei yang lesu, volume perdagangan OpenSea (di Ethereum) turun 31,6% secara bulanan. Sebaliknya, Magic Eden—platform NFT terbesar di Solana—mencatat pertumbuhan volume 39,79%. Bahkan OpenSea (versi Solana) melonjak 286,02%.


8.3 Masalah Downtime yang Berulang


Meski terkenal dengan throughput (TPS) tinggi dan kecepatan transaksi, jaringan Solana kerap mengalami ketidakstabilan. Beberapa insiden serius terbaru di mainnet antara lain: Pada 1 Mei 2022, lonjakan permintaan hingga 4 juta per detik membuat node kehabisan memori dan produksi blok terhenti hampir tujuh jam. Lalu, pada 26 Mei 2022, terjadi offset waktu blok yang menyebabkan catatan waktu di blockchain tertinggal sekitar 30 menit dari waktu nyata.


Kemudian, pada 1 Juni 2022, mainnet kembali terganggu sekitar 4,5 jam karena gagal mencapai konsensus blok. Secara keseluruhan, telah terjadi puluhan insiden "penurunan kinerja mainnet". (Detail lengkap bisa dilihat di https://status.solana.com/history; pembaruan status node juga tersedia di Twitter: @SolanaStatus.)


Penyebab utamanya adalah aktivitas masif dari game blockchain baru dan proses pencetakan NFT (NFT minting) atau penjualan Genesis NFT, yang menarik banyak "ilmuwan" dan bot mereka. Dengan frekuensi klik puluhan kali per detik dari setiap bot, Solana terus-menerus mengalami serangan DDoS (permintaan tidak valid yang menghambat transaksi sah). Misalnya, insiden downtime 1 Mei juga dipicu serangan bot terhadap Candy Machine, alat minting NFT dari Metaplex. Belakangan, popularitas StepN juga berkontribusi pada kemacetan jaringan. Solana kini telah menerapkan solusi: dompet yang mengirim transaksi NFT tidak valid akan didenda 0,01 SOL.


Dengan demikian, akar masalah Solana terletak pada dua faktor: teknologi dasar dan kepanasan ekosistem NFT. Solana mungkin sanggup menahan robot arbitrase dari likuidasi DeFi, tetapi kewalahan menghadapi robot NFT.


Rangkuman


Jika kecepatan tinggi dan asinkronisitas adalah keunggulan Solana, maka downtime adalah konsekuensinya. Namun, dibandingkan tahun lalu, kinerja Solana perlahan membaik: TPS pulih dan kegagalan transaksi berkurang. Mungkin seperti kata Anatoly Yakovenko, pendiri Solana Labs, ini hanya "sekilas rasa sakit". Berkat kecepatannya, kombinasi DeFi, NFT, dan Game di Solana berpotensi menghasilkan inovasi yang tak terduga.


Bagian 9: Blockchain Tiongkok — Koleksi Digital + Blockchain Konsorsium


Pasca insiden regulasi 2021, fokus blockchain di Tiongkok bergeser ke platform koleksi digital (NFT) dan penerapan blockchain konsorsium dengan jumlah node terbatas—yang umumnya dikendalikan oleh pengembang. Berdasarkan statistik pengacara Guo Zhihao terhadap 100 platform teratas, partisipasi perusahaan besar terbilang signifikan.



Di sisi lain, ada juga platform seperti Bilibili dan Bigverse (NFT China) yang menerbitkan NFT berbasis ETH, serta berbagai perusahaan yang memanfaatkan jaringan Solana dan Polygon.


Dalam hal desentralisasi, blockchain konsorsium masih menuai perdebatan. Kegagalan proyek Libra milik Meta (dulu Facebook) sering dijadikan contoh kegagalan model ini. Namun, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa blockchain konsorsium tidak memiliki tempat di era Web3 saat ini.


Kesimpulan


Sejarah blockchain hampir tak terpisahkan dari sejarah public chain. Berbagai iterasi public chain yang muncul mencerminkan persepsi dan solusi berbeda dari masing-masing komunitas terhadap tantangan yang ada. Namun, seperti halnya semua solusi di dunia, solusi lama suatu saat bisa berubah menjadi masalah baru. Satu hal yang pasti tentang masa depan Web3 adalah: public chain akan tetap menjadi inti infrastruktur dasar dalam jangka panjang, dan akan terus berevolusi melalui proses iterasi yang berkelanjutan.